Ahmadiyah: Jalan Evolusi Spiritual

 

Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
10 Februari 2017 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Kalau kita perhatikan orang orang di dunia ini, secara umum memanjakan diri dalam materialisme (paham kebendaan) hari demi hari. Ada semacam perlombaan untuk meraih dan mengejar sarana-sarana duniawi, dan sebagai akibatnya terdapat begitu banyak gejolak dan kekacauan. Allah Ta’ala dan agama dijadikan kepentingan sekunder (nomor dua, bukan utama). Bahkan, ada juga orang di dunia yang mengingkari adanya Tuhan dan menganggap agama sebagai sesuatu yang sia-sia (na’udzu billah). Jumlah mereka semakin banyak. Namun, bersamaan dengan keadaan itu, ada juga orang orang yang telah lama mencari Tuhan dan agama yang menghubungkan mereka dengan Tuhan.
Mereka ingin berhubungan dengan Tuhan dan

mengenali agama yang benar. Setelah menemukan agama yang sejati, mereka pun ingin ikut bergabung di dalamnya. Dalam rangka itu, mereka berdoa tanpa lelah dan begitu gelisah. Tidak diragukan lagi, kepada orang-orang yang saleh demikian ini saat mereka dengan penuh kepedihan, kehausan [akan kebenaran] dan api gejolak Allah Ta’ala memberikan petunjuk-Nya dan memperlihatkan jalan yang lurus. Dia bombing orang-orang yang pedih hatinya kepada kebenaran dengan berbagai cara membuat mereka semakin yakin dalam kebenaran.
Pada zaman ini, Allah Ta’ala mengutus seorang pelayan sejati Nabi Muhammad saw yang merupakan Al-Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi sesuai dengan yang telah Dia janjikan supaya umat manusia meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala dan memahami agama-Nya serta memerintahkan mereka agar berbaiat kepada beliau as untuk memadamkan api gejolak hati mereka dan menentramkan mereka. Jadi, kalian harus menapaki jalan taqwa menuju Allah; dan memenuhi tolok ukur hakiki ibadah kalian lalu akan kalian saksikan kesaksian jawaban doa-doa kalian. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, orang-orang yang di dalam hatinya terdapat keperihan hakiki dibimbing oleh Allah Ta’ala dengan berbagai cara dan Dia menambahkan iman mereka.
Sejarah Jemaat Ahmadiyah baik di masa lalu hingga sampai saat ini menjadi saksi banyaknya kisah seperti ini. Peristiwa peristiwa yang terjadi yang sifatnya demikian bermunculan di seluruh dunia baik itu di salah satu desa, kota atau negara. Kisah-kisah yang demikian meningkatkan keimanan tidak hanya dari mereka yang baru bergabung ke dalam Ahmadiyah – Islam yang Hakiki – namun demikian juga menjadi inspirasi keimanan bagi para Ahmadi keturunan, atau para Ahmadi yang sudah lama. Hari ini saya hendak menceritakan beberapa kisah atau pengalaman orang-orang tentang bagaimana Tuhan menyediakan sarana-sarana petunjuk bagi manusia sebagai karunia dari-Nya.
Tn. Amir Gambia [sebuah Negara di Afrika] melaporkan bahwa seorang wanita yang berusia 65 tahun di sebuah desa di wilayah timur Niamena, Ibu Kani Fati menderita sakit di kakinya selama 10 tahun dan belum bisa menemukan penyembuh dari penyakitnya tersebut. Disebabkan penyakitnya ini, ia tidak dapat berjalan. Ia pergi ke wilayah Bansang untuk perawatan. Itu jauh dari rumahnya. Secara kebetulan ia mendengar Khotbah Jumat saya di sana di stasiun televisi MTA. Dalam perjalanannya pulang, ia diberitahukan dalam mimpi dengan perkataan ‘orang yang engkau lihat di TV adalah orang yang harus kau ikuti karena ia menunjukimu menuju jalan yang lurus dan memberitahukanmu mengenai cara untuk mendapatkan keselamatan yang hakiki’. Wanita tersebut lantas berbai’at.
Setelahnya, rasa sakit di kakinya perlahan mereda dan menghilang. Hal itu menambah kuat keimanannya. Ia sekarang menablighkan orang lain di desanya semua dan mengatakan kepada mereka bagaimana Allah Ta’ala meredakan penderitaan fisik di kakinya sebagai keberkatan bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah.
Sesungguhnya Allah ketika ingin menyelamatkan seseorang dikarenakan kebaikan orang itu atau jika Allah menyukai sesuatu kebaikan dari orang itu maka Dia akan memberi petunjuk dengan cara-cara ajaib. Orang-orang duniawi akan merasa bahwa wanita ini bodoh dan tidak berpendidikan dan berkhayal. Namun mereka yang secara mengalami sendiri petunjuk dan bimbingan dari Allah Ta’ala akan berbuah keimanan yang dahsyat dan teguh serta tidak peduli (akan anggapan orang orang duniawi tersebut).
Demikian pula, di suatu daerah terpencil di Burkina Faso, sebuah Negara di Afrika Barat, berbahasa Prancis dan sebagian gurun Sahara terdapat di Negara ini; bagaimana seseorang yang tinggal di daerah seperti ini, di negara terpencil dan ia juga di desa terpencil diberikan petunjuk oleh Allah Ta’ala. Muballigh yang bertugas di sana menuliskan laporan: “Tn. Sawadogo dari wilayah Leo mengimani Ahmadiyah setelah Jalsah Salanah Jerman. Beliau mengatakan, ‘Saya secara teratur mendengarkan radio Ahmadiyah. Tiap kali serombongan para Ahmadi mengunjungi desa saya untuk bertabligh, saya menaruh perhatian pada mereka. Posisi saya di desa termasuk berpengaruh. Meskipun saya saat itu adalah seorang Non-Ahmadi, saya akan membantu para Ahmadi mengatur pertemuan tabligh.
Beberapa waktu setelah itu, para ulama di sana mendatangi saya dan mengingatkan, “Janganlah Anda pernah lagi mendengarkan radio Ahmadiyah. Janganlah berhubungan dengan para Ahmadi jika Anda ingin menyelamatkan keimanan Anda dalam Islam.” Karena dihasut oleh para ulama tersebut, saya berhenti mendengarkan radio Ahmadiyah ataupun bertemu dengan para Ahmadi. Saya menjauhi para Ahmadi.
Namun secara kebetulan satu kali dalam sebuah perjalanan, saya istirahat untuk shalat di sebuah desa kecil. Waktu itu shalat sudah dimulai dan berwudhu cepat-cepat. Seseorang datang dan menyampaikan, “Ini adalah desa Ahmadiyah dan inilah masjid para Ahmadi.” Mendengar hal itu saya berpikir saya telah jatuh dalam kesulitan padahal sudah lama berusaha keras avoid (menjauhi) mereka (orang-orang Ahmadiyah). Saya pun melambat-lambatkan wudhu saya sehingga shalat mereka selesai supaya saya bisa shalat sendiri setelahnya. Namun, terpaksa saya tetap shalat di masjid itu.
Setelah itu saya melihat dalam mimpi di malam hari itu, ada suatu kerumuman orang yang sedang sibuk. Saya pun menghentikan langkah diantara mereka dan pergi ke depan dan saya liat ada seseorang berpidato di depan ribuan orang. Saya bertanya pada seseorang di sekitar orang itu. Ia menjawab, “Inilah orang yang harus kamu dengar tapi ternyata para Mullah malah menyesatkan kamu dari jalan yang benar.” Lalu saya pun terbangun dari tidur terpengaruh mimi itu. Saya pun kembali menjalin hubungan dengan orang-orang Jemaat. Saya menghubungi seorang Muballigh Jemaat dan mengatakan padanya bahwa saya ingin baiat. Muballigh berkata kepada saya, “Datanglah ke markas kami di hari tertentu.” Saya pun berangkat di hari yang ditentukan itu. Ketika sampai di sana saya lihat orang-orang sedang menyaksikan televisi. Saya maju lagi untuk melihat lebih jelas. Saya terkejut pemandangan yang ada dalam televisi (MTA) ini jugalah yang saya lihat dalam mimpi saya.
Bapak Muballigh menyampaikan kepada saya bahwa di televisi itu adalah acara Jalsah Salanah Jerman dan Khalifah tengah memberikan pidato penutupan. Saat itu saya mengatakan “Terimalah baiat saya segera. Demi Allah! saya telah menyaksikan pemandangan ini dan orang yang tengah pidato itu di mimpi saya.”
Orang itu telah baiat bersama keluarga dan anak-anaknya. Beliau saat ini tengah giat bertabligh kepada para penduduk di desanya.”
Ada orang-orang yang secara pribadi mengalami tanda-tanda ini dan menerima hidayah dari Tuhan secara langsung dan diberikan keimanan yang kuat oleh-Nya. Banyak orang yang menulis surat kepada saya dan berkata di dalamnya, “Kami mengimani Ahmadiyah setelah memiliki kepastian dan keyakinan dari Allah dan setelah kami menyaksikan tanda-tanda. Tidak ada seorangpun yang akan pernah mencegah dan menghalangi kami dari Ahmadiyah. Kami tidak memerlukan satu lagi dalil lain.”
Sebagian orang ada yang tanpa lelah terus-menerus menentang Jemaat sampai ke tingkatan tidak mau mendengarkan perkataan yang berpondasikan akal sehat dan logika. Tapi sebagian orang ada juga yang tidak takabur bahkan dalam diri mereka terdapat kemuliaan bahkan mungkin luhur dalam adab dan kecerdasan. Orang yang tidak sombong dan terhiasi dengan keadaban dan kecerdasan, kemudian Allah Ta’ala memberi mereka petunjuk. Dan selanjutnya, jika mereka menyerap manfaat dari petunjuk Allah Ta’ala ini, maka mereka pun akan menerima karunia-karunia-Nya.
Peristiwa serupa dialami oleh Tn. Ahmad dari Suriah yang diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala kepada kebenaran. Dulu beliau menentang Jemaat dengan keras. Selanjutnya, terbetik di benak beliau untuk mencari petunjuk dari Allah guna mencapai kebenaran lalu Allah memberinya petunjuk. Beliau mengatakan, “Saya bergaul dekat dengan orang-orang Ahmadi. Sering bertemu mereka di luar rumah, duduk-duduk bersama mereka terkadang atau sebagian mereka datang ke rumah saya. Semua yangg mereka katakan saya terima, kebanyakan saya sepakati kecuali tentang kewafatan Al-Masih as. Sebabnya ialah saya berpikiran sejak lama bahwa Nabi Isa Al-Masih akan turun dari langit secara lahiriah. Di hati saya sudah terkandung harapan untuk bergabung dengan bala tentara Isa nantinya untuk membebaskan Baitul Maqdis (di Yerussalem).
Namun ketika saya dengar soal kewafatan Nabi Isa as semua impian dan harapan untuk jihad dibawah bendera beliau as hancur sudah. Saya berkata pada diri sendiri, ‘Jika Nabi Isa as tidak turun dari langit bagaimana mungkin wajib atasku jihad?’ kemudian, terjadi setelah itu bahwa beberapa kawan Ahmadi suatu hari datang ke rumah saya. Diantara mereka ialah Tn. Mutazil Qazaq. Mulailah terjadi perbincangan mengenai kewafatan Nabi Isa as.
Saya mengatakan kepada mereka, “Demi Allah, saya mohon janganlah mengatakan pada saya dan mengajak saya berbicara di rumah saya setelah hari ini membahas mengenai kewafatan Nabi Isa as.’
Tn. Mutazil Qazaq berkata kepada saya, ‘Saya mohon sesuatu pada Anda untuk mencari petunjuk dari Allah Ta’ala dengan berdoa kepada-Nya meminta bimbingan mengenai perkara ini.’
Saran beliau mengesankan saya sekali. Kemudian, saya pun berdoa kepada Allah dengan menangis-nangis dan amat merendahkan diri dalam sujud pada hari itu. Malam harinya saya melihat dalam mimpi bahwa saya tengah dalam perjalanan ke suatu tempat yang tinggi dan jalan saya sebidang tanah yang mudah meresap [seperti rawa]. Tiba-tiba saja tempat saya berdiri tanahnya mengubur saya kedalam lubang yang dalam.
Dalam keadaan mengerikan dan menakutkan itu, seseorang memegang pundak saya dan menyelamatkan saya dari lubang itu dengan mengatakan ‘Abu Hasan! (panggilan Tn. Ahmad) jangan pernah datang lagi ke sini dan ketahuilah bahwa Nabi Isa as telah wafat.’ Lalu orang itu berkata, ‘Ikutilah jalanmu sendiri sekarang.’ Ketika saya terbangun dari mimpinya, saya pergi ke rumah Tn. Qazaq dan ketika memasuki rumah tersebut saya melihat sebuah foto. Saya terkejut. Saya menanyakan perihal foto tersebut kepada Tn. Qazaq. Beliau memberitahu bahwa itu adalah foto Hadhrat Imam Mahdi yang juga Masih Mau’ud as.’ Serta merta saya berkata, ‘Saya ingin segera berbai’at karena inilah orang yang saya lihat dalam mimpi saya memegang pundak saya dan menyelamatkan saya dari sebuah lubang berlumpur dan mengatakan bahwa Nabi Isa as sudah wafat.’”
Sebagaimana telah saya katakan, Allah Ta’ala membuka pintu petunjuk kepada manusia supaya mereka memahami agama dan sampai pada kebenaran dengan pelbagai cara dan sarana. Kadang-kadang melalui jalur ru-ya (mimpi), kali lain lewat para Ahmadi yang bertabligh kepada mereka, sebagian lagi melalui bacaan literature atau tulisan-tulisan Jemaat tentang ajaran yang sejati tentang Islam, sementara sebagian orang dengan menyaksikan akhlak luhur yang dipraktekkan oleh para Ahmadi. Pada masa modern ini banyak orang yang mengimani Ahmadiyah melalui MTA (Muslim Television Ahmadiyya).
Seorang Mubaligh dari Benin menulis, “Atas pertablighan kami, dulunya Kepala daerah di wilayah kami merupakan seorang musyrik, namun beliau menjadi Ahmadi setelah menerima pesan yang benar tentang Islam. Tidak hanya ia menjadi seorang Ahmadi, namun sekarang juga bertabligh kepada orang-orang lain. Hatinya yang tadinya penuh dengan akidah syirik, kini menjadi penuh condong kepada Allah. tidak hanya itu, beliau juga menyeru penduduk wilayahnya juga kepada Islam sejati. Sebuah masjid dibuka di daerah beliau dan pada saat peresmiannya ia juga mengucapkan pidato.
Saya akan bacakan beberapa kutipan pidato tersebut sesuai kata-katanya sendiri (kepala daerah yang mantan pagan/musyrik): “Saya tidak dapat memahami mengapa orang-orang bukan Ahmadi menentang Jemaat Ahmadiyah padahal Jemaat Ahmadiyah adalah satu-satunya golongan yang menyampaikan pesan Islam ke seluruh penjuru dunia. Setahun lalu saya adalah seorang Pagan (Musyrik, penyembah berhala) dan saya juga seorang raja pagan. Namun, Muballigh Ahmadi merubah pemikiran saya dan menunjukkan pada saya wajah sejati Islam, sehingga saya masuk Islam.
Jika para Ahmadi membawa orang-orang Nasrani dan orang-orang Musyrik ke dalam pangkuan Islam, buat apa kalian (orang-orang Muslim penentang Jemaat) merasa sakit hati atas hal itu? (Seharusnya tidak ada rasa sakit hati yang harus dirasakan) Masjid yang dibuka ini (diresmikan) hari ini terbuka untuk semua orang beribadah kepada Allah di dalamnya. Jangan ada satu orang Kristen pun yang dilarang memasuki masjid ini. (jika ada seorang Nasrani datang ke dalam masjid ini untuk beribadah, maka orang tersebut tidak akan dilarang).
Tinggalkanlah penentangan. Menaruhlah perhatian untuk masuk Jemaat, niscaya anda sekalian hanya akan menemukan di sini pelajaran kecintaan, perdamaian dan persaudaraan saja. Jemaat Ahmadiyah hanya ingin kebaikan bagi dunia dan keselamatannya saja. Saya ingin membangun sebuah rumah di samping Masjid untuk saya bertabligh kepada siapa saja yang datang bahwa Jemaat Ahmadiyah ialah satu-satunya yang mengajarkan Islam dengan benar.”
Pada satu pihak, kita mempunyai pemimpin politik dan pemimpin agama yang melakukan fitnah (kekacauan) atas nama agama. Mereka terkena penyakit takabbur. Dari pihak mereka pribadi menyebabkan kaum Muslim menumpahkan darah pada satu sama lain karena. Namun, di lain pihak, Allah Ta’ala jadikan orang-orang yang dulunya merupakan orang Musyrik – dikarenakan sesuatu perbuatan baik mereka, atau juga karena karunia-Nya semata – memungkinkan mereka untuk menyebarluaskan pesan Islam yang hakiki kepada orang lain. Ini adalah cara Allah Ta’ala memperlakukan mereka yang rendah hati yaitu menurunkan karunia-Nya kepada mereka. Adapun jika seseorang penuh kesombongan berkepanjangan maka ia tidak akan dapat menerima petunjuk sejati dari Allah Ta’ala meskipun ia melaksanakan ribuan shalat secara dawam (terus-menerus), rajin dan banyak berdoa, memandang diri sebagai orang saleh dan bahkan telah beribadah Haji.
Bagaimana dengan orang-orang yang telah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as lalu merasakan kelezatan Islam hakiki dan perubahan revolusioner yang terjadi pada diri mereka? Bagaimana Allah Ta’ala memberikan petunjuk dan bagaimana mereka bertambah dalam berkorban? Salah satu mubaligh Jemaat menceritakan sebuah peristiwa tentang hal itu: “Selama lawatan saya di Kamerun, seorang pensiunan militer (tentara) bergabung dengan Jemaat. Ia dari suku Bamoun yang Sultan (raja)nya menghadiri Jalsah Salanah UK. (Peristiwa ini terjadi dua tahun lalu. Muballigh tersebut mengirim surat setahun lalu.) Ketika saya datang mengunjungi ke tempatnya pada kunjungan tahun ini, saya menjumpai Mubayyi’ ini.
Ia berkata, ‘Saya ingin mewakafkan sebidang tanah untuk Jemaat gunakan membangun sebuah masjid.’ Lalu saya pergi bersama ketua Jemaat untuk melihat sebidang tanah itu. Kami menemukan lantai bawah sudah dibangun. Pembangunan terus berlanjut. Tadinya ia berniat untuk membangun rumahnya di atas tanah tersebut. Pensiunan tentara itu menjelaskan, ‘Saya melihat Almarhum Ayah saya dalam sebuah mimpi yang mengatakan, “Dirikanlah sebuah masjid di sini bukan sebuah rumah.” Karena itu, saya memutuskan untuk mewakafkan tanah dan bangunan yang telah mulai saya bangun ini kepada Jemaat Ahmadiyah agar dibangun sebuah Masjid.’
Areal tanah itu sangat luas sekitar 1.000 meter persegi. Nama Jemaat sebagai pemilik juga telah didaftarkan ke Pemerintah. Insya Allah akan dibangun masjid di sana.”
Sekarang saya hendak menyampaikan sebuah kisah lain tentang bagaimana Allah Ta’ala mendengar doa seseorang yang hatinya terdapat kepedihan bagi Islam. Ia tinggal di wilayah terpencil. Seorang Muballigh Jemaat sampai ke tempatnya untuk menyampaikan ajaran Islam hakiki. Ia menulis surat, “Seorang pria yang bernama Tn. Sa’idou yang tinggal di sebuah desa terpencil bernama Yadukro di wilayah Abengourou di negara Pantai Gading [di Afrika] menyatakan bahwa Islam mencapai desanya melalui kakeknya. Namun seiring berjalannya waktu, selangkah demi selangkah orang-orang menjauh dari Islam sama sekali. Pada akhirnya orang orang tersebut menjadi Muslim yang hanya sebutannya saja Muslim sebagaimana umumnya keadaan orang-orang Muslim.
Tn. Sa’idou menyatakan bahwa ia seringkali berdoa kepada Allah Ta’ala dengan penuh derita agar Islam hakiki dapat diamalkan di sana sekali lagi. Pada tahun 2016, pada bulan Ramadhan penuh berkat, ia sholat dan berdoa dalam satu kesempatan sampai matanya mulai bengkak dengan air mata. Hanya dua hari setelah peristiwa ini, seorang Mubaligh dari Jemaat Ahmadiyah datang ke desanya yang terpencil jauh dengan membawa pesan menghidupkan Islam. Sejumlah 55 orang kemudian bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah selama kunjungan Muballigh tersebut. Ini adalah peristiwa yang menginspirasi keimanan bagi Tn. Sa’idou karena mereka menjadi pengamal Islam sejati.”
Renungkanlah sebentar! Pada satu segi orang-orang di negara-negara maju telah meninggalkan agama dan berfokus hanya pada pengejaran dan pencapaian hal-hal duniawi. Sedangkan sebuah desa terpencil di Afrika yang tidak memiliki kemewahan apapun dan jalan-jalan menuju desa mereka mungkin belum dihaluskan untuk dibuat permanen tapi justru mencari dan merindukan ajaran Islam yang hakiki untuk disebarkan di desa mereka.
Dengan kepedihan berseru, “Ya Allah! Hampir-hampir saja ajaran Islam telah hilang dari desa ini. Kirimkanlah seseorang yang akan mendirikan ajaran-ajaran Islam lagi dan mengabarkan kepada orang-orang tentangnya.” Lalu, seorang pelayan Al-Masih Al-Muhammadi sampai ke wilayah mereka, sesuai takdir Allah, dan menyampaikan tentang Islam kepada mereka. Hal demikian karena seseorang yang bisa mengajarkan ajaran Islam hakiki hanyalah mereka yang beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan memahami hakikat Islam melalui beliau as.
Setiap orang dari kita harus memperbanyak doa dan bekerja keras demi penyebarluasan ajaran sejati Islam di dunia seluruhnya dan menyampaikannya kepada tiap orang di dunia. Tak diragukan lagi, terdapat banyak organisasi dan kelompok yang bekerja atas nama Islam. Terdapat banyak Jamaah dakwah dan tabligh juga. Namun, semuanya berjalan dengan kepentingan tertentu di belakang mereka. Setiap saat siap melontarkan fatwa takfir (pengkafiran) menentang sebagian lainnya. Apakah mereka mengkhidmati Islam?!
Para Khuddam (Pelayan) Al-Masih al-Muhammadi dibebankan tugas tabligh Islam pada hari ini. Allah Ta’ala sendiri yang membuat mudah pekerjaan kita dengan membimbing sebagian orang melalui ru-ya dan sebagian lainnya melalui jalan lain. Jika kita ingin menunaikan secara benar hak baiat, kita harus berusaha menjadi anshar (penolong) Al-Masih al-Mau’ud.
Bagaimana seharusnya kita setelah baiat? Apa yang harus kita lakukan? Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentangnya, “Baiat secara lahiriah tidak punya arti apa-apa. Baiat yang demikian tidak menjadikan pelakunya sebagai penerima keberkatan, (orang yang baiat demikian tidak meraih keberkatan yang layak bagi orang yang beriman dengan Hadhrat Masih Mau’ud as), sesungguhnya keberkatan tersebut akan ia raih tatkala ia menyertai orang yang ia baiat dengan kesempurnaan kecintaan dan keikhlasan sembari meninggalkan eksistensi dan ego diri mereka sendiri. Pada masa dahulu sebagian orang tetap saja munafik tanpa beriman sejati karena tidak tulus dalam hubungannya dengan Nabi Muhammad saw. Tidak timbul dalam diri mereka kecintaan dan ketulusan yang sebenar-benarnya. Karena hal itu, tidak ada gunanya perkataan mereka secara lahiriah لا إله إِلاَّ اللَّهُ ‘Laa ilaaha illallah’ saja.
Penguatan kejadian ini amat penting. Suatu keharusan untuk penguatan kecintaan dan keikhlasan terhadap sang Mursyid (guru rohani) dan mewarnai diri dengan corak warnanya sekuat mungkin dalam jalan tindakan dan keyakinannya. (Artinya, ia harus berusaha keras menjadi seperti orang yang ia imani) Umur tidak dapat dapat menjadi jaminan (tidak dipercaya). Segeralah bertobat kearah perbaikan dan ibadah. Seseorang seharusnya melakukan muhasabah dari pagi hingga malam.” (Mengenali untuk apa dan bagaimana hidupnya dilewati sepanjang hari itu)
Semoga Allah meningkatkan iman dan keyakinan kepada semua orang yang baru memasuki Jemaat ini. Semoga Dia memberi taufik kepada mereka untuk mencapai kemajuan dalam berpegang teguh pada keyakinan dan beramal berdasarkan hal itu, dan memberi mereka taufik untuk bertambah dalam iman yang telah Allah nyalakan di dalam hati mereka dengan menerima Ahmadiyah, Islam yang sesungguhnya, dan tidak semoga setan tidak mampu menyesatkan mreka, dan semoga Allah Ta’ala menganugerahi ketabahan dan keteguhan pada langkah-langkah mereka.
Semoga Allah memberikan kita – para Ahmadi lama dan yang lahir sebagai Ahmadi – untuk meningkatkan iman kita dan memperbaharuinya selalu, dan Allah memberikan kita taufik untuk bertumbuh dalam hubungan dengan-Nya, dan bahwa kita jangan pernah menyebabkan para Mubayyi’ baru tergelincir [ragu-ragu, menjauh dari Jemaat], dan kita menjadi bintang petunjuk bagi dunia ke jalan yang benar, dan kita tidak pernah merasa senang dengan menjadi Ahmadiyah lama saja tetapi harus mencapai tujuan baiat, dan jangan sampai dunia menjadi tujuan karya kita melainkan ridha Allah yang harus menjadi tujuan kita dan supaya kita melihat Islam yang sesungguhnya – dalam waktu dekat – menyebar luas di seluruh dunia, dan itu terjadi jika kita memberitahu orang-orang bahwa apa yang mereka lihat [Ahmadiyah] sebagai berbahaya bagi dunia, sebenar-benarnya malahan jalan keselamatan bagi mereka dan seluruh dunia.
Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono
Sumber referensi resmi: http://www.Islamahmadiyya.net (teks bahasa Arab); terjemahan ringkasan bahasa Inggris oleh Ratu Gumelar dan rekaman audio berbahasa Indonesia hasil penerjemahan langsung dari bahasa Urdu oleh Mln. Mahmud Ahmad Wardi (https://www.alislam.org/archives/sermons/mp3/FSA20170210-ID.mp3) dan teks bahasa Urdu di http://www.alislam.org.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s