Penceramah Memperoleh Anugerah Mukalamah dan Mukhatabah Ilahiyah

Saya akan merasa berbuat aniaya terhadap umat manusia seandainya pada saat ini saya (kami) tidak menyatakan bahwa derajat yang definisi-definisinya telah saya uraian dan martabat mukalamah dan mukhatabah yang baru saja saya terangkan secara rinci itu, anugerah Ilahi telah melimpahkannya kepada saya, supaya saya memberi penglihatan kepada orang-orang yang buta, dan kepada para pencari memberitahukan alamat sesuatu yang telah hilang itu, dan memperdengarkan kabar suka kepada mereka yang mengakui kebenaran mengenai mata air suci yang disebut-sebut oleh banyak orang namun sedikit yang menemukannya. Saya ingin meyakinkan para pendengar bahwa Tuhan –yang dengan menemukan-Nya timbul keselamatan dan kebahagiaan abadi bagi manusia– sama sekali tidak akan dapat ditemukan tanpa mengikuti ajaran Al-Quran Syarif. Ah, seandainya orang-orang melihat apa yang telah saya lihat, mendengar apa yang telah saya dengar, dan meninggalkan dongengan-dongengan serta berlari ke arah kebenaran. Sarana ilmu sempurna yang melaluinya Tuhan akan tampak, air pembilas kotoran yang melaluinya segenap keraguan akan lenyap, dan cermin yang melaluinya akan tampak Wujud Maha Agung itu adalah mukalamah dan mukhatabah Ilahiyah yang baru saja saya uraian. Siapa saja yang di dalam ruhnya terdapat kedambaan untuk meraih kebenaran, bangkit dan carilah. Saya mengatakan dengan sebenarnya, jika di dalam ruh timbul gejolak pencarian sejati dan di dalam hati timbul kehausan hakiki maka orang-orang hendaknya mencari jalan ini dan sibuk dalam upaya untuk menemukannya. Akan tetapi dari arah mana jalan ini akan terbuka, dan dengan obat apa tirai ini akan tersingkap? Saya pastikan kepada para pencari kebenaran bahwa hanya Islam sajalah yang memberikan kabar suka tentang jalan itu, sedangkan umat-umat lainnya sejak lama telah memasang segel penutup ilham Ilahi. Jadi, pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa segel ini bukanlah berasal dari Tuhan melainkan suatu dalih yang diciptakan oleh manusia karena dia sendiri tidak menerimanya. Dan pahamilah dengan seyakin-yakinnya, bahwa sebagaimana kita tidak mungkin dapat melihat tanpa mata, atau mendegar tanpa telinga, atau berbicara tanpa lidah, demikian pula kita tidak mungkin dapat melihat Wajah Sang Kekasih Tersayang itu tanpa Al-Quran Syarif. Dahulu saya muda, sekarang sudah tua, namun saya tidak menemukan seorang pun yang telah berhasil meneguk minuman dari mangkuk makrifat yang nyata itu tanpa melalui mata air suci ini.

Sumber : Buku FILSAFAT AJARAN ISLAM, Karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Qadian, (1835-1908). Penerbit: Neretja Press

Penerjemah : Mukhlis Ilyas, Penyunting : H. Abdul Basit

Cetakan ke-5: Jakarta, Januari 2016.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s