Khasiat Zanjabil

Di sini hendaklah jelas pula bahwa menurut ilmu ketabiban zanjabil merupakan obat yang dalam bahasa Hindi disebut Sunth. Zanjabil banyak memberi kekuatan pada daya panas tubuh dan menghentikan disentri. Dan dinamakan zanjabil karena memberikan kekuatan serta menimbulkan panas sedemikian rupa kepada orang yang lemah, sehingga ia mampu memanjat gunung-gunung. Maksud Allah Ta’ala memaparkan ayat-ayat yang berlawanan arah ini __di satu tempat memaparkan masalah kafur dan di tempat lainnya masalah zanjabil__ adalah untuk menjelaskan kepada hamba-hamba-Nya, bahwa tatkala manusia bergerak dari dorongan-dorongan nafsu menuju ke arah kebaikan, maka pertama-tama kondisi yang timbul setelah gerakan itu adalah lumpuhnya unsur-unsur beracun yang ia miliki, dan dorongandorongan nafsu mulai berkurang, seperti halnya unsur-unsur beracun yang dilumpuhkan oleh kafur. Oleh karena itu kafur bermanfaat untuk penyembuhan penyakit kolera dan typhus. Dan kemudian ketika gejolak-gejolak unsur-unsur berbahaya telah lenyap sama sekali serta kesehatan rapuh yang bercampur kelemahan telah dicapai, maka tahapan yang kedua adalah orang sakit yang lemah itu akan mendapatkan kekuatan dari serbat zanjabil. Dan serbat zanjabil merupakan perwujudan keindahan serta kecantikan Allah Ta’ala, yang merupakan makanan bagi ruh.
Apabila manusia memperoleh kekuatan dari perwujudan itu maka ia akan mampu memanjat puncak-puncak yang tinggi serta memperlihatkan pekerjaan-pekerjaan besar yang begitu menakjubkan di jalan Allah Ta’ala. Sebab seseorang sama sekali tidak akan sanggup memperlihatkan pekerjaan demikian selama di dalam hatinya belum terdapat api kecintaan. Jadi, di sini untuk menjelaskan kedua keadaan itulah Allah Ta’ala telah menggunakan kedua kata bahasa Arab tersebut. Pertama kafur, yang berarti sesuatu yang menekan, dan yang kedua zanjabil yang berarti sesuatu yang mendaki. Dan di jalan ini pun bagi para pencari Tuhan terdapat kedua keadaan itu. Ayat selanjutnya adalah:

[167] “Sesungguhnya, Kami telah menyiapkan bagi orang-orang kafir rantai dan belenggu-leher dari besi dan api yang menyala-nyala.” (QS. Ad-Dahr, 76:5).

dalam kondisi tidak layak dan tenggelam dalam pekerjaanpekerjaan buruk itulah sebabnya ketiga bencana ini Dia letakkan pada mereka. Dan di sini juga diisyaratkan, bahwa apabila manusia melakukan suatu perbuatan maka bersesuaian dengan itu Allah Ta’ala pun dari pihak-Nya melakukan suatu perbuatan. Misalnya, pada saat manusia menutup semua pintu kamarnya maka sesudah perbuatan manusia itu perbuatan Allah Ta’ala adalah Dia akan menciptakan kegelapan di dalam kamar tersebut. Oleh karena hal-hal tersebut di dalam hukum kudrat Allah Ta’ala telah ditetapkan sebagai dampak mutlak bagi perbuatan-perbuatan kita, kesemuanya itu merupakan perbuatan Allah Ta’ala, karena Dia-lah yang merupakan sebab dari segala sebab. Demikian pula misalnya jika seorang menelan racun mematikan maka setelah perbuatan itu perbuatan Allah Ta’ala adalah Dia mematikan orang tersebut. Demikian juga jika seseorang melakukan perbuatan tak senonoh yang dapat mendatangkan penyakit menular maka setelah perbuatan itu Allah Ta’ala adalah Dia akan membuat penyakit menular itu menjangkiti orang tersebut. Jadi, sebagaimana di dalam kehidupan duniawi kita tampak jelas bahwa bagi setiap perbuatan kita terdapat suatu akibat yang mutlak, dan akibat itu merupakan perbuatan Allah Ta’ala, demikian pula berkenaan dengan kerohanian pun berlaku hukum serupa. Sebagaimana Allah Ta’ala dengan jelas berfirman di dalam kedua tamsil berikut:
[168] “Dan tentang orang-orang yang berjuang untuk bertemu dengan Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut, 29:70).

[169] “Maka apabila mereka menyimpang dari jalan yang benar, Allah pun menyebabkan hati mereka menyimpang.” (QS. As-Shaf, 61:6).

Yakni, orang-orang yang mengamalkan perbuatan ini –yaitu mereka yang telah berusaha keras mencari Allah Ta’ala– maka bagi perbuatan itu sikap Kami secara mutlak adalah Kami akan menunjukkan jalan Kami kepada mereka. Dan orang-orang yang memilih jalan bengkok serta tidak ingin menempuh jalan lurus maka sikap Kami yang bersesuaian dengan itu adalah Kami akan membengkokkan hati mereka. Kemudian untuk lebih memperjelas keadaan ini Dia berfirman:

[170] “Dan barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga, dan bahkan akan lebih tersesat dari jalan.” (QS.Bani Israil, 17:73).

Yakni, barangsiapa yang buta di dunia ini maka di akhirat pun ia akan tetap buta, bahkan lebih buruk dari orang-orang buta. Ini mengisyaratkan bahwa bagi hamba-hamba shalih penampakan Tuhan akan tampil di dunia ini juga, dan di sini pulalah mereka meraih penampakkan Sang Kekasih itu, yang untuk-Nya mereka meninggalkan segala sesuatu. Ringkasnya, makna ayat itu adalah bahwa landasan kehidupan surgawi justru tertanam di dunia ini juga, sedangkan (demikian pula) akar kebutaan jahannami terletak di dalam kehidupan kotor lagi jijik yang ada di dunia ini juga. Kemudian Dia berfirman:

[171] “Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh bahwasanya untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.” (QS. Al-Baqarah, 2:26).

Yakni orang-orang yang beriman dan beramal shalih mereka merupakan pewaris kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalam ayat ini Allah Ta’ala telah menamsilkan iman dengan kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.Jadi, jelas di sini telah diungkapkan dalam warna falsafah yang tinggi, bahwa seperti hubungan sungai-sungai dengan kebun demikian pulalah hubungan amal perbuatan dengan iman. Jadi, sebagaimana sebuah kebun tidak dapat hidup dengan subur tanpa air, demikian pula iman tanpa amal shalih tidak dapat dikatakan iman yang hidup. Andaikata iman ada namun tidak ada amal maka sia-sialah keimanan itu. Dan apabila amal perbuatan ada sedangkan iman tidak ada, maka amal perbuatan itu merupakan pamer.Hakikat surga menurut Islam ialah, bahwa surga merupakan bayangan amal dan iman di dunia ini. Surga bukanlah suatu barang baru yang didapat manusia dari luar. Justru surga bagi manusia muncul dari dalam diri manusia sendiri. Dan surga bagi setiap orang merupakan iman dan amal shalihnya, yang sejak di dunia ini juga mulai terasa kelezatannya, serta seluruh kebun iman dan amalamalnya kelihatan secara terselubung. Dan sungai-sungai pun kelihatan. Kebun itu pulalah yang akan terasa secara nyata di alam akhirat. Ajaran suci Allah Ta’ala menerangkan kepada kita bahwa keimanan yang sejati, suci, teguh, dan sempurna –yang bertalian dengan Sifat-sifat dan kehendak-Nya– itu merupakan surga yang indah dan pohon-pohon yang berbuah lebat, sedangkan amal-amal shalih merupakan sungai-sungai surgawi, sebagaimana Dia berfirman:
 [172] “Allah membuat perumpamaan satu kalimah yang baik. Kalimah itu seperti sebatang pohon yang baik, yang akarnya kokoh kuat dan cabang-cabangnya menjangkau sampai ke langit. Ia memberikan buahnya pada setiap waktu.” (QS. Ibrahim, 14:25-26)

Yakni, kalimah keimanan __yang suci dari segala kelebihan serta kekurangan, cela, cacat, kepalsuan dan kesia-siaan serta sempurna dari segala segi__ adalah ibarat pohon yang terhindar dari segala macam kekurangan, yang akarnya menghunjam ke dalam bumi sedangkan cabang-cabangnya menjangkau langit dan berbuah sepanjang masa, dan tiada musim ketika dahandahannya tidak berbuah. Di dalam uraian ini Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimah keimanan sebagai pohon yang berbuah sepanjang masa, lalu menerangkan tiga tandanya: 1. Tanda pertama, akarnya –yaitu maknanya yang hakiki– menghunjam ke dalam kalbu manusia. Yakni fitrat dan hati nurani manusia telah menerima hakikat dan kemurniannya. 2. Tanda kedua ialah cabang-cabang kalimah itu menjangkau langit. Yakni dia mengandung unsur-unsur logika dan bersesuaian dengan hukum kudrat samawi yang merupakan pekerjaan Tuhan. Artinya, dalil-dalil kebenaran serta kemurniannya dapat dibuktikan melalui hukum kudrat. Kemudian dalil-dalil itu demikian luhurnya sehingga seakanakan ada di langit, yang tidak dapat dijangkau oleh bantahan. 3. Tanda ketiga ialah, buah yang layak untuk dimakan itu selamanya ada dan tidak pernah habis. Yakni, setelah penerapannya secara amalan maka berkat-berkat serta pengaruh-pengaruhnya tampak dan terasa di setiap zaman, tidak hanya muncul di suatu zaman tertentu saja lalu selanjutnya hilang. Kemudian Dia berfirman:
[173] “Perumpamaan kalimah yang buruk adalah seperti halnya pohon buruk, yang telah dicabut dari tanah dan tidak mempunyai kemantapan.” (QS. Ibrahim, 14:27).

Yakni, kalimah yang buruk adalah ibarat pohon yang tercabut dari bumi, yaitu fitrat manusia tidak menerimanya dan dari segi apa pun tidak dapat berdiri tegak –baik dari segi dalil-dalil logika, dari segi hukum kudrat, maupun dari segi hati nurani. Ia hanya berupa kisah dan dongengan belaka. Dan sebagaimana Al-Quran Syarif telah mengibaratkan iman di alam akhirat sebagai pohon-pohon suci, anggur, delima, dan buahbuah lezat, dan telah Dia uraikan bahwa pada hari itu keimanan tersebut akan menjelma dan tampak dalam bentuk buah-buah tadi maka seperti itu pulalah pohon buruk di akhirat telah Dia namakan Zaqqum, sebagaimana Dia berfirman:

[174] “Lebih baikkah yang demikian itu sebagai jamuan, ataukah pohon zaqqum? Sesungguhnya, Kami menjadikannya suatu percobaan bagi orang-orang yang aniaya. Sesungguhnya pohon itu sebuah pohon yang tumbuh di dasar neraka; Buahnya seakan-akan seperti kepala ular.” (QS. Ash-Shaffat, 37:63-66).

[175] “Sesungguhnya pohon zaqqum itu; Akan menjadi makanan orang berdosa; Seperti cairan tembaga, mendidih dalam perut mereka; Sebagai gelagak air mendidih….. “Rasakanlah! Sesungguhnya engkau menganggap diri engkau yang perkasa, yang mulia.”(QS. Ad-Dukhan, 44:44-47,50).

Yakni, katakanlah oleh kamu: Apakah kebun-kebun surga yang baik ataukah pohon Zaqqum yang merupakan suatu cobaan bagi orang-orang aniaya? Zaqqum adalah sebuah pohon yang tumbuh dari akar jahannam, yakni yang tumbuh dari ketakaburan dan kesombongan. Itulah akar jahannam. Putiknya berbentuk sedemikian rupa seperti kepala syaitan.

Syaitan artinya yang binasa. Kata syaitan berasal dari kata syayatha. Jadi, kesimpulannya adalah memakannya berarti suatu kebinasaan. Dan kemudian difirmankan bahwa pohon Zaqqum merupakan makanan bagi orang-orang neraka yang sengaja melakukan dosa. Makanan itu bagaikan cairan tembaga yang akan bergolak di dalam perut seperti air mendidih. Kemudian difirmankan kepada orang neraka (penghuni neraka): “Rasakanlah pohon itu, kamu orang terhormat lagi mulia”. Ini merupakan kalimat kemurkaan yang amat sangat. Maksudnya adalah, “Jika kamu tidak takabur dan mempertimbangkan kemuliaan serta kehormatan kamu sehingga tidak berpaling dari kebenaran, maka pada hari ini tentu kamu tidak akan merasakan kepahitan-kepahitan tersebut!” Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa sebenarnyang di dalamnya terdapat satu huruf pertama……(alif) dan satu huruf akhir……(mim). Dan penggunaan yang berulang kali telah mengubah huruf……(dzal) menjadi……(zai). Kini, kesimpulannya adalah, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimat-kalimat imaniah dunia ini sebagai surga, demikian pula Dia telah mengibaratkan kalimat-kalimat kekufuran dunia ini dengan zaqqum, dan menetapkannya sebagai pohon neraka. Dan Dia telah menyatakan bahwa akar surga serta akar neraka bermula dari dunia ini juga. Dia berfirman pada tempat lain mengenai neraka sebagai berikut:

[176] “Sesungguhnya engkau menganggap diri engkau yang perkasa, yang mulia.”(QS. Ad-Dukhan, 44:50).

yang di dalamnya terdapat satu huruf pertama……(alif) dan satu huruf akhir……(mim). Dan penggunaan yang berulang kali telah mengubah huruf……(dzal) menjadi……(zai). Kini, kesimpulannya adalah, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengibaratkan kalimat-kalimat imaniah dunia ini sebagai surga, demikian pula Dia telah mengibaratkan kalimat-kalimat kekufuran dunia ini dengan zaqqum, dan menetapkannya sebagai pohon neraka. Dan Dia telah menyatakan bahwa akar surga serta akar neraka bermula dari dunia ini juga. Dia berfirman pada tempat lain mengenai neraka sebagai berikut:

[177] “Itulah api Allah yang dinyalakan. Yang naik sampai ke hati.” (QS. Al-Humazah, 104:7-8)

Yakni, neraka adalah api yang bersumber dari kemurkaan Tuhan dan dikobarkan oleh dosa, dan pertama-tama menguasai hati. Hal itu mengisyaratkan bahwa sumber asli api tersebut ialah kedukaan, kekecewaan, dan derita yang merenggut hati. Sebab segala siksaan rohani bermula dari hati lalu menjalari sekujur tubuh. Kemudian di tempat lain Dia berfirman:

[178] “Yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (QS. Al-Baqarah, 2:25).

Yakni, bahan bakar api neraka yang membuat api itu terus menerus berkobar terdiri dari dua bahan. Pertama, adalah manusia yang meninggalkan Tuhan hakiki dan menyembah benda-benda lain, atau atas kehendak sendiri membuat diri mereka disembah, sebagaimana Dia berfirman:

[179] “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar neraka jahanam.”(QS. Al-Albiya, 21:99).

Yakni, “kamu dan sembahan-sembahan palsu kamu –yang merupakan manusia tetapi disebut tuhan– akan dilemparkan ke dalam Jahannam.” Bahan bakar yang kedua bagi neraka adalah berhala-berhala. Artinya adalah jika kedua benda ini tidak ada maka neraka pun tidak akan ada. Jadi, dari seluruh ayat ini nyatalah bahwa di dalam Kalam Suci Allah Ta’ala surga dan neraka tidaklah sama seperti dunia jasmani ini, melainkan pangkal dan sumber keduanya adalah perkara-perkara rohani. Ya, benda-benda itu di alam akhirat akan nampak dalam bentuk jasmani, akan tetapi di alam jasmani ini tidak akan demikian.

Sumber : Buku FILSAFAT AJARAN ISLAM, Karya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Qadian, (1835-1908). Penerbit: Neretja Press

Penerjemah : Mukhlis Ilyas, Penyunting : H. Abdul Basit

Cetakan ke-5: Jakarta, Januari 2016.
Advertisements

Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil

Sebelumnya pun sudah kami uraikan bahwa kata kafur telah digunakan dalam ayat ini dengan maksud tertentu. Sebab, di dalam bahasa Arab kafara artinya adalah menekan serta menutupi. Jadi, ini mengisyaratkan bahwa mereka telah meneguk mangkuk inqitha’ dan ruju’ ilallah (pemutusan dan kembali kepada Allah) dengan ketulusan sedemikian rupa, sehingga kecintaan kepada dunia menjadi dingin sama sekali. Ini merupakan hal prinsip, bahwa segala dorongan nafsu timbul dari keinginan di dalam hati. Dan ketika hati betul-betul jauh dari keinginan-keinginan yang tidak layak serta sedikit pun tidak lagi memiliki kaitan dengannya, maka dorongan-dorongan nafsu itu pun lambat-laun menjadi berkurang hingga akhirnya lenyap. Jadi, di sini demikian jugalah maksud Allah Ta’ala, dan itu jugalah yang Dia jelaskan di dalam ayat tersebut, bahwa orang-orang yang telah tunduk secara sempurna kepada-Nya, mereka telah keluar sangat jauh dari dorongan-dorongan nafsu, dan mereka telah tunduk ke hadapan Tuhan sedemikian rupa, sehingga kalbu mereka menjadi dingin terhadap kesibukan duniawi, dan dorongan-dorongan nafsu mereka telah tertekan tak ubahnya seperti kafur yang menekan unsur-unsur beracun. Kemudian difirmankan, bahwa setelah meneguk mangkuk kafur itu orang-orang tersebut meneguk mangkuk yang campurannya zanjabil. Kini, hendaknya diketahui bahwa Continue reading “Hakikat Serbat Kafur dan Zanjabil”

Sebuah Doa Yang Indah

Doa paling indah yang diajarkan kepada kita selaras dengan waktu dan keadaan yang tepat, dan yang menampilkan di hadapan kita gambaran gejolak ruhaniah yang dimiliki oleh fitrat ialah doa yang telah diajarkan kepada kita oleh Tuhan Yang Maha Pengasih di dalam Kitab suci-Nya, Al-Quran Syarif, yakni surah Al-Fatihah, dan doa itu ialah:

[150] “Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. Al-Fatihah, 1:1-2).
Segala pujian suci yang ada ialah bagi Allah Yang menciptakan dan memelihara seluruh alam.

[151] “Maha Pemurah, Maha Penyayang.”(QS.Al-Fatihah, 1:3).

Dia-lah Tuhan Yang menyediakan bagi kita sarana-sarana rahmat sebelum kita melakukan amal perbuatan, dan Dia-lah Yang dengan rahmat-Nya memberikan ganjaran sesudah kita melakukan amal perbuatan.

[152] “Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS.Al-Fatihah, 1:4)
Dia-lah satu-satunya Tuhan Pemilik Hari Pembalasan. Dan tidak Dia serahkan Hari itu kepada siapa pun.

[153] “Hanya Engkau-lah kami sembah dan hanya kepada Engkau Continue reading “Sebuah Doa Yang Indah”

Perbaikan Ketiga: Keadaan-keadaan Ruhani Manusia

Persoalan ketiga ialah: Apakah keadaan keadaan ruhani itu? Hendaknya jelas bahwa sebelum ini kami sudah menerangkan bahwa menurut petunjuk Al-Quran Syarif sumber dan mataair keadaan-keadaan rohani adalah Nafs Muthmainnah, yang mengantarkan manusia dari derajat akhlak sampai pada derajat kedekatan dengan Tuhan, sebagaimana Allah Yang Mahaagung berfirman:

[146] “Hai, jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau. Maka masuklah di antara hambahamba-Ku yang terpilih. Dan masuklah ke dalam urga-Ku.”(QS. Al-Fajr, 89:2831).

Yakni, wahai jiwa yang mendapat ketentraman dari Tuhan! Kembalilah kepada Rabb engkau! Dia ridha (senang) kepada engkau dan engkau pun ridha (senang) kepada-Nya. Maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku. Pada tempat ini ada baiknya kalau kami menafsirkan ayat suci ini agak lebih luas untuk menjelaskan keadaan-keadaan ruhani. Jadi hendaklah diingat bahwa di dalam kehidupan manusia di dunia ini keadaan ruhani tertinggi adalah memperoleh ketenteraman bersama Allah Ta’ala, dan segala ketenangan, kebahagiaan, dan kelezatan baginya terpusat pada Tuhan. Inilah keadaan yang dengan kata lain disebut kehidupan surgawi. Dalam keadaan itu manusia langsung mendapat surga sebagai ganjaran atas kejujuran hati, ketulusan, dan kesetiaannya yang sempurna. Orang-orang lain masih mengharapkan surga yang dijanjikan, sedangkan orang yang memiliki derajat ruhani tertinggi itu telah masuk ke dalam surga yang sudah menjadi kenyataan. Setelah mencapai derajat ini barulah manusia mengerti bahwa ibadah yang telah dibebankan atasnya justru merupakan makanan yang dengan itu ruhnya akan tumbuh berkembang, dan merupakan landasan yang Continue reading “Perbaikan Ketiga: Keadaan-keadaan Ruhani Manusia”

Sifat-sifat Allah Ta’ala

Itulah dalil-dalil tentang Wujud Tuhan yang kami tuliskan sebagai contoh. Kemudian hendaknya diketahui bahwa Tuhan yang ke arah-Nya Al-Quran Syarif mengimbau kita, sifat-sifatNya telah Dia terangkan sebagai berikut:

[122] “Dia-lah Allah, dan tiada tuhan selain Dia, Yang Mengetahui segala yang gaib dan segala yang nampak. Dia-lah Yang Maha Pemurah, maha Penyayang..”(QS. Al-Hasyr, 59:23).

[123] “Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS. Al-Fatihah, 1:4).

[124] “Maha Berdaulat, Yang Mahasuci, Sumber segala kedamaian, Pelimpah keamanan, Maha Pelindung, Mahaperkasa, Maha Penakluk, Mahaagung.”(QS. Al-Hasyr, 59:24). [125] “Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi segala bentuk,. Kepunyaan Dia-lah segala nama yang terindah. Segala sesuatu di seluruh langit dan bumi menyanjung Dia dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.”(QS. AlHasyr, 59:25).

[126] “Berkuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah, 2:21).

[127] “Tuhan semesta alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Yang mempunyai Hari Pembalasan.”(QS. Al-Fatihah, 1:2-4).

[128] “Aku mengabulka doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku.”(QS. AlBaqarah, 2:187).

[129] “Yang Mahahidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu.”(QS. AlBaqarah, 2:256).

[130] “Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Mahaesa, Allah, Yang tidak bergantung pada sesuatu dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak memperanakkan, dan tidak pula Dia diperanakkan; Dan tiada seorang pun menyamai Dia.”(QS. AlIkhlas, 112:2-5).

Yakni, Dia itulah Tuhan Yang Esa, dan tiada sekutu bagiNya, tidak ada yang patut disembah dan ditaati kecuali Dia. Hal itu dikatakan karena seandainya Dia bukan sesuatu yang tanpa sekutu mungkin saja kekuatan-Nya dapat ditaklukkan oleh kekuatan musuh-Nya, dalam keadaan demikian posisi Ketuhanan akan tetap berada dalam ancaman bahaya. Dan yang difirmankan bahwa, “Tidak ada yang patut disembah kecuali Dia”, artinya adalah Dia merupakan Tuhan Yang Maha Sempurna sedemikian rupa yang sifat-sifat, kelebihan-kelebihan serta kesempurnaan-kesempurnaan-Nya demikian tinggi dan agung, sehingga jika kita ingin memilih satu tuhan dari segala wujud yang ada berdasarkan sifat-sifatnya yang sempurna, atau Continue reading “Sifat-sifat Allah Ta’ala”

Jasa-jasa Al-Quran Syarif Kepada Dunia

Merupakan jasa Al-Quran Syarif yang telah menunjukkan perbedaan antara keadaan-keadaan thabi’i (alami) dan akhlak fadhilah. Ia tidak berhenti sekedar mengangkat dari keadaankeadaan thabi’i (alami) lalu meyampaikannya sebatas mahligai mulia akhlak fadhilah saja, melainkan pintu-pintu ma’rifat suci telah dibukakan olehnya untuk mencapai tahapan berikut yang masih tersisa, yakni derajat keadaan-keadaan kerohanian. Dan tidak hanya sekedar membukakan, bahkan ia telah pula berhasil mengantarkan ratusan ribu sampai ke derajat itu. Ringkasnya, demikianlah Al-Quran Syarif menjelaskan dengan amat indahnya tiga macam ajaran sebagaimana telah kami paparkan di atas. Jadi, dikarenakan Al-Quran Syarif adalah himpunan sempurna segenap ajaran yang merupakan landasan unsur-unsur pendidikan agama yang diperlukan, untuk itulah Al-Quran Syarif menyatakan bahwa ia telah mengembangkan wawasan ajaran agama sampai ke taraf yang sempurna, sebagaimana Dia berfirman:

[114] “Hari ini telah Kusempurnakan agamamu bagi-mu, dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atasmu, dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama.”(QS. AlMaidah, 5:4).\

Yakni, pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kamu dan telah melengkapkan nikmat-Ku atas kamu dan Aku telah meridhai Islam sebagai agama kamu. Yakni, derajat tertinggi dalam agama ialah hal-hal yang mengandung makna “Islam”, yaitu menyerahkan diri semata-mata kepada Tuhan dan mengupayakan keselamatan dirinya melalui pengorbanan diri sendiri, bukan dengan cara lain, dan memperlihatkan niat serta tekad tersebut secara amalan. Itulah titik di mana segenap kesempurnaan berakhir. Jadi, Al-Quran Syarif telah menunjukkan Tuhan Sejati yang tidak dikenali oleh para cendekiawan. Al-Quran Syarif telah menetapkan dua cara untuk memperoleh ma’rifat Ilahi. Cara pertama, ialah yang dengan menempuhnya maka akal manusia akan menjadi amat kuat dan cemerlang dalam mencetuskan dalil-dalil logika, sehingga terhindar dari melakukan kekeliruan. Yang kedua, ialah Continue reading “Jasa-jasa Al-Quran Syarif Kepada Dunia”

Hikmah Kedatangan Rasulullahs.a.w. di Negeri Arab

Munculnya Nur (cahaya) terakhir ini di negeri Arab pun bukanlah tanpa hikmah. Arab adalah kaum Bani Ismail yang terputus dari Bani Israil, yang atas hikmah Ilahi telah terdampar di belantara Faran. Dan arti Faran ialah “dua orang yang melarikan diri”, yakni pelarian. Jadi, orang-orang yang telah dipisahkan oleh Nabi Ibrahima.s. sendiri dari Bani Israil tidak lagi mempunyai bagian dalam syariat Taurat, seperti telah tercantum bahwa mereka itu tidak akan memperoleh bagian bersama Ishaqa.s.. Jadi, mereka telah ditinggalkan oleh orang-orang yang memiliki pertalian dengan mereka, dan tidak pula mereka memiliki hubungan dengan yang lainnya. Dan di semua negeri lainnya terdapat sedikit banyak tata-cara peribadatan dan peraturan. Dari itu dapat diketahui bahwa pada suatu masa tertentu ajaran nabi-nabi pernah sampai kepada mereka. Tetapi hanya negeri Arab satu-satunya negeri yang sama sekali tidak mengenal ajaran-ajaran tersebut dan paling terbelakang di seluruh dunia. Oleh karena itu Continue reading “Hikmah Kedatangan Rasulullahs.a.w. di Negeri Arab”