Sarana-Sarana Untuk Mendapatkan Ilmu Makrifat Ilahi

Sebagai jawaban masalah ini, hendaknya jelas bahwa di sini tidak akan mungkin membahas apa yang telah diterangkan Al-Quran Syarif secara luas tentang hal itu, namun sebagai contoh akan diuraikan dalam kadar tertentu, Jadi hendaknya dimaklumi bahwa Al-Quran Syarif telah menetapkan tiga macam ilmu yaitu: ‘Ilmul-Yaqin, ‘Ainul-Yaqin, dan Haqqul-Yaqin. Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya dalam menafsirkan surah At-Takaatsur dan telah diterangkan bahwa ‘Ilmul-Yaqin ialah mengetahui benda tertentu melalui suatu perantara dan tidak secara langsung. Misalnya kita menarik kesimpulan tentang adanya api karena melihat asap, sungguh pun kita tidak melihat api itu. Jadi, inilah yang disebut ‘Ilmul-Yaqin. Dan apabila api itu sendiri yang kita lihat maka hal demikian menurut keterangan Al-Quran Syarif –yakni Surah At-Takaatsur– di antara tingkattingkat ilmu disebut ‘Ainul-Yaqin. Kini tidak perlu lagi surah At-Takaatsur ditulis kembali. Para pemerhati silakan menyimak tafsir tersebut pada tempatnya. Kini, hendaknya diketahui bahwa ilmu jenis pertama ialah ‘Ilmul-Yaqin, sarananya adalah akal dan keterangan-keterangan(manqulat). Mengenai para penghuni neraka Allah Ta’ala berfirman:

  [224] “Dan, mereka akan berkata, “Andaikata kami mendengarkan atau mempergunakan akal, niscaya kamii tidak akan termasuk di antara penghuni Api neraka yang menyala-nyala.”(QS.Al-Mulk, 67:11). 
Yakni, para penghuni neraka berkata, “Sekiranya kami bijak dan menelaah agama serta akidah dengan cara-cara yang masuk akal atau mendengarkan dengan penuh perhatian tulisan-tulisan serta ucapan-ucapan orang-orang bijak dan para peneliti maka tentu hari ini kami tidak akan berada di dalam neraka”. Ayat ini sesuai dengan Continue reading “Sarana-Sarana Untuk Mendapatkan Ilmu Makrifat Ilahi”

Advertisements

Hikmah Sumpah Allah Ta’ala Dengan Berbagai Benda

Di sini pun hendaknya diingat, bahwa sumpah Tuhan dengan matahari, bulan dan lain-lain mengandung rahasia yang dalam sekali, sehingga kebanyakan para penentang kami –disebabkan ketidak-tahuan mereka– mengecam: apa perlunya Tuhan bersumpah dan mengapa Dia bersumpah dengan makhluk? Akan tetapi karena pemahaman mereka bersifat ardhi (bumi) dan bukan bersifat samawi (langit) maka mereka tidak dapat memahami hikmah yang bertalian dengan rahasia-rahasia kebenaran. Jadi, hendaknya jelas bahwa tujuan sebenarnya dari persumpahan itu ialah orang yang bersumpah biasanya ingin mengemukakan kesaksian bagi pernyataannya. Sebab andaikata bagi suatu pernyataan tidak terdapat kesaksian lain maka sebagai gantinya manusia akan bersumpah atas nama Allah Ta’ala. Sebab Allah adalah ‘Ãlimul-gaĩb (mengetahui halhal yang gaib) dan merupakan saksi pertama dalam setiap perkara. Seakan-akan orang itu mengemukakan kesaksian Tuhan sedemikian rupa sehingga Allah Ta’ala tetap saja diam sesudah sumpah itu dan tidak menurunkan azab atas dirinya maka berarti Allah telah memberi cap restu terhadap keterangan orang tersebut, seperti halnya para saksi. Oleh karena itu makhluk hendaknya jangan bersumpah dengan makhluk lain, sebab makhluk bukanlah ‘aalimul-gaib dan tidak pula ia berkuasa untuk memberikan hukuman atas sumpah palsu. Akan tetapi sumpah Allah di dalam ayat ini tidak dapat diartikan sama dengan bersumpahnya makhluk, melainkan ini merupakan sunnatullah (kebiasaan Allah). Yakni ada 2 macam pekerjaan Allah, pertama pekerjaan yang nyata, yang dapat dipahami oleh semua orang dan tidak ada seorang pun yang Continue reading “Hikmah Sumpah Allah Ta’ala Dengan Berbagai Benda”

Pengaruh Pengamalan Hukum Syariat di Kehidupan Ini dan di Kehidupan Yang Akan Datang

Jawaban permasalahan ini adalah apa yang telah kami terangkan sebelumnya, yaitu peranan syariat yang benar dan sempurna dari Allah Ta’ala pada hati manusia di dalam kehidupan mereka di dunia ini ialah: mengubahnya dari keadaan seperti binatang menjadi manusia, kemudian dari manusia menjadi manusia berakhlak, lalu dari manusia berakhlak menjadi manusia ber-Tuhan. Dan lagi, satu fungsi pengamalan syariat dalam kehidupan di dunia ini adalah, dengan mematuhi syariat yang benar pengaruh orang yang demikian terhadap umat manusia ialah: ia mengenali hak-hak mereka tahap demi tahap, dan menggunakan kemampuan adil, ihsaan, dan solidaritas sesuai tempatnya masingmasing, apa pun yang telah diberikan Tuhan kepadanya berupa ilmu, makrifat, harta-benda dan kemudahan-kemudahan, ia mengikut-sertakan semua orang di dalam nikmat-nikmat tersebut sesuai martabat masing-masing. Ia memancarkan seluruh cahayanya kepada sekalian umat manusia bagaikan matahari, dan laksana bulan ia menerima nur (cahaya) dari Wujud Yang Maha Agung lalu menyampaikannya kepada orang-orang lain. Laksana siang ia terang-benderang menunjukkan jalan-jalan kebaikan dan kebajikan kepada orang-orang. Laksana malam ia menyelimuti setiap yang lemah dan memberikan ketentraman kepada orang-orang yang penat dan letih. Laksana langit ia memberikan tempat di bawah naungannya kepada setiap orang yang memerlukan dan pada waktu-waktunya ia mencurahkan hujan rahmatnya. Laksana bumi dengan penuh kerendahan hati ia menjadi lantai pijakan bagi kebahagiaan-kebahagiaan setiap orang, dan ia menarik semua orang ke dalam curahan kedermawanannya serta menghidangkan aneka buah-buahan rohani kepada mereka. Jadi, inilah dampak syariat yang sempurna. Yaitu mengantarkan orang yang mematuhi syariat yang sempurna tersebut sampai pada titik kesempurnaan hak Allah dan hak sesama manusia. Ia menjadi hilang-sirna dalam Allah dan menjadi pengkhidmat sejati bagi makhluk. Ini adalah dampak Continue reading “Pengaruh Pengamalan Hukum Syariat di Kehidupan Ini dan di Kehidupan Yang Akan Datang”

Sarana-Sarana Untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia

Ya, jika yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dan bagaimana tujuan itu dapat dicapai serta dengan sarana-sarana apa manusia dapat meraihnya? Maka hendaklah jelas bahwa sarana pertama yang paling besar yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan itu adalah: mengenal Allah Ta’ala secara benar dan mengimani Tuhan yang hakiki. Sebab jika langkah pertama saja sudah salah dan seseorang, misalnya menjadikan burung atau hewan atau unsur-unsur zat atau manusia sebagai tuhan maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa pada langkah-langkah berikutnya dia akan menempuh jalan yang lurus? Tuhan yang hakiki memberikan pertolongan kepada orang-orang yang mencari-Nya. Akan tetapi bagaimana mungkin benda mati dapat memberikan pertolongan kepada sesuatu yang mati? Dalam hal ini Allah Ta’ala memberikan tamsil (perumpamaan) yang indah, yaitu:

[207] “Hanya bagi Dia-lah doa yang benar. Dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, tidaklah menjawab mereka sedikit jua pun. Keadaan mereka tak ubahnya seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air, supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya. Dan doa orangorang kafir itu akan sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d, 13:15)

Yakni, Dia-lah Tuhan Yang Hakiki yang pantas dimintai doa, yang berkuasa atas tiap sesuatu. Dan orang-orang yang berseru kepada wujud-wujud selain Dia sedikit pun tidak dapat menjawab mereka. Keadaan mereka seperi Continue reading “Sarana-Sarana Untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia”

Tujuan Sebenarnya Manusia Hidup di Dunia dan Sarana untuk Dapat Mencapainya

Jawaban terhadap masalah ini adalah, manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya –karena pengetahuan yang dangkal serta kemampuannya yang terbatas– menetapkan berbagai tujuan bagi hidupnya, dan mereka berjalan hanya sampai pada tujuan-tujuan dan cita-cita duniawi belaka lalu berhenti. Akan tetapi tujuan yang ditetapkan Allah Ta’ala di dalam Kalam Suci-Nya adalah sebagai berikut:

[204] “Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat, 51:57)
Yakni, Aku telah menciptakan jin dan manusia agar mereka mengenal-Ku dan menyembah-Ku. Jadi, menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta’ala dan meraih ma’rifat Allah Ta’ala serta menjadi milik Allah Ta’ala. Jelas bahwa manusia tidak memperoleh kedudukan untuk –dengan ikhtiarnya– menetapkan sendiri tujuan hidupnya. Sebab manusia bukan atas kemauannya sendiri datang dan pula bukan atas kemauannya sendiri akan kembali, melainkan dia hanyalah makhluk (hasil ciptaan), sedangkan Wujud yang menciptakan serta menganugerahkan kemampuan yang cemerlang dan lebih tinggi kepadanya dibandingkan dengan seluruh hewan, Dia jugalah yang telah menetapkan suatu tujuan hidup baginya. Tidak peduli apakah manusia mengerti atau tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu untuk menyembah Tuhan dan meraih ma’rifat Allah Ta’ala serta menjadi fanã (larut) di dalam Allah Ta’ala, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di satu tempat lain dalam Al-Quran:

 [205] “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali-Imran, 3:20)

[206] “Turutilah fitrat yang diciptakan Allah, yang sesuai dengan fitrat itu Dia telah membentuk umat manusia………. Itulah agama yang benar.” (QS. Ar-Rum, 30:31)

Yakni, agama yang di dalamnya terdapat ma’rifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya dalam bentuk terbaik adalah Islam. Dan Islam telah ditanamkan Continue reading “Tujuan Sebenarnya Manusia Hidup di Dunia dan Sarana untuk Dapat Mencapainya”

Tiga Alam

Di sini hendaknya jelas bahwa menurut Al-Quran Syarif terbukti ada tiga macam alam: (1) Alam pertama ialah dunia yang dinamakan Alam Kasab (alam usaha) dan Nisya Ula (alam kejadian pertama). Di dunia inilah manusia melakukan kebaikan atau keburukan. Walaupun di alam kebangkitan akan ada kemajuankemajuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, tetapi itu hanyalah merupakan karunia Tuhan. Di sini tidak ada campur-tangan upaya manusia. (2) Alam kedua dinamakan Barzakh. Sebenarnya kata Barzakh di dalam bahasa Arab ditujukan kepada sesuatu yang ada di tengah-tengah dua benda. Jadi dikarenakan periode ini ada di antara alam kebangkitan dan alam kejadian pertama (Nisya Ula) untuk itulah dinamakan Barzakh. Akan tetapi kata itu sejak awal dan sejak dunia diciptakan telah digunakan untuk menunjukkan alam pertengahan. Oleh sebab itulah di dalam kata tersebut terselubung suatu kesaksian agung tentang adanya alam pertengahan itu. Kami telah membuktikan di dalam buku Minan-ur-Rahmãn bahwa perkataan-perkataan bahasa Arab adalah keluar dari mulut Tuhan, dan inilah satu-satunya bahasa di dunia yang merupakan bahasa Tuhan Yang Mahasuci, bahasa yang sudah ada sejak awal, sumber segala Ilmu Pengetahuan, induk segala bahasa, dan merupakan singgasana awal dan terakhir bagi wahyu Tuhan. Dikatakan sebagai singgasana awal bagi wahyu Tuhan, karena seluruh bahasa Arab merupakan Kalam Tuhan yang sejak dari awal menyertai Tuhan. Kemudian Kalam itu turun ke dunia dan dunia telah menjadikannya sebagai bahasa Continue reading “Tiga Alam”

Tiga Macam Ilmu

Di dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala menerangkan dengan jelas bahwa bagi orang-orang jahat di dunia ini ada kehidupan neraka terselubung. Dan jika mereka memperhatikannya mereka akan melihat nerakanya masing-masing di dunia ini juga. Dan di sini Allah Ta’ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yakni: ‘IlmulYaqin, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul-Yaqin. Agar umum memahami, berikut ini Continue reading “Tiga Macam Ilmu”