Istighfar, Sedekah dan Menghindari Bala Bencana

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad Khalifatul Masih
al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

24 Februari 2017 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

‎أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ
‎أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

‎أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

‎بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ *
‎الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ
‎نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ
‎أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ.
‎(آمين)

Keadaan dunia pada masa ini telah kita ketahui. Kita lihat kerusakan
dan perselisihan yang lazim di tiap tempat di dunia. Kekuatan anti
Islam melemparkan tanggungjawab kesalahan itu terhadap umat Islam
sebagaimana telah pernah saya katakan berkali-kali. Tentu saja, memang
benar, beberapa kelompok yang menyebut diri Muslim atas nama Islam
melakukan kekejaman dan tindakan barbar di dunia Muslim dan
non-Muslim. Tidak ada hubungan antara Islam, baik hubungan dekat
maupun jauh. Namun hal ini juga benar bahwa ada rancangan dan situasi
yang sengaja dibuat untuk menciptakan keadaan yang demikian diantara
umat Muslim. Memang, golongan Muslim tertentu yang mementingkan diri
sendiri (radikalis) dan bersikap munafik paling bertanggungjawab atas
kesalahan yang menyebabkan kerusakan pada nama Islam karena mereka
menjadi alat dari pihak-pihak kuat yang menggunakan mereka.

Ringkasnya, keadaan

terkini di dunia tengah genting. Disebabkan
kelakuan buruk sebagian umat Islam, kekuatan anti Islam mendapat
kesempatan memburuk-burukkan nama Islam. Umumnya orang di dunia juga
menghitung kita, Muslim Ahmadi sebagai umat Muslim secara keseluruhan
dan dengan demikian Ahmadiyah juga menjadi sasaran kritik, sedangkan
mereka yang akrab dengan komunitas Muslim Ahmadiyah mengenali kita
hanya mempromosikan kedamaian dan kecintaan. Namun banyak orang yang
membuat persepsi yang sama kepada kita seperti gambaran yang media
massa lukiskan pada mereka mengenai Islam dan umat Muslim pada
umumnya.

Lebih lanjut, partai-partai Nasionalis ekstrim [menjunjung tinggi
kecintaan terhadap negara secara fanatik] di beberapa negara tidak mau
mendengarkan alasan serta mendesak tindakan dan pemikiran yang negatif
serta berperilaku berdasarkan hal itu. Jenis penentangan yang
signifkan ini terjadi di Jerman Timur dan di Belanda yang sedang
menghadapi pemili dalam waktu dekat. Demikian pula, partai-partai
beraliran kanan di negara-negara Eropa lainnya pun menguat. Adapun
keadaan yang tengah terjadi di Amerika Serikat juga telah jelas bagi
semua orang.

Sebagai Ahmadi, kita harus menghadapi kesulitan dalam dua hal: sebagai
orang Islam yang tinggal di negara-negara Barat, dan sebagai seorang
Muslim Ahmadi di negara-negara Muslim yang mana kita tertindas karena
menjadi Ahmadi. Hal tersebut penyebab satu-satunya ialah karena kita
telah beriman kepada Munadi (sang penyeru) yang datang sesuai dengan
janji Allah.

Contohnya, di Pakistan kita diperlakukan aniaya di bawah hukum yang
tidak adil yang memberikan izin gratis kepada para ulama Muslim untuk
memusuhi kita dan pengadilan terpaksa memutuskan dengan tidak adil
karena takut terhadap para ulama. Namun sekarang di Aljazair keadaan
yang serupa telah muncul. Karena pengadilan di sana ketakutan terhadap
yang mereka sebut para ulama; mereka memenjarakan para Ahmadi dengan
tuduhan yang tak berdasar. Setidaknya, 16 orang Ahmadi yang tidak
bersalah telah dipenjarakan di Aljazair hanya karena mereka bergabung
dengan Jemaat.

Jadi apa yang harus seorang Ahmadi dalam semua keadaan ini? Kita perlu
memberikan penekanan untuk beribadah, Istighfar (mencari pengampunan
dari Allah) dan sedekah (pengorbanan keuangan dan memberi sedekah).
Kita tidak punya pemerintahan duniawi. Kita tidak punya kekayaan harta
duniawi yang melimpah. Kita tidak punya kekayaan minyak. Namun,
terdapat hal yang bisa setiap Ahmadi lakukan yakni mendekatkan diri
kepada Allah Ta’ala dengan beribadah, bersedekah dan beristighfar.
Inilah yang dapat menarik kasih sayang Allah Ta’ala dan untuk datang
kedalam perlindungan-Nya. Dalam khotbah-khotbah saya sebelumnya, telah
saya uraikan pengarahan pandangan pada ibadah, terutama pada shalat.
Sementara hari ini saya akan berfokus pada soal memberikan sedekah dan
Istighfar serta akan saya jelaskan bahwa itu ialah sarana untuk meraih
kedekatan Ilahi.

Tidak diragukan lagi bahwa terdapat jenis-jenis kelemahan pada diri
manusia. Pada suatu ketika seseorang tidak menunaikan hak ibadah
karena kesibukan duniawinya. Namun, ketika mereka menghadapi kesulitan
pribadi, mulailah ia bersedekah sedikit sementara jika tidak dalam
kesulitan, ia tidak bersedekah. Demikian pula, mereka tidak menunaikan
hak istighfar sebagaimana mestinya. Jika kita memeriksa diri kita
sendiri pasti akan tampak jelas sekali banyak dari kita yang tidak
menunaikan kewajiban-kewajiban.

Jika Anda sekalian ingin meraih karunia-karunia Allah dan menarik
rahmat-Nya serta membuat frustasi usaha-usaha para musuh dan penentang
maka mau tak mau harus memperhatikan setiap keadaan yang mengarah pada
perkara-perkara yang membuat kita dapat menarik ridha Allah dan
ampunan-Nya. Tatkala Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia menerima
pertobatan dan permohonan ampun serta sedekah-sedekah dari para
hamba-Nya maka yang menjadi sebab di balik itu ialah memperhatikan
pemfokusan pada pertobatan dan istighfar untuk mengangkat
kesulitan-kesulitan Anda, memperhatikan Anda dan semakin maju dalam
mendekatkan Anda kepada-Nya serta mengampuni kesalahan-kesalahan masa
lalu Anda, memberi taufik pada Anda untuk menjadi hamba-hamba
sejati-Nya dan mengasihani Anda sebagaimana firman-Nya: أَلَمْ
‎يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ
‎وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari
hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima
taubat lagi Maha Penyayang?” (Surah At-Taubah, 9:104)

Pada suatu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan
pentingnya sedekah dan doa: “Sedekah diambil dari kata shidq (benar).
Ketika seseorang memberikan sedekah di jalan Allah Ta’ala maka dari
tindakannya tampak jelas ia seorang yang benar dalam pandangan Allah.
Hal kedua ialah doa. Dengan doa, terciptalah api gejolak, keluwesan
dan kelembutan dalam hati. Doa menuntut pengorbanan dan jika hal-hal
ini terjadi di dalam hati seseorang maka itu menjadi iksiir (eliksir,
ramuan obat ajaib atau ampuh).”

Maka dari itu, istighfar juga adalah jenis doa dan ketika seseorang
berdoa [beristighfar] dengan mengingat dosa-dosanya dan pokok-pokok
kelemahannya maka di dalam hatinya tercipta kelembutan dan semangat.
Semacam kegundahan dan kegelisahan memang harus ditimbulkan di dalam
hatinya saat itu. Jika tidak demikian, maka hanya mengucapkan
‘Astaghfirullah’, ‘Astaghfirullah’ secara lisan saja tidak akan
mencapai sasaran yang dituju dan posisi fokusnya ke arah selain Allah.
Demikianlah, sesungguhnya Allah Ta’ala menerima doa-doa dan
sedekah-sedekah yang ditunaikan oleh seseorang dalam keadaan tertekan
demi menarik rahmat Allah Ta’ala.

Melalui Nabi Muhammad saw, Allah Ta’ala telah memberikan kabar suka
mengenai pengabulan doa dan sedekah-sedekah. Allah Ta’ala menambahkan
bahasan mengenai pengabulan doa dan sedekah-sedekah sebagai berikut,
‎وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ
‎تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي
‎يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً “…Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal
maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta
maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan
berjalan, maka Ia datang dengan berlari.”[1]

Nabi Muhammad saw juga bersabda, إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
‎حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ
‎إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا “Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha
Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa
dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya
dengan hampa .”[2]

Namun, bukan suatu keharusan bagi Dia untuk senantiasa memperlihatkan
natijah (hasil) doa sesuai yang diinginkan oleh pendoa dan mengabulkan
dengan segera. Terkadang hasil-hasil doa dan sedekah terlihat sesuai
hikmah Allah Ta’ala setelah beberapa waktu dan dalam bentuk berbeda
dengan apa yang diinginkan oleh hamba yang berdoa. Sementara terkadang
Dia menampakkan hasil doa dengan segera dan sesuai dengan permintaan
hamba-Nya.

Dalam setiap kasus seseorang harus mengimani dengan kepercayaan
sempurna terhadap apa yang telah Allah firmankan bahwa Dia pasti
mengabulkan doa-doa kita, menerima Istighfar kita dan sedekah kita.
Maknanya, ketika seorang manusia memohon pengampunan atas dosa-dosanya
dan mengimani secara kuat dan mendalam serta jujur lalu berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi dosa-dosa dan
kelemahan-kelemahan di masa mendatang, Allah akan mengabulkan
permohonan dari orang tersebut dan menyelamatkannya dari
kesulitan-kesulitannya semuanya.

Kita harus selalu ingat bahwa Allah mengetahui keadaan hati kita.
Tindakan yang dilakukan untuk riya (pamer) tidak akan Dia terima.
Seseorang yang melakukan perbuatan yang dilakukan secara tulus demi
meraih ridha Allah tidak akan Dia tinggalkan tanpa hasil dan ganjaran
sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw.

Sesungguhnya Allah Ta’ala menyayangi para hamba-Nya hingga sampai ke
tingkat yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa mereka yang tidak
punya harta cukup untuk membayar sedekah maka amal perbuatan baik
mereka dan penahanan diri mereka dari keburukan membuat mereka
menerima pahala sedekah juga. Ibadah, istighfar dan perbuatan baik
mereka yang bermanfaat bagi orang lain diterima oleh Allah dalam corak
ibadah dan istighfar dan demikian pula amal perbuatan baik mereka
mendapatkan ganjaran sedekah juga. Sebagaimana usaha seorang yang kaya
untuk mendapatkan ganjaran dengan bersedekah, demikian pula orang
miskin berusaha mendapatkan ganjaran serupa karena kebaikan niatnya
[untuk bersedekah] dengan syarat ia mengamalkan perintah-perintah
lainnya.

Dengan demikian, kita harus sangat bersyukur kepada Allah yang Maha
Menyayangi hingga ke tingkat ini! Tuhan itu Yang bukan hanya sudah
mengajarkan kepada kita metode menjaga diri dari dosa-dosa, tetapi Dia
juga berfirman bahwa Dia menerima upaya yang kita lakukan untuk
menjauhi kita dari kekurangan dan dosa-dosa serta menyelematkan kita
dari musibah-musibah dan ujian di masa depan. Satu-satunya cara kita
dapat mengeluarkan diri dari situasi-situasi sulit ialah dengan sujud
di hadapan Allah yang Mahakuasa dengan ketulusan hati dalam
ibadah-ibadah dan doa-doa kita kepada-Nya serta kita juga harus
menaruh perhatian khusus terhadap Istighfar [mencari pengampunan] dan
shadaqah [sedekah] baik dalam Nizham Jemaat maupun secara pribadi
juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan banyak hal dan menjelaskan
kedalaman tema sedekah dan istighfar dalam sejumlah kesempatan. Saya
sampaikan sebagian daripadanya tentang penjelasan beliau mengenai
hakekat istighfar: “Dosa adalah ibarat cacing (ulat atau sejenis
serangga) yang berjalan di dalam darah manusia. Tidak ada obatnya
kecuali dengan istighfar saja. Apa itu Istighfar? Ketahuilah!
Istighfar ialah permohonan seseorang kepada Allah agar Dia
melindunginya dari dampak-dampak keburukan dosa yang telah
dilakukannya; dan jangan sampai membuat dosa yang ada dalam jangkauan
kekuatan manusia, (yaitu kemungkinan melakukannya atau semua kekuatan
yang ada dalam diri jangan sampai mengarah pada hal-hal dosa dan harus
menyeru kepada Allah agar tidak membuat dosa-dosa) dan membakar segala
dosa dari dalam serta menghancurkannya berkeping-keping. Artinya,
istighfar ialah permohonan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu
dan pemberian taufiq (kekuatan dan kesempatan) untuk dapat menjauhinya
di masa yang akan datang supaya rahmat Allah teralirkan dan Dia
memuliakan kita dengan rahmat-Nya dan karunia-Nya senantiasa. Ini
adalah masa-masa yang menakutkan. Jadi kalian bersegeralah bertobat
dan beristighfar.”

“Masa ini adalah masa yang menakutkan sehingga seseorang harus terus
bertobat dan istighfar. Periksalah dirimu sendiri. Pengikut setiap
agama, kepercayaan dan penganut Kitab suci tertentu mengimani bahwa
adzab dapat hilang dengan sedekah-sedekah dan derma-derma dengan
syarat dibayarkan sebelum turunnya adzab. Namun, bila adzab telah
turun maka tak dapat dibatalkan selamanya. Dari sekarang, sibuklah
dalam istighfar dan bertobat sehingga kesialan tidak datang padamu dan
Allah menjagamu.”[3]

Hingga sekarang kita menanggung kesulitan-kesulitan kecil dan kita
melihatnya di depan mata kita. Arah yang dituju oleh dunia yang
membuat orang-orang menikmati kebebasan secara mutlak dan yang dari
itu timbul perbuatan-perbuatan yang memancing kemurkaan Allah,
sehingga mengarahkan pada kehancuran yang mereka buat sendiri.
Sebagaimana keadaan dunia saat ini, bagaimana kemurkaan Allah Ta’ala
sedang menampakkan wajahnya. Dalam keadaan demikian merupakan tugas
murid-murid Hadhrat Masih Mau’ud as untuk berdoa bagi penduduk dunia,
semoga orang-orang ini diberikan akal oleh Allah Ta’ala, fokus pada
tobat dan istighfar supaya menyelamatkan mereka dari akhir hidup yang
buruk.

Lebih lanjut menguraikan subyek Istighfar, Hadhrat Masih Mau’ud as
menyatakan, “Ketahuilah! Dalam Al-Quranul Karim, Allah telah menyebut
dua nama-Nya, yaitu Al-Hayyu [Maha Hidup] dan Al-Qayyum [Penegak dan
menyokong semua]. Sifat Al-Hayyu maksudnya ialah Dia Maha Hidup dan
menganugerahi kehidupan bagi yang lain. Pengertian Al-Qayyum ialah Dia
Tegak dengan Sendirinya dan Penyebab tegaknya yang lain.
Keberlangsungan eksistensi segala sesuatu secara lahiriah dan batiniah
dan kehidupan mereka ialah berkat kedua sifat-Nya ini. Sifat Al-Hayyu
menuntut kita menyembah Allah saja dan manifestasi penyembahan itu
tercantum dalam Surah Al-Fatihah ‘iyyaaKa na’budu’ (kami menyembah
Engkau saja). Sedangkan sifat Al-Qayyum menuntut bahwa kita harus
mencari bantuan-Nya. Telah jelas pengertian ini dari kalimat ‘iyyaaKa
nasta’iin’.

Sifat “Al-Hayyu” menginginkan supaya kita beribadah kepada-Nya karena
Dia adalah Pencipta segala sesuatu dan setelah penciptaan tersebut,
Dia tidak menganggur. Contohnya, ketika para pembangun
bangunan-bangunan itu telah selesai, beberapa masa kemudian para
pembangun itu pun mati sementara bangunan-bangunan karya mereka belum
lagi rusak. Namun, manusia selalu memerlukan Allah. maka dari itu,
kita berkewajiban untuk terus meminta kekuatan dari Allah Ta’ala.
Inilah istighfar yang sesungguhnya. (Jika kita masih meminta kekuatan
kepada Allah untuk melindungi diri dari dosa-dosa dan kita rajin
meminta kekuatan juga kepada-Nya untuk beribadah kepada-Nya maka
inilah dia istighfar.) Inilah hakekat istighfar. Kemudian pokok
masalahnya diperluas bagi mereka yang telah berdosa meminta
perlindungan dari Allah supaya terselamatkan dari dampak-dampak buruk
dosa. Hal pokoknya ialah permohonan seseorang agar selamat dari
keburukan-keburukan yang bisa terjadi dari kelemahan manusiawi. Mereka
yang tidak menghargai istighfar padahal dia manusia maka ia adalah
seorang mulhid (Ateis) yang beradab buruk.

Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan mengenai pencapaian kedekatan
kepada Allah, pentingnya Istighfar dan bertobat bahwa manusia telah
diciptakan untuk tugas yang sangat mulia. Beliau as menjelaskan bahwa
pada diri seseorang harus tercipta perubahan suci. Dalam tugas agung
manusia agar terjadi perubahan suci dalam dirinya, berhubungan damai
dengan Allah dan tidak ada kemurkaan di dalamnya. Apakah tujuan
seseorang datang ke dunia? Tujuan ini ialah sebagaimana yang telah
kita ketahui dan telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala sendiri dan itu
adalah untuk mencapai kedekatan dengan Allah melalui ibadah
kepada-Nya.

Beliau bersabda, “Manusia telah diciptakan untuk tujuan yang sangat
mulia. Namun, ketika telah datang waktu yang ditentukan dan manusia
tidak memenuhi tujuan ini maka Allah akan mengakhirinya. Ambillah
contoh seorang pelayan. Saat ia tidak menyelesaikan pekerjaannya
dengan semestinya, pasti majikannya akan memecatnya. Bagaimana mungkin
Allah akan tetap menjaga mereka yang tidak menunaikan kewajibannya?

Tn. Mirza kami (ayahanda Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah Almarhum)
sebagai tabib telah melakukan pengobatan terhadap orang-orang selama
50 tahun. Beliau biasa berkata bahwa beliau tidak menemukan suatu
resep yang tepat dan benar. Betapapun lamanya penelitian dan
pengobatan, benar bahwa tanpa perintah dan karunia Allah Yang Maha
Kuasa, maka setiap partikel yang kita telan dan cerna tidak akan
memberikan manfaat.

Kita harus sangat terlibat dalam mencari ampunan dari Tuhan sehingga
Dia berkenan untuk menganugerahi rahmat-Nya. Ketika rahmat Allah
datang, maka doa-doa pun akan diterima. Allah Ta’ala berfirman bahwa
Dia akan menerima doa-doa dan Dia juga berfirman bahwa Ketetapan-Nya
harus diterima. Inilah mengapa kecuali jika perintah Allah Ta’ala akan
datang, saya tidak berharap banyak atas diterimanya doa. Manusia
sangatlah lemah dan rapuh. Kita harus selalu mendekatkan diri pada
karunia Allah Ta’ala”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud as juga menyatakan bahwa doa adalah sarana untuk
memperoleh keselamatan. Kaum nabi Yunus selamat dari hukuman Tuhan
yang akan datang sebagai hasil dari doa permohonan yang
merendah-rendah dan tangisan. Saya berpandangan bahwa kemurkaan itu
artinya teguran (penampakkan kemarahan dan teguran). Hut artinya ialah
ikan. Sedangkan Nun berarti impulsif dan juga ikan. Keadaan Nabi Yunus
as saat itu dalam kemarahan.

Hal yang sebenarnya terbetik pemikiran dalam diri beliau disebabkan
adzab yang tidak turun atas kaumnya yang juga mengeluhkan bahwa doa
dan nubuatan Nabi Yunus as itu sia-sia. Beliau berpikiran juga bahwa
perkataan beliau tidak terjadi. Inilah keadaan kemarahan. Dalam hal
itu ada sebuah pelajaran penting bahwa Allah dapat merubah taqdir-Nya.
Sikap merendahkan diri, memohon-mohon dalam berdoa dan sedekah-sedekah
dapat membatalkan hukuman atas dosa-dosa yang telah jelas terbukti.
Dari hal ini tersedia prinsip dikeluarkannya sedekah-sedekah. Ini
adalah jalan-jalan ridha Ilahi.

Arti hati dalam ilmu menjelaskan arti mimpi ialah harta. Maka,
mengeluarkan uang untuk sedekah itu seperti mengorbankan jiwa. Betapa
seseorang menegaskan kebenaran dan keteguhannya saat memberi sedekah!
Faktanya, kata-kata saja tidak akan bermanfaat bagi seseorang sedikit
pun selama tidak dia buktikan dengan amal perbuatan. Sedekah dinamai
shadaqah karena ia menjadi tanda bagi orang-orang benar. Dalam kitab
‘Ad-Durrul Mantsur saat membahas riwayat Nabi Yunus as tercantum
firman Allah Ta’ala, ‘Sudah Aku ketahui sebelumnya bahwa jika
seseorang datang kepadamu maka dia akan dirahmati.’ “[5]

ini harus dipelajari dari ini yang adalah bahwa doa-doa yang intens
emosional dan sungguh-sungguh dan shadaqah dapat mengubah arah takdir.
Ini adalah dari ini bahwa kami memperoleh konsep menawarkan sedekah,
dan tindakan ini sangat menyenangkan Allah yang Mahakuasa. Dalam buku
ini, Ilm-ul-Tabir-ul-Roya [disiplin interpretasi mimpi], hati
melambangkan kekayaan karena itu berarti bahwa untuk menawarkan
shadaqah mirip dengan menawarkan kehidupan seseorang. Faktanya adalah
bahwa gunakan pidato adalah sia kecuali satu juga menunjukkan
demonstrasi praktis bersama dengan itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as berbicara di sebuah majlis dan rincian itu
diterbitkan di Suratkabar Al-Badr bahwa beberapa orang datang dari
luar Qadian dan setelah shalat Jumat duduk-duduk bersama beliau as.
Suratkabar tersebut menuliskan, “Setelah Shalat Jumat penduduk desa
sekitar berbaiat lalu Hadhrat Masih Mau’ud as bersada mengenai tema
menegakkan shalat dan puasa serta menjauhi keaniayaan dan lain
sebagainya. Dan beliau as menganjurkan untuk menasehati para Ahmadi
baik perempuan, laki-laki, remaja putri dan putra agar berbuat
kebaikan dan kesalehan di rumah-rumah. Sebagaimana pohon dan
batang-batangnya tidak diairi dengan baik maka tidak berbuah, demikian
pula bila hati tidak diairi dengan air kebaikan, maka itu tidak
bermanfaat bagi manusia sedikit pun.”

(Beliau as bersabda bahwa suatu keharusan untuk menceritakan
kebaikan-kebaikan secara kontinyu di dalam rumah masing-masing supaya
tercipta ikatan kuat pada doa, istighfar dan pengutamaan pada
perbuatan baik lainnya. Hal-hal itu air yang menyirami pohon kebaikan
dan kesalehan serta menguatkan iman.) Penulis riwayat ini menjelaskan
bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as berpesan agar menjauhi duduk-duduk di
pertemuan orang-orang yang menertawakan dan mengejek orang lain.

Selanjutnya, beliau as menyebutkan wasiat para Nabi bahwa bala bencana
dapat ditolak dengan sedekah dan doa. Sabda beliau, “Jika Anda
sekalian tidak mempunyai uang, Anda dapat memenuhi ember orang lain
dengan air. (menimba air dari sumur lalu memenuhi ember seseorang
dengan air. Hal ini juga termasuk sedekah.) Membantu orang lain dengan
uang dan kekuatan jasmani juga bentuk sedekah.”

Pada satu segi berpegang teguh pada ibadah itu suatu keharusan demi
meraih karunia Allah Ta’ala; demikian pula pada segi lainnya merupakan
suatu keharusan untuk menjauhi keburukan dan menolong orang lain.
Suatu keharusan pula untuk menganjurkan kebaikan bukannya menghabiskan
waktu dalam obrolan sia-sia dan pembicaraan duniawi. Begitu pula
menghindari pertemuan-pertemuan saling mengolok dan mengejek.
Sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa itu semua
merupakan kebaikan dan terhitung sedekah. Menjulurkan tangan menolong
orang lain juga sedekah. Menghilangkan kesulitan orang lain juga
sedekah. Maka dari itu, kita harus memperhatikan hal ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan, “Merupakan kesepakatan semua agama
bahwa pemberian sedekah dan pertobatan dapat menghapus bala bencana.
Jika bala bencana itu sudah dititahkan oleh Tuhan beberapa waktu
sebelumnya maka itu adalah Nubuatan wa’iid (ancaman). Nubuatan jenis
ancaman ini pun bisa terhapus dengan sedekah dan tobat serta kembali
kepada Allah Ta’ala. Seratus dua puluh empat ribu (124.000) Nabi
semuanya setuju bahwa bala bencana bisa dihapus dengan
sedekah-sedekah. Orang-orang Hindu juga bersedekah kala mendapat
musibah. Jika bala bencana tidak terhapus dengan sedekah-sedekah maka
semua sedekah pasti sia-sia saja.”[6]

Ketika Allah berfirman bahwa Dia menerima sedekah-sedekah maka Dia
Maha Kuasa mengabulkannya bahkan hingga setelah memberi peringatan
melalui para Nabi-Nya dan utusan-Nya. Dia hapuskan nubuatan ancaman
juga sebagaimana terjadi pada kaum Nabi Yunus yang selamat disebabkan
doa, sedekah, kerendahan hati dan jeritan permohonan mereka sehingga
nubuatan kehancuran mereka dihapus. Jika merupakan hal yang mungkin
bahwa nubuatan para Nabi terhapus dengan sedekah maka mengapa tidak
hilang jua kesulian – yang terjadi sebagai dampak perbuatan manusia
dan dampak kelupaannya terhadap Allah – dengan karuna kembali kepada
Allah, istighfar, pertobatan dan sedekah akan hilang sepenuhnya dengan
syarat merendah-rendahkan diri, permohonan, doa dan sedekahnya sesuai
hukum Allah Ta’ala.

Nabi saw suatu kali bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ
‎الرَّبِّ وَتَدْفَعُ عَنْ مِيتَةِ السُّوء “Memberi sedekah dapat
mencegah murka Tuhan dan mencegah kematian buruk.”[7] Pada kesempatan
lain Nabi saw bersabda, اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
‎وَالْقَلِيلِ مِنْ الصَّدَقَة “Selamatkan diri dari api neraka dengan
memberi sedekah, bahkan jika itu adalah melalui memberikan sepotong
buah kurma dan sedikit sedekah.”[8]

Kita juga telah mendengar bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda,
“Mengamalkan perbuatan-perbuatan baik dan menahan diri untuk tidak
melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Ini akan menjadi sedekah
bagi diri seseorang yang melakukannya.”[9]

Ringkasnya, kita harus mengingat di benak kita hal ini. Namun seiring
dengan itu hendaklah kita ingat apa-apa yang sudah dijelaskan bahwa
menaruh perhatian pada istighfar dan doa-doa juga adalah hal yang
diharuskan.

Istighfar yang dilakukan dari hati yang mendalam melindungi seseorang
dari kemaksiatan dan menarik rahmat Allah dan mendekatkan diri
kepada-Nya.

Di satu kesempatan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, مَنْ فُتِحَ لَهُ
‎مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا
‎سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ
‎الْعَافِيَةَ “Seseorang yang untuknya pintu doa telah dibukakan, pintu
karunia juga terbuka untuknya. Apapun yang kalian minta dari Allah,
yang paling disukai-Nya ialah meminta perlindungan dari-Nya. ”[10]

Kemudian, Hadhrat Rasulullah saw juga bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ
‎يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ
‎اللَّهِ بِالدُّعَاءِ “Doa yang dipanjatkan di saat turun ujian atau
cobaan, apakah telah terjadi atau yang akan datang itu sangat
bermanfaat. Ini merupakan kewajiban dari setiap hamba Allah Ta’ala
untuk senantiasa memanjatkan doa.”[11]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ingatlah! Dosa ghaflat (dalam
kelalaian) itu lebih hina dibandingkan dosa yang dilengkapi dengan
penyesalan. Dosa jenis tersebut lebih beracun dan membunuh. Orang yang
benar-benar bertobat seolah-olah tidak melakukan dosa apapun.
Sementara seseorang yang tidak menyadari apa-apa yang tengah ia
lakukan maka ia berada dalam bahaya besar. Suatu keharusan yang sangat
bagi kalian untuk meninggalkan kelalaian (kehidupan tanpa kesadaran),
bertobat dari dosa-dosa dan bertakwa secara terus-menerus. Seseorang
yang meluruskan diri keadaannya dengan tobat maka ia akan selamat
dibandingkan orang-orang lain. Secara ekslusif doa itu bermanfaat bagi
orang yang memperbaiki dirinya dan menjalin hubungan yang benar dengan
Allah. Jika Hadhrat Rasulullah saw memberi syafaat kepada seseorang
tapi orang yang disyafaati tidak memberbaiki diri dan keluar dari
kehidupan penuh kelalaian maka syafaat itu takkan menolong.”[12]

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menjadi orang-orang yang
memahami hakikat doa, bersujud di hadapan-Nya dengan penuh ketulusan,
menaruh perhatian pada istighfar dan senantiasa memohon pengampunan
atas dosa-dosa yang lalu, berjanji menjauhi keburukan-keburukan di
masa mendatang lalu berusaha keras memenuhi janji ini. Semoga kita
senantiasa dapat bersedekah yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala untuk
menolak bala bencana. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari segala
macam rencana jahat musuh dan melemparkan kembali itu kepada mereka.
Semoga Dia menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mengamalkan
khasy-yatuLlah dalam hati kita dan menjadikan kita pewaris doa-doa
Hadhrat Rasulullah saw dan Hadhrat Masih Mau’ud as serta meraih aliran
berkat-berkatnya. آمين Aamiin

Setelah shalat Jumat saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk Ibu
Sa’da Bartawi, yang merupakan isteri Tn. Murree Bartawi. Beliau
menderita luka bakar parah akibat kebocoran gas. Ketika dibawa ke
rumah sakit kesehatannya membaik secara signifikan. Namun, empat hari
kemudian dia menderita serangan jantung dan akibatnya ia meninggal
dunia pada 10 Desember 2017. Allah kita milik dan kepadanya kami akan
kembali.

Almarhumah baiat masuk Ahmadiyah setelah baiat suaminya pada 2004
lalu. Namun, dalam hal kesetiaan dan ketulusan terhadap Jemaat, beliau
melebihi suaminya dan anak-anaknya.

Suaminya, Tn. Muree mengatakan, “Almarhumah hamil segera setelah
mengimani Jemaat. Suatu hari ia jatuh dari tangga dan ada risiko bahwa
dia mungkin mengalami keguguran. Saat malam dalam mimpi dia mendengar
suatu suara dari langit yang menyatakan: ‘Jangan takut! Allah akan
melindungi janin ini.’ Setelah pengalaman ini kami memutuskan jika
dikaruniai seorang anak laki-laki akan kami namai dia Ahmad. Demikian
pula Dia melihat satu lagi mimpi di mana suara dari langit menyeru
bahwa ‘Allah akan menjaga anak ini’. Suatu hari dia sedang berjalan di
sisi jalan dengan anaknya. Anak itu melepaskan tangan ibu-nya dan
mulai untuk menyeberang jalan tol. Dia memegang kepalanya dan menutup
matanya. Dengan keheranan ketika membuka matanya, dia melihat anaknya
dengan aman melintasi jalan Raya dan berdiri di sisi lain.”

Anak menantunya, Tn. She’eri Sahib, yang tinggal di Jerman menyatakan,
“Almarhumah adalah seorang wanita sangat saleh dan sederhana yang
tidak akan pernah bertengkar dengan siapa pun. Suaminya ditahan aparat
pada tahun 2009 dan sampai 2013. Beliau merawat anak-anaknya dengan
cara yang terbaik sesuai kemampuannya. Ia bekerja untuk membesarkan
anak-anaknya dan melunasi utang mereka. Ia dimakamkan di wilayah
Hosharb, Damaskus (ibukota Suriah). Semoga Allah yang Mahakuasa
mengasihaninya dia dan mengaktifkan anak-anaknya untuk tetap tegas
terikat dengan Khilafat.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono

Sumber referensi resmi: http://www.Islamahmadiyya.net (teks bahasa Arab)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s