Ekstrimisme dan Penganiayaan terhadap Para Ahmadi

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
17 Maret 2017 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Pada saat ini kita mengamati di negara-negara Barat dan di negara-negara maju bahwa partai-partai politik sayap kanan atau yang disebut sebagai partai Nasionalis memiliki keberadaan yang semakin kuat. Para ahli dan analis juga berkomentar banyak mengenai hal ini dan percaya bahwa ini semua terjadi disebabkan pihak pemerintah saat ini yang berasal dari sayap kiri (Sosialis) atau yang tidak cukup ketat dalam kebijakan-kebijakan mereka tentang imigrasi [masuknya pendatang ke negara mereka]. Mereka juga mengutip berbagai sebab lain mengenai hal ini, tapi intinya bahwa partai-partai Nasionalis mengarahkan pada pelarangan umat Muslim untuk memasuki negara mereka. Itu sudah darurat, kata mereka.
Partai-partai sayap kanan beranggapan, “Umat Muslim tidak melakukan upaya untuk berintegrasi atau berbaur ke dalam masyarakat kita dan hidup terpisah. Mereka tetap saja mengamalkan ajaran-ajaran agama mereka yang

mana merupakan agama ekstrimis. Jika umat Muslim ini ingin hidup di negara-negara kita, umat Muslim harus melupakan praktek atau amalan-amalan serta kebiasaan keagamaan mereka dan mengadopsi nilai-nilai dan tradisi masyarakat Barat ini. Jika kaum Muslim ini tidak meninggalkan ajaran mereka maka itu berarti bahwa mereka tidak ingin berintegrasi ke dalam masyarakat. Selama mereka ingin hidup di antara kita dengan konservatif pada identitas agama mereka itu berarti bahwa mereka mengancam keamanan negara kita.”
Sebenarnya, perkataan mereka yang aneh ini tengah mengungkapkan kebodohan mereka sendiri. Mereka berkata, “Umat Muslim dengan membangun menara-menara masjid, mengenakan Hijab dan tidak berjabat tangan dengan lawan jenis merupakan ancaman bagi cara hidup kami.” Mungkin kita tidak temukan orang semacam mereka kecuali satu dua orang saja di UK (Inggris) ini. Namun, ada kegemparan besar lain di negara-negara Barat lainnya. Setiap hari politisi mereka mengarahkan perkataan mereka ke tema ini.
Mereka mencoba untuk membenarkan pendapat mereka itu dengan berkata, “Bukti bahwa orang Islam merupakan ancaman serius bagi kita ialah keadaan saat ini dari negara-negara Muslim yang mana terorisme dan pelanggaran hukum merajalela. Orang-orang Muslim ialah yang terbanyak melakukan tindakan terorisme di negara-negara kita.”
Tidak diragukan lagi, sebagian besar hal-hal yang mereka nyatakan asalnya ialah permusuhan mereka terhadap Islam, tapi sayangnya mereka benar dalam hal mengutip contoh keadaan saat ini dari negara-negara Muslim dan aksi-aksi terorisme yang terjadi di negara-negara Barat dilakukan oleh beberapa kelompok Muslim. Hal yang benar bahwa umat Muslim sendiri yang memberi kesempatan pada pihak Barat untuk mengecam soal itu. Sebagaimana pernah saya katakan, terorisme dan ekstrimisme yang muncul dengan kuat di negara-negara Islam yang diimplementasikan dalam tindakan teror di sini di Barat juga, bagaimana pun, organisasi-organisasi teror dan kelompok-kelompok pemberontak di negara-negara Islam didukung persenjataan oleh pihak negara-negara Barat itu sendiri.
Sebagian kekuatan [Barat] mengorganisasi kelompok-kelompok teroris di negara-negara Muslim dengan penuh kelicikan dan mereka melakukan rancangan itu dengan enjoy (menikmati dengan gembira) demi meraih tujuan mereka sendiri dan untuk memperlihatkan kebenciannya terhadap Islam. Di satu segi, kekuatan ini memberikan bantuan kepada pemerintah Islam secara terbuka dan tersembunyi di sisi lain, sementara pada segi lainnya, mereka mendukung kelompok-kelompok pemberontak dan organisasi teroris dengan satu atau lain cara. Tanpa adanya dukungan dari kekuatan-kekuatan ini, suatu kelompok, atau partai atau pemerintah takkan mampu untuk terus berperang dalam jangka waktu lama.
Sangat disayangkan bahwa setiap kali umat Islam telah tertimpa kerugian, itu adalah karena tindakan buruk mereka sendiri, rancangan mereka, pemberontakan mereka, karena kurangnya memenuhi hak terhadap pihak yang lain, karena mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan bangsa dan agama, karena mengabaikan ajaran Islam dan terbutakan dari tujuan yang mulia.
Alih-alih para pemimpin dan politisi mereka lainnya memperbaiki kondisi keruhanian mereka dan mengamalkan perintah Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah saw, mereka lebih memilih dan menyukai keserakahan mereka demi kesenangan, keuntungan dan kebesaran duniawi.
Begitu juga, para Ulama telah lebih jauh mendorong bangsa ke dalam kegelapan dan lebih jauh lagi dengan jubah agama mereka. Bukannya mengamati keadaan zaman dan merenungi tuntutan masa ini atas cahaya janji-janji Allah Ta’ala dan mencari orang yang telah dijanjikan sesuai kabar dari Allah Ta’ala dan telah dinubuatkan pada masa dahulu oleh Rasulullah saw bahwa orang yang dijanjikan itu akan muncul di akhir zaman dan akan sekali lagi mengembalikan kembali keimanan yang telah terbang ke bintang Tsurayya dan memperbaharui keimanan di hati umat Islam lagi.
Bukan hanya gagal melaksanakan perintah ini, para Ulama malah terus bertambah menentang utusan yang dijanjikan dari Allah Ta’ala. Mereka melawat ke negara-negara Islam bahkan non Islam; dan di mana pun mereka tiba, mereka melampaui semua batas dalam menunjukkan kedengkian, kebencian dan permusuhan terhadap utusan yang dijanjikan tersebut. Bukan hanya ini saja bahkan melampaui batas dalam melakukan permusuhan terhadap para pengikut utusan yang dijanjikan dari Allah Ta’ala ini.
Pakistan menindas para Ahmadi terus menerus di bawah payung hukum selama bertahun-tahun dan bahkan puluhan tahun. Tapi, para Ahmadi di negara-negara Islam telah mengalami atau terkena penganiayaan di tangan beberapa pejabat zalim yang takut terhadap para ulama. Tidak ada keraguan bahwa situasi telah relatif membaik di negara-negara itu. Tuhan yang lebih tahu akan sampai berapa lama situasi ini akan tetap terjadi. Kita meminta kepada Allah sebagian dari karunia-Nya dan menyeru-Nya agar kita bertahan dalam situasi ini dalam kebaikan, melewatinya dan menjaga para Ahmadi senantiasa.
Di Algeria (Aljazair), penentangan bertambah sengit terhadap Jemaat. Polisi mengintimidasi dan melecehkan para Ahmadi. Pihak pengadilan mengeluarkan keputusan agar para Ahmadi dipenjara, beberapa di antaranya dihukum penjara selama tiga tahun dan tidak ada kesalahan mereka, kecuali mereka mengatakan telah mengimani Imam yang dijanjikan, dan percaya itu karena itulah yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Ada lebih dari dua ratus orang Ahmadi yang saat ini tengah dipenjara atau telah jatuh putusan hakim untuk pemenjaraan mereka atau tengah menunggu hukuman atau yang tengah ditahan polisi atau yang tengah menjadi sasaran intimidasi. Namun meskipun kekejaman yang dilakukan terhadap mereka, mereka tetap teguh dalam iman mereka.
Seorang Muslim Ahmadi, saat mengumumkan bahwa ia akan mengutamakan Allah dan Rasul-Nya atas segala sesuatu terlepas dari seberapa pun harganya [akibatnya], tidak akan ada kekuatan mana pun yang mampu menggoyang imannya. Namun, para pelaku kezaliman yang mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya itu harus ingat bahwa Allah Maha Melihat ketidakadilan dan kekejaman mereka. Doa-doa orang-orang yang tertindas dan teraniaya itu sampai kepada Allah Ta’ala dan ini adalah hal yang nyata terjadi.
Ketika Dia menyatakan penghakiman-Nya maka orang-orang ini akan menghadapi kehancuran di dunia ini dan di akhirat. Maka dari itu, haruslah senantaiasa takut akan taqdir Allah juga memperhatikan keadaan mereka sendiri bukannya menindas para Ahmadi.
Orang-orang ini yang menyebabkan rusaknya citra ajaran indah Islam harusnya merenungkan apakah Allah telah mengabari mereka bahwa inikah tujuan hidup diinginkan oleh mereka? Andai para Ulama – yang diikuti fatwa-fatwanya oleh para pemimpin dan menjadi sumber keputusan pengadilan – bersikap simpati (kasihan) terhadap nama baik Islam; mereka pasti akan mempertimbangkan diri untuk bersatu dalam keadaan ini guna menghadapi segala macam keberatan dan tuduhan yang dilontarkan terhadap agama Islam; bahwa Allah telah berjanji akan menyebarluaskan Islam di dunia seluruhnya.
Ada pun di sini, kebalikan dari itu, Islam dikritik dengan rusaknya nama baiknya disebabkan perilaku mereka. Apa sebabnya? Apakah Islam akan menang melalui organisasi-organisasi teroris dan radikal? Apakah Allah memerintahkan menyebarluaskan Islam dengan peperangan dan mengalirkan darah? Apakah Islam tidak memiliki argumen yang kuat dan bukti untuk menetapkan keunggulannya dan menyebarkan ajaran-ajarannya? Apakah mereka berpikiran membatasi berkhidmat untuk Islam itu hanya dengan mengangkat pedang, dengan membunuh orang-orang tak berdosa, anak-anak, kaum wanita dan orang tua dari kelompok yang berbeda dan dari agama lain?
Jika itu adalah apa yang mereka yakini sebagaimana tampak dari tindakan radikal sebagian dari para Ulama, maka dalam keadaan demikian jelas bahwa keberhasilan takkan diraih oleh orang-orang yang menolak perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah saw. Bahkan menjadi mungkin bahwa perbuatan buruk mereka ini mengundang cengkraman hukuman Ilahi.
Ingatlah! Bagi mereka yang menganiaya orang Ahmadi dan berbuat buruk dengan mengatasnamakan Islam dengan beranggapan telah berhasil sambil membanggakan pemerintahan dan kekuatan mereka; suatu saat mereka akan dibawa ke hadirat pengadilan Allah dan akan ditanyai perihal kezaliman-kezaliman ini.
Keadaan umat Islam saat ini sangatlah mengherankan dan mengerikan. Di satu sisi, ada golongan yang disebut Ulama dan organisasi-organisasi ekstrimis yang – sebagaimana telah saya katakan – berusaha untuk menciptakan gangguan dan kekacauan atas nama Islam terhadap orang Muslim sendiri dan selainnya. Di sisi lain, kita perhatikan orang-orang Muslim yang telah menjauh dari hubungan dengan ajaran-ajaran agama mereka sendiri seperti murtad secara perbuatan atau telah dipengaruhi dunia Barat atau telah menjadi takut untuk mengungkapkan ajaran-ajaran Islam yang indah. Sebaliknya, mereka hanya menyetujui apa pun yang dikatakan oleh orang-orang duniawi, atau memberikan penafsiran yang benar-benar salah terhadap ajaran Islam untuk menyenangkan orang lain.
Ketakutan mereka kepada dunia lebih besar dibanding ketakutan mereka kepada Allah. Begitu juga, para pemimpin dan politisi yang biasa bersikap diam karena takut para ulama menghasut orang-orang untuk menentang mereka dan mereka kehilangan jabatan, meski mereka tidak sepakat dengan para ulama. Mereka diam karena kepengecutan mereka dan demi tujuan materi yang ada di dalam kewenangan mereka.
Dengan demikian, tiap tingkatan umat Islam yang menolak orang yang telah diutus oleh Allah Ta’ala sebenarnya menjauhi perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya (saw) sehingga meskipun mereka itu akrab dengan agama.
Mereka menuduh Hadhrat Masih Mau’ud as memulai bisnisnya (perdagangan agama) dengan cara menyatakan diri sebagai Masih Mau’ud dan Mahdi. Na’udzubiLlah. Namun, hal yang sebenarnya ialah mereka itu sendiri yang menjadikan penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai sarana untuk mencari kemudahan dan mengembangkan usaha penghidupan mereka. Mereka yang menentang Jemaat tidak memiliki argumen dan hanya berusaha untuk melemparkan pelecehan secara verbal seperti biasanya. Ringkasnya, golongan ini memperdagangkan agama [menjadikan agama sebagai barang dagangan], atau menjadikan agama sebagai hal sekunder (sampingan) dalam prioritas (kepentingan) mereka. Dengan begitu, mereka menjadi Muslim secara nama saja dan mereka tidak punya hubungan dengan ajaran hakiki Islam. Dalam situasi demikian, para Ahmadi harus berpikiran bahwa ketika mereka telah beriman kepada Imam Zaman maka pada mereka terpikut tanggungjawab serius.
Suatu hal yang tegas bahwa para penentang akan terus menindas para Ahmadi, dan demikian pula mereka yang telah menyimpang jauh dari agama dan orang-orang kafir juga satu hari akan mulai menentang Jemaat ketika Jemaat berbicara menentang perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan atas nama kebebasan atau atas nama menjalankan hukum. Oleh karena itu, dalam keadaan seperti itu, akankah para Ahmadi menjadi diam karena takut dan karena kelemahan iman lalu menyetujui apa pun yang orang-orang ini katakan? Jika para Ahmadi melakukannya, maka apa manfaat dalam baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as?
Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda kepada Jemaatnya, “Kalian harus mematuhi perintah-perintah Allah, mengikuti Rasulullah saw, jangan pernah kehilangan iman dan juga tidak membuat kerusakan apapun di bumi.”
Dalam rangka itu, suatu keharusan untuk ingat selalu bahwa kalian harus menyebarkan pesan Allah kepada dunia supaya Tauhid didirikan dan ajaran indah Islam disebarkan di dunia supaya mayoritas penduduk dunia merasa tentram. Telah dikatakan kepada kita agar mengajak untuk berjalan sesuai Tauhid Ilahi. Dalam Al-Qur’an ada hal ini: ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ ‘Panggillah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.’ (Surah An-Nahl, 16:126)
Dengan demikian, seseorang harus menggunakan argumen kuat dan meyakinkan untuk menyampaikan dakwah kepada dunia, menunjukkan ajaran indah Islam dan menguraikan hikmah-hikmah perintah-perintah Islam; bukan untuk mengangkat pedang seperti yang disebut oleh orang-orang yang disebut sebagai Ulama ataupun dilakukan oleh para ekstremis lainnya. Tidak ada perintah dari Allah untuk menyebarkan Islam dengan cara kekerasan ini.
Beberapa tindakan atau perbuatan buruk tertentu yang mana agama melarangnya dan menganggapnya sebagai berdosa malahan menjadi meluas di beberapa negara maju dan hukum negara juga melindungi mereka. [contohnya ialah homoseksual, lesbian dan biseksual] Jika kita berbicara mengenainya maka pasti ada pihak-pihak yang bersangkutan akan tersinggung dan marah pada apa yang harus kita katakan mengenai tindakan-tindakan tersebut. Maka, dalam keadaan demikian untuk sementara kita dapat menghindari berbicara mengenai hal tersebut dan terus saja menghindar dengan menyampaikan salam damai – karena hal ini adalah tindakan yang paling bijaksana untuk dilakukan di saat yang demikian. Suatu hal yang mustahil bahwa kita mendukung pandangan mereka dengan alasan undang-undang telah berjalan atau karena pihak yang bersangkutan marah. Namun, jika ada orang [kita] yang menjadi takut akan mereka atau berada di bawah pengaruh mereka dan setuju dengan apa yang mereka katakan maka ini adalah sesuatu yang benar-benar salah dan orang tersebut akan mengambil bagian dalam dosa itu.
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Makna ayat وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ‘berdebat dengan mereka dengan cara yang terbaik’ bukanlah artinya menerapkan kesopanan sampai ke tingkat mudahanah (menunjukkan kelemahan dalam iman) dan membenarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran.”
Jadi, pengertian hikmah bukanlah artinya bersikap pengecut pada seseorang; melainkan hikmah itu artinya menyampaikan kebenaran tanpa membuat rusuh apapun. Artinya, sampaikanlah kebenaran dengan cara yang dari itu tanpa mengakibatkan kerusuhan dan kerusakan. Kebenaran mengarahkan pada perkataan yang benar juga.
Dengan demikian, seorang Mu’min harus menyadari perbedaan antara menunjukkan kepengecutan dan kebijaksanaan. Hal-hal yang dianggap salah oleh Islam harus jelas dinyatakan sebagai salah. Tetapi pada saat yang sama kita tidak boleh main hakim sendiri dan menciptakan gangguan dan pertengkaran.
Lebih lanjut menguraikan hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Memang benar terdapat banyak pemuka agama yang bodoh [ulama] yang dengan kejahilan dan ketololannya berpikiran bahwa Jihad artinya menyebarkan Islam dengan cara memerangi musuh dan dengan pedang pada masa ini berpahala sangat besar. Mereka hidup dalam kerahasiaan pandangan dan kemunafikan tapi mereka salah dalam pemahaman mereka ini. Al-Qur’an tidak dapat dikritik karena kesalahan-kesalahan mereka. Kebenaran-kebenaran yang teguh dan sejati, hakekatnya tidak memerlukan pemaksaan jenis apa pun. Pemaksaan ialah dalil atas kelemahan dalil keruhanian.
Apakah Tuhan yang menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya nan suci dengan berfirman, فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ ‘Bersabarlah sebagaimana para ulum azmi bersabar’ artinya contoh kesabaran ulul azmi (berjiwa kuat) dari kalangan para Rasul, yang maknanya kesabaran kolektif semua utusan sebelumnya tidak sebanding dengan kesabaran engkau (Nabi saw). Dia juga berfirman, لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ‘Tidak ada paksaan dalam agama’ lalu firman-Nya lagi, ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ‘Panggillah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.’ (Surah An-Nahl, 16:126) Artinya, debatlah kaum Masihi (Kristen) dengan hikmah dan nasehat yang baik tanpa menjadi keras.
Dia juga berfirman kepada beliau, وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ yang artinya bahwa orang-orang beriman menahan kemarahan dan memaafkan mereka yang melakukan kekejaman dan ketidakadilan terhadap diri mereka. (Surah Ali Imran, 3:135) Mereka tidak membalas ketololan dengan ketololan. Jadi, bagaimana Tuhan yang demikan dapat memberikan pengajaran bahwa orang-orang yang tidak beriman harus kalian bunuh, harta mereka kalian ambil dan mereka kalian usir dari rumah-rumah mereka?
Bahkan, hal pertama yang Islam tegakkan sesuai hukum Allah ialah bahwa mereka yang mengangkat pedang akan dibunuh dengan pedangnya sendiri. [Orang yang melakukan kekerasan akan mendapat kekerasan serupa] Mereka akan memanen apa-apa yang mereka tanam. Di manakah tercantum riwayat bahwa mereka yang menolak kebenaran harus dibunuh? Ini adalah pendapat para ulama bodoh yang tanpa dasarnya.”
Jadi, itulah pendapat para ulama yang menganggap telah menyebarkan Islam atau orang-orang yang memusuhi Islam berpandangan bahwa Islam menyuruh membunuh mereka yang menolak Islam padahal ia belum menanggapi apa-apa di mana pun.
Ayat-ayat tersebut ialah ajaran Islam yang umat ​​Islam lainnya tidak mempraktekkannya atau karena mereka tidak memiliki keinginan untuk menyebarkan pesan Islam, atau sebagaimana yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ide ini telah berakar karena adanya para Maulwi yang bebal di kalangan mereka.
Namun, kita harus mempromosikan ajaran ini kepada Muslim dan non-Muslim. Setiap Ahmadi harus memberikan perhatian khusus terhadap hal ini di kalangan lingkungan mereka. Sebab, mereka yang berpandangan kekerasan tersebut dulunya hanya memendam dalam hati mereka saja. Mereka hidup dalam kemunafikan [di lingkungan Barat] sementara sambil menyakini bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Sekarang sudah mulai terbuka untuk melakukan tindakan kekejaman bukan hanya terhadap pihak non Muslim saja bahkan terhadap sesama Muslim lainnya dan hal ini merusak nama baik Islam. Telah diketahui bahwa semua memusuhi Jemaat umumnya lalu selain itu, setiap kelompok Muslim saling memerangi satu dengan yang lain dan mengalirkan darah satu terhadap yang lain. Dalam keadaan seperti itu, tanggung jawab seorang Ahmadi telah meningkat secara signifikan.
Selanjutnya beliau as bersabda, “Ingatlah! Orang yang dalam kondisi keras dan jatuh kedalam kemarahan, dari pembicaraannya tidak akan keluar ma’rifat (wawasan ilmu pengetahuan) dan hikmat kebijaksanaan. Orang yang hatinya cepat marah akan kehilangan hal-hal yang berhikmat dibandingkan dengan lawannya. Lidah orang yang biasa berkata-kata kotor dan liar tanpa kendali akan kehilangan dan tidak mendapat bagian dari sumber mata air lathaa-if (kehalusan dan kelembutan). Kemarahan dan hikmat kebijaksanaan tidak bisa tinggal bersama. Orang yang dalam keadaan maghdhuubul ghaddhab (cepat marah) itu punya akal yang tumpul dan pemahamannya tidak tepat. Orang yang cepat marah tidak akan meraih kemenangan dan pertolongan dalam kesempatan apa saja. Kemarahan itu setengah kegilaan. Ketika kemarahan itu memuncak maka akan menjadi sempurnalah kegilaannya.
Jadi, saat seseorang ditimpa kegilaan disebabkan kemarahan maka tidak mungkin ia berbicara dengan hikmah kebijaksanaan.
Inilah persis apa yang kita lihat pada mereka yang memusuhi kita. Para Ulama memperlihatkan sikap ini dalam menentang kita di tiap tempat. Perilaku mereka ini tidak hanya memusuhi kita saja bahkan mencoreng citra Islam. Dan, ketika para Ahmadi menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang berdasar pada kedamaian kepada dunia, maka para penentang Islam selalu mengatakan: “Memang benar bahwa Anda itu Muslim, tapi Muslim lainnya tidak menganggap Anda sebagai Muslim. Karena itu, Anda tidak bisa dianggap sebagai wakil dari Islam.“
Oleh karena itu, dalam keadaan ini tantangan yang kita hadapi bertambah buruk sehingga setiap Ahmadi harus menyadari betul-betul bahwa tanggung jawab mereka telah meningkat secara signifikan untuk menjadikan amal perbuatan dan perilaku mereka sebagai teladan sejati Islam. Jika mereka tidak menyampaikan tabligh secara lahiriah maka hendaknya mereka pun bertabligh secara amal perbuatan. Kebijaksanaan Hadhrat Ali ra harus selalu diingat ketika kesempatan bertabligh. Beliau menyatakan, “Di dalam hati terjadi pengharapan dan kecenderungan. Berdasarkan hal itu, pada waktu-waktu tertentu, hati seseorang bersedia dan cenderung ke arah mendengarkan sesuatu dari perkataan orang lain, sementara pada kesempatan lain tidak.”
Oleh karena itu, Anda harus berbicara dengan orang-orang setelah memperhatikan kecenderungan hatinya. Terlebih dahulu kalian harus mempertimbangkan dan menilai situasi berdasarkan hal itu. Janganlah menyampaikan perkataan kalian kecuali orang-orang telah bersedia untuk mendengarkan apa yang ingin Anda katakan. Karenanya, kita juga perlu untuk menerapkan kearifan ini.
Hadhrat Masih Mau’ud as juga membimbing Jemaat dalam hal ini dan bersabda, “Seseorang harus merenungkan apa yang ia ingin katakan dan tetap membuatnya ringkas. Menggali perdebatan panjang dan diskusi yang mendalam tidak memiliki manfaat.”
“Jika mungkin, seseorang hendaknya menyampaikan maksudnya dalam beberapa kata yang langsung masuk ke telinga dan jika pernah ada kesempatan di masa depan maka ia dapat menjelaskan maksudnya dengan lebih panjang lebar.” Namun, ini hanya mungkin bila seseorang terus-menerus kontak dengan mereka.
Mereka yang memusuhi agama atas nama kebebasan, berusaha untuk menantang hukum-hukum Allah dan mencoba untuk menjadikan amalan-amalan buruk mereka sebagai moral. Namun, kita harus menanggapi mereka dengan kebijaksanaan dan dengan tetap terus berkomunikasi dengan mereka.
Saat ini, oposisi (penentangan) terhadap Islam di Australia telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga ada orang-orang tertentu mereka yang mengatakan bahwa umat Islam yang tidak berjabat tangan dengan lawan jenis harus diusir dari negara tersebut. Namun, para Ahmadi harus menanggapi ini dengan kebijaksanaan. Demikian pula, di negara lain sentimen serupa disajikan. Bahkan, di Belanda, seorang politisi menyatakan bahwa semua Muslim harus diusir atau semua Muslim adalah milik negara tertentu. Presiden Amerika Serikat juga ingin melarang warga dari negara-negara tertentu. Tak syak lagi bahwa semua ini sebagai akibat dari pemikiran anti-Islam dan itu tambah buruk lagi dengan perilaku buruk yang dilakukan beberapa kelompok Muslim. Namun, sebagian besar orang tidak mengenali ajaran-ajaran Islam yang sejati.
Maka dari itu, Jemaat yang memiliki anggota dalam jumlah cukup dapat menampilkan ajaran damai dan dakwah Islam dengan cara sedemikian rupa yang akan meninggalkan kesan abadi. Mereka harus mengatur program-program yang berkesan untuk menyampaikan pesan Islam berdasarkan keamanan dan perdamaian sebagai tambahan terhadap program-program tabligh biasa mereka.
Di negeri-negeri ini tempat mana kekuatan anti Islam begitu kuat, jika ada yang dapat mengusahakan upaya yang teratur untuk menyanggah mereka maka itu hanya Jemaat Ahmadiyah. Umat Islam lain tidak dapat memperlihatkan keindahan ajaran-ajaran Islam dan menyampaikan kebenaran risalahnya karena pada mereka tidak terdapat keteraturan organisasi dan juga tidak ada ilmu untuk itu. Tugas ini telah ditetapkan melalui mereka yang telah mengikuti Hadhrat Masih Mau’ud as. Setiap orang harus memahami perkara ini.
Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tidak peduli seberapa gencar kepalsuan menentang kebenaran, sekuat itu pula kebenaran akan diperkokoh.” Beliau as juga bersabda, “Inilah pemandangan alami bahwa setiap kali kebenaran ditentang, kali itu juga ia akan berkilau dan tampak agung.”
Beliau as juga bersabda, “Kita sudah pengalaman bahwa dimana saja banyak kehebohan dan percakapan menentang kita, maka disitu akan berdiri sebuah Jemaat orang beriman. Sebaliknya, di tempat mana orang-orang tetap diam saja setelah mendengar tabligh maka Jemaat di situ tidak akan bertambah maju.”
Maka, ketika di mana pun Ahmadiyah menghadapi oposisi (penentangan), kita menyaksikan bahwa ini memberikan kita kesempatan untuk memperkenalkan Jemaat dan Jemaat menjadi berkembang. Inilah yang terjadi di Aljazair. Dulu, suatu hal yang mustahil untuk memperdengarkan nama Jemaat dan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan upaya tabligh kita hingga ke tingkat yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh pengadilan dan media massa yang menyebarluaskan tuntutan hukum atas kita yang sebagai dampaknya orang-orang menjadi tahu tentang kita dan terkesan.
Demikian pula di negara-negara Non-Muslim, di mana pun ada gelombang sentimen anti-Islam, Jemaat harus berbuat lebih banyak untuk menyebarkan Ahmadiyah, Islam sejati. Sebagaimana telah saya katakan, kita harus menyebarkan pesan perdamaian yang mana itu berakibat bertambahnya penentangan di sebagian golongan. Sebab, di beberapa tempat telah muncul pemandangan seperti demikian dengan bertambahnya penentangan di kalangan non Islam dan Kristen. Contohnya, orang-orang Nasionalis berbicara banyak yang bersifat permusuhan terhadap Jemaat di timur Jerman. Namun, orang-orang yang berhati positif menjadi terkesan dan mendengar nama Jemaat. Oleh karena itu, tidak usah takut atas penentangan bahkan itu harus menggembirakan kita dan membuat rajin upaya kita.
Setiap Ahmadi harus menjadi bagian dari tabligh melalui teladan baiknya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Segi pertama untuk membela Islam dan menampakkan kebenarannya ialah dengan memperlihatkan keteladanan seorang Muslim sejati. Segi kedua ialah dengan menyebarluaskan di dunia perihal keistimewaaan Islam dan kesempurnaannya.”
Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kesempatan untuk menjalani hidup kita sesuai dengan ajaran ini, menjadi teladan Muslim sejati, menyebarkan keistimewaan dan kesempurnaan Islam meski terdapat semua penentangan serta menjadikan setiap kita termasuk yang melindungi Islam hakiki dan menampakkan kebenarannya.
Setelah shalat Jumat dan Ashar, saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk beberapa Almarhum. Pertama ialah untuk Tn. Maulana Hakim Muhammad Din dari Qadian, putra Tn. Aziz-ud-Din. Ia meninggal pada 15 Maret 2017 pada usia 97. إنا لله وإنا إليه راجعون “Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.” Kakek pihak ayah dari Almarhum ialah Tn. Hadhrat Hakim Maulvi Waziruddin, yang merupakan bagian dari 313 sahabat yang disebutkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam buku: Aina Kamalaat-e-Islam dan lampiran Anjaam-e-Atham. Tn. Hadhrat Hakim Maulvi Waziruddin kepala sekolah dari sebuah sekolah di Kangra yang secara ajaib pada gempa Kangra 1905, beliau selamat saat menjadi murid di sana. Gempat itu yang sebelumnya dinubuatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.
Tn. Hakim Muhammad Din lahir pada tahun 1920 di Mukerian, yang terletak di distrik Hoshiarpur. Beliau menyelesaikan pendidikan awal di Qadian dan memperoleh Gelar Munshi Faazal [tingkat pendidikan yang lebih tinggi sebelum ke universitas] dan setelah itu melanjutkan belajar kedokteran di Lahore selama dua tahun dan memperoleh gelar Hakim Hadziq. Dari tahun 1939 sampai 1944 beliau bertugas di departemen kereta api sebagai asisten kepala stasiun.
Di bawah skema Waqf Zindagi yang diserukan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra (Khalifah II ra), Tn. Hakim juga mengajukan permohonan untuk mengabdikan hidup beliau pada tahun 1943, namun, beliau disarankan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra untuk melanjutkan bidang pekerjaan beliau saat itu sambil bertabligh. Namun, saat beliau ra mendengarkan lagi khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, beliau ra berkeinginan mewakafkan diri dan bekerja sebagai Muballigh resmi dalam organisasi Jemaat. Dikarenakan keinginannya yang keras dan terus-menerus menulis surat kepada Hadhrat Khalifah kedua ra terkait khusus hal itu, akhirnya tiba waktunya Hadhrat Khalifah kedua ra memanggil beliau ra dan menerima beliau sebagai Muballigh. Awalnya beliau ditugaskan untuk membantu Maulwi Abdur Rahim Nayyar lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menugaskan beliau sebagai mubaligh di Bombay. Secara keseluruhan beliau memiliki kesempatan untuk berkhidmat selama 25 tahun dalam berbagai kapasitas.
Pada tahun 1972 beliau kembali ke Qadian dan pada awalnya ditugaskan sebagai guru di Madrasatul Ahmadiyah, setelah itu beliau menjabat selama dua belas tahun sebagai kepala sekolah dari Madrasah-ul-Ahmadiyah. Beliau menjabat dalam berbagai kapasitas lain sebagai kepala dewan Qadha, Sadr [kepala] Majlis Ansarullah dari India, anggota dan kemudian Sadr [kepala] Majlis Karpurdaz.
Beliau juga membuat Nazim [penanggungjawab] Wakaf-e-Jadid pada 2011 lalu hingga 2014 beliau memiliki kesempatan untuk melayani sebagai Sadr Sadr Anjuman Ahmadiyah. Beliau berkhidmat dalam waktu lama. Beliau juga memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.
Beliau biasa membaca Al-Qur’an dengan indah dan nyaring. Beliau seorang Mushi sejak awal mewasiyatkan 1/10 dari harta dan pendapatannya lalu berwasiat 1/7 kemudian 1/5 dari hartanya.
Beliau adalah seorang tanpa pamrih yang berkhidmat di berbagai kapasitas dengan sangat rendah hati. Beliau bekerja dibawah atasan beliau sejak kecil dengan ketaatan sempurna. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan memungkinkan para putra/inya memenuhi janji baiat, 3 orang putri beliau di Pakistan dan 3 orang putra beliau di India dan untuk melayani Jemaat dengan loyalitas dan ketulusan. Aamiin.
Sholat jenazah kedua adalah untuk Almarhum Tn. Fazal Ilahi Anwari, yang merupakan putra Tn. Master Imam Ali. Beliau wafat di Jerman pada tanggal 4 Maret 2017 di usia 90 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون
Beliau lahir di Bhera pada tanggal 16 April 1927. Pada tahun 1946 ia lulus ujian FSc nya dari Ta’lim-ul-Islam Tinggi di Qadian. Pada tahun 1947 beliau mengabdikan hidup beliau sebagai waqif-e-zindegi. Beliau memperoleh gelar BSc beliau dari Government College Lahore pada tahun 1950. Pada tahun 1951 beliau diterima di Jamiat-ul-Mubashireen [kursus lima tahun untuk melatih para mubaligh]. Setelah lulus dari situ mulailain pengkhidmatan dalam masa lama.
Pada tahun 1956 beliau dikirim sebagai mubaligh ke Ghana di mana beliau menjabat sampai tahun 1960. Antara tahun 1960-1964 beliau menjabat sebagai guru di Jamiah Ahmadiyah Rabwah. Dari tahun 1964 ke 1967 beliau menjabat sebagai mubaligh untuk Jerman Barat. Pada tahun 1968 beliau dikirim ke Nigeria, di mana beliau tinggal sampai tahun 1972. Pada tahun 1972 beliau kembali lagi ke Jerman dan berkhidmat di sana sampai tahun 1977. Pada 1979 beliau berkhidmat sebagai Sekretaris Hadiqatul Mubasysyirin dan Nazhir Ta’limul Qur’an.
Pada tahun 1982 beliau dikirim sebagai mubaligh ke Gambia. Pada tahun 1983 beliau dipindahkan ke Nigeria dan melakukan pelayanan di sana sampai 1986, setelah itu beliau ditugaskan sebagai guru di Jamiah Ahmadiyah Rabwah sampai 1988. Pada tahun 1988 itu beliau berkhidmat di Wakalatut Tashnif hingga pensiun di tahun itu. Beliau akhirnya pensiun pada tahun 1988 dan pindah ke Jerman.
Beliau berada di Jerman saat terjadi aksi-aksi gangguan terhadap Jemaat di Pakistan pada tahun 1974, beliau sangat membantu Jemaat dengan mengatur imigrasi selama bertahun-tahun bagi banyak Ahmadi yang ingin pindah ke Jerman. Hadhrat Khalifatul Masih III rha pun takjub dengan usaha bantuan beliau.
Tn. Irfan Khan, salah seorang Ahmadi lama di sana menulis, “Almarhum berlaku kepada kami seperti seorang bapak. Keadaan saat itu bagi Jemaat Jerman tidak begitu bagus. Hal ini membuat Almarhum mewanti-wanti kami agar jangan sampai memboroskan uang. Beliau akan berada di belakang kami saat kami berwudhu untuk memastikan air untuk wudhu tidak dihambur-hamburkan tanpa perlu. Para imigram saat itu kebanyakan ialah para pemuda. Almarhum bekerja mengikatkan mereka dengan Jemaat dan mendidik mereka. Beliau seorang yang qani’ (tidak rakus).”
Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat almarhum dan memungkinkan keturunan beliau untuk melanjutkan perbuatan-perbuatan baik beliau. Beliau telah menulis buku berjudul ‘Darweisy Qadian’.
Sholat jenazah ketiga adalah untuk Almarhun Tn. Ibrahim bin Abdullah Ugzul Sahib yang adalah ayah Tn. Jamal Ugzul dari Maroko. Beliau meninggal dunia pada tanggal 10 Maret 2017 pada usia 81. إنا لله وإنا إليه راجعون Kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kita akan kembali.
Beliau melakukan bai’at pada tahun 2000. Istri beliau menerima Ahmadiyah sebelum beliau. Dialah orang yang meyakinkan Almarhum untuk melakukan bai’at. Beliau menonton MTA secara teratur. Beliau melaksanakan shalat lima waktu secara teratur dan memiliki cinta khusus kepada Al-Qur’an. Beliau menyayangi dan baik hati terhadap semua keluarganya beliau menjaga agar keluarga besar beliau bersatu. Beliau dermawan dan menjaga tali silaturahmi. Beliau mengikutsertakan keluarganya yang lemah dalam ekonomi kedalam kemakmuran yang telah beliau dapat supaya tingkat ekonomi mereka meningkat.
Keramahan adalah salah satu sifat khusus beliau dan beliau akan selalu menyambut tamu dari sesama anggota Jamaat dengan bahagia. Beliau dikenal karena kejujuran beliau bahkan sejak usia dini. Ketika beliau bekerja di masa muda beliau, pemilik dari tempat beliau bekerja akan mempercayakan beliau dengan semua barang dagangan dan modalnya – yang mencengangkan rekan kerja beliau. Dalam beberapa hari terakhir beliau selama periode sakitnya, beliau terus menanyakan tentang doa-doa. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat almarhum dan memberikan ketabahan kepada semua orang yang dikenal beliau, dan memungkinkan mereka untuk tetap melekat pada Khilafat. آمين

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono
Sumber referensi resmi: http://www.Islamahmadiyya.net (teks bahasa Arab)
Bantuan sebagian teks penerjemahan dari Ratu Gumelar

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s