Sarana Untuk Memperoleh Ilmu Sempurna Adalah Ilham Allah Ta’ala

Wahai saudara-saudara yang saya cintai! Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melawan kehendak Tuhan. Pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa sarana untuk memperoleh ilmu sempurna adalah ilham Allah Ta’ala yang telah diperoleh para nabi suci Allah Ta’ala. Kemudian sesudah itu Tuhan yang merupakan sungai karunia sama sekali tidak berkehendak memasang segel penutup pada ilham itu selanjutnya guna membinasakan dunia dengan cara demikian, melainkan pintupintu ilham dan mukalamah dan mukhatabah senantiasa terbuka. Ya, carilah pintu-pintu itu melalui jalannya masing-masing, barulah kalian akan menemukannya dengan mudah. Air kehidupan itu turun dari Langit dan menetap pada tempatnya yang layak. Sekarang, apa yang seharusnya kalian lakukan agar kalian dapat meminum air itu? Yang seharusnya kalian lakukan adalah, capailah mata-air itu dengan jatuh bangun, kemudian letakkanlah mulut kalian pada mata air itu supaya kalian diminumkan air kehidupan tersebut. Segala keberuntungan manusia adalah, di mana pun terlihat cahaya maka dia berlari ke arah itu. dan di mana pun nampak jejak sahabatnya yang hilang, ia akan menempuh jalan itu. Kalian menyaksikan bahwa cahaya selamanya turun dari langit dan menerpa bumi. Demikian pula cahaya hakiki petunjuk turun dari Langit juga. Ucapan-ucapan dan dugaan-dugaan manusia sendiri tidak dapat memberikan makrifat sejati kepadanya. Apakah kalian dapat menemukan Tuhan tanpa adanya penampakkan Ilahiyah? Apakah kalian dapat melihat dalam kegelapan tanpa adanya cahaya langit? Seandainya dapat, maka mungkin di tempat ini pun kalian akan dapat melihat. Akan tetapi walau pun mata kita dapat melihattetapi kita tetap saja memerlukan cahaya langit. Dan walaupun kita dapat mendengar, kita tetap saja memerlukan udara yang bergerak dari arah Tuhan. Tuhan yang diam dan membiarkan segala sesuatu bergantung pada dugaan-dugaan kita, bukanlah Tuhan yang sejati. Justru Tuhan yang sempurna dan hidup adalah Tuhan yang memberitahukan sendiri tentang keberadaan Wujud-Nya. Jendela-jendela langit sedang akan terbuka, fajar shidiq hampir menyingsing. Beberkatlah mereka yang bangkit duduk dan kini mencari Tuhan yang sejati. Itulah Tuhan yang tidak mengenal perubahan dan tidak pernah tertimpa musibah, yang cahaya keperkasaan-Nya tidak pernah pudar. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran Syarif:

[235] “Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi.”(QS.An-Nur, 24:36).

Yakni, Tuhan-lah Yang setiap saat merupakan cahaya langit dan cahaya bumi. Cahaya dari-Nya menerpa semua tempat. Dia-lah Matahari bagi matahari, Dia-lah Nyawa bagi seluruh makhluk bernyawa yang ada di dunia. Dia-lah Tuhan yang sejati dan yang hidup. Beberkatlah orang yang menerimanya. Sarana ketiga untuk memperoleh ilmu ialah hal-hal yang terdapat dalam martabat Haqqul-Yaqin, yaitu segala penderitaan, musibah dan kesusahan yang dialami para nabi serta orang-orang shalih di tangan musuh, atau atas keputusan samawi. Akibat penderitaan-penderitaan dan kesusahankesusahan semacam ini maka semua petunjuk syariat yang tadinya ada dalam hati manusia hanya secara ilmu belaka akan berlaku padanya dan berubah ke dalam bentuk amalan. Kemudian, setelah tumbuh dan berkembang dari lahan amal sampailah petunjuk-petunjuk syariat ke taraf kesempurnaan total, dan wujud si pelaku amal itu sendiri menjadi suatu penjelmaan sempurna petunjuk-petunjuk Tuhan. Semua akhlak: kepemaafan, pembalasan (balas dendam), kesabaran, dan kasih-sayang –yang tadinya memenuhi otak dan hati, kini seluruh bagian tubuh memperoleh jatah dari akhlakakhlak itu berkat penerapan secara amal, dan menggoreskan gambaran serta jejak– jejaknya setelah berlaku pada seluruh tubuh, sebagaimana Allahs.w.t. berfirman:

 [236] “Dan, sesungguhnya akan Kami beri kamu cobaan dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta-benda dan jiwa dan buah-buahan; tetapi, hai Rasul, berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa suatu musibah tidak gelisah, bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka pula-lah yang mendapat petunjuk.”(QS.Al-Baqarah, 2:156158). [237] “Kamu pasti akan dicobai dalam harta-bendamu dan jiwamu, dan niscaya kamu akan mendengar banyak hal yang menyakitkan hati dari orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu dan juga dari orang-orang musyrik. Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, maka hal demikian sungguh merupakan urusan ketetapan hati..”(QS.Ali-Imran, 3:187).

Yakni, Kami akan menguji kalian dengan ketakutan dan kelaparan dan kerugian harta dan kehilangan jiwa dan kegagalan usaha dan kematian anak keturunan. Yakni semua penderitaan ini akan menimpa kalian sebagai keputusan takdir atau karena perbuatan tangan musuh. Adalah kabar suka bagi orang-orang yang pada waktu tertimpa musibah hanya berkata, “Kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah-lah kami akan kembali.” Bagi mereka terdapat berkat dan rahmat dari Allah, dan mereka inilah orang-orang yang telah mencapai kesempurnaan petunjuk.

Yakni, sekedar memiliki ilmu yang memenuhi hati dan otak tidaklah berarti apa-apa. Justru pada hakikatnya ilmu adalah sesuatu yang turun dari otak lalu memberikan budaya serta warna kepada segenap bagian tubuh, dan mewujudkan seluruh ingatan dalam bentuk amal. Jadi, sarana untuk memperkokoh ilmu dan untuk mengembangkannya ialah menuangkan ilmu itu ke dalam seluruh bagian tubuh dalam bentuk amalan. Tidak ada ilmu yang paling rendah sekali pun dapat mencapai kesempurnaannya tanpa penerapan secara amal. Misalnya, sejak lama kita berpendapat bahwa memasak roti itu adalah pekerjaan yang sangat mudah dan tidak pelik. Pekerjaan itu hanya sekedar membuat adonan tepung gandum, dan dari adonan itu diambil sekepal cukup untuk sepotong roti, lalu dileberkan dengan menghimpitnya pada kedua telapak tangan, kemudian ditaruh di atas loyang, lalu dibolak-balik di atas api supaya bakarannya merata maka roti pun akan matang. Itu hanya teori ilmu kita saja. Tetapi apabila kita tanpa pengalaman mulai memasak, maka pertama-tama kesulitan yang akan kita hadapi ialah membuat adonan yang bagus, karena jika tidak maka bisa keras seperti batu atau terlalu lembek sehingga tidak dapat digunakan dengan semestinya. Dan andaikata sesudah dipukul-pukul dan dibanting-banting kita berhasil juga menyiapkan adonan maka roti itu ada sebagian yang hangus dan sebagian lagi masih mentah. Di bagian tengah tebal dan di bagian pinggir tidak merata, padahal sudah 50 tahun kita selalu menyaksikan roti dimasak. Ringkasnya, hanya dengan bekal ilmu saja yang belum pernah dipraktekkan kita akan menyia-nyiakan berkilo-kilo tepung gandum. Jadi, tatkala dalam hal-hal kecil saja pun sudah demikian keadaan ilmu kita, maka bagaimana mungkin kita dapat bertumpu sepenuhnya pada ilmu semata dalam perkara-perkara besar tanpa penerapan dan praktek secara amalan. Jadi, di dalam ayat-ayat ini Allah Ta’ala mengajarkan bahwa, “Musibah-musibah yang Aku timpakan kepada kalian itu pun merupakan sarana ilmu dan pengalaman. Yakni dengan itu ilmu kalian akan menjadi sempurna.” Dan kemudian lebih lanjut Dia berfirman, “Kalian akan diuji juga dalam harta dan jiwa kalian. Orang-orang akan merampas harta kalian, akan membunuh kalian dan kalian akan sangat diganggu melalui tangan orang-orang Yahudi, Nashrani dan orang-orang musyrik. Mereka akan melontarkan kata-kata yang sangat menghina mengenai kalian. Jadi, apabila kalian sabar dan menghindari hal-hal yang bukan-bukan maka sikap demikian itu merupakan suatu keteguhan dan kesatriaan. Makna keseluruhan ayat ini ialah, ilmu yang beberkat yaitu ilmu yang memperlihatkan kecemerlangannya sampai ke taraf amal terapan. Sedangkan ilmu yang sia-sia ialah yang tetap terkurung dalam batas ilmu saja namun tidak pernah mencapai taraf penerapan secara amalan. Hendaknya diketahui bahwa seperti halnya harta bertambah dan berlipat-ganda melalui perniagaan, demikian pula ilmu akan mencapai kesempuraan rohaniahnya melalui terapan amal. Jadi, terapan amal merupakan sarana utama untuk menyampaikan ilmu ke taraf sempurna. Melalui terapan di dalam ilmu akan timbul cahaya. Dan pahamilah, sarana apa lagi untuk mencapai taraf Haqqul-Yaqin ilmu? Tidak lain adalah menguji segala sisinya (seginya) secara amal terapan. Demikianlah yang telah berlaku dalam Islam. Segala sesuatu yang telah diajarkan Allah Ta’ala kepada manusia dengan perantaraan Al-Quran Syarif, kepada mereka diberi kesempatan untuk mencemerlangkan ajaran tersebut dalam bentuk amal terapan serta memperoleh cahaya sepenuhnya dari itu.

Sumber : Buku FILSAFAT AJARAN ISLAM, Karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Qadian, (1835-1908). Penerbit: Neretja Press

Penerjemah : Mukhlis Ilyas, Penyunting : H. Abdul Basit

Cetakan ke-5: Jakarta, Januari 2016.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s