Para Abdi Allah nan sejati, Mln. Basyir Ahmad Rafiq Khan dan Dokter Nushrat Jahan, sebuah Dzikr Khair (Kenangan kebaikan)

Para Abdi Allah nan sejati, Mln. Basyir Ahmad Rafiq Khan dan Dokter Nushrat Jahan, sebua

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

21 Oktober 2016 di Masjid Baitul Islam, Peace Village, Ontario, Kanada

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hari ini saya akan berbicara tentang dua khadim-khadimah Jemaat yang baru saja meninggal. Pertama, ialah Tn. Bashir Ahmad Rafiq Khan (بشير أحمد رفيق خان) dan yang kedua adalah Dr. Nushrat Jahan (نصرة جهان), Kepala Rumah Sakit Fadhle Umar, Rabwah (Pakistan). Siapa pun yang datang di dunia ini, akan pergi meninggalkannya. Tapi, berbahagialah mereka yang Allah mungkinkan untuk melayani agama-Nya dan makhluk-Nya.

Tn. Bashir Ahmad Rafiq Khan termasuk mubaligh dan pelayan Jemaat yang sudah senior. Beliau ditunjuk untuk memangku berbagai posisi dalam Jemaat. Beliau wafat pada tanggal 11 Oktober 2016 di London pada usia 85 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون

Beliau meraih gelar BA (Bachelor of Arts) dari Universitas Punjab. Selanjutnya, beliau menyelesaikan gelarnya sebagai Syahid (الشاهد) di Jamiatul Mubasyirin (جامعة المبشرين) di Rabwah pada tahun 1958. Beliau berasal dari keluarga Ahmadi lama. Ibunda beliau

adalah Fatimah Bibi, anak perempuan tertua sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Tn. Muhammad Ilyas Khan ra. Ayah beliau, Tn. Danishmand Khan lahir pada tahun 1890. Beliau ini merupakan shahib ru-ya-o-kusyuuf (sering menerima Ilham dan kasyaf).

Tn. Bashir Ahmad Rafiq Khan dilahirkan sebagai Ahmadi. Ayah beliau menerima Ahmadiyah pada tahun 1921. Setelah itu, orang orang di desa beliau memboikot beliau. Hadhrat Khalifah IV rha (الخليفة الرابع رحمه الله تعالى) bersabda kepada Tn. Bashir Ahmad Rafiq di sebuah surat, ”Surat-surat Anda selalu menyegarkan kembali ingatan mengenai Ayah Anda yang saleh, dan membuat saya ingin berdoa untuk beliau. Beliau bebas dari perbedaan antara kata-kata dan perbuatan, dan merupakan personifikasi pria yang jujur dan ikhlas.” (Karakter ini yang harus ada pada seorang beriman.)

Saya memiliki hubungan yang mendalam dengan beliau dan sekarang pun masih, dan hubungan mendalam ini selalu diekspresikan lewat doa-doa untuk beliau. Semoga Allah meliputi beliau dengan kasih-Nya nan Maha Luas dan membuat semua keluarganya benar-benar sebagai pewaris beliau secara hakiki.

Tn. Bashir Ahmad Rafiq Khan menikah pada tahun 1956 dengan Nn. Salimah Nahid (سليمة ناهيد), anak perempuan Tn. Abdul Rahman Khan, yang merupakan putra Tn. Khan Amirullah Khan ra, sahabat dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau memiliki 3 orang putra dan 3 orang putri.

Pada tahun 1945, Tn. Khan masuk ke Sekolah Menengah Ta’limul Islam (تعليم الإسلام) di Qadian. Beliau berusia 14 tahun saat itu. Pada masa itu, suatu kali dalam sebuah shalat Jumat, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu memotivasi para pemuda untuk membaktikan hidup (Waqf-e-Zindegi) mereka demi melayani Islam. Segera setelah Shalat Jumat, banyak pemuda menawarkan diri mereka sendiri untuk berbakti. Diantara para pemuda yang beruntung tersebut, ada Tn. Bashir Rafiq juga. Pada hari-hari itu, Nizham Waqf bukan seperti masa sekarang yang jauh lebih rapi. Beliau menerima sebuah surat pribadi dari Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra yang menyatakan Waqf beliau telah diterima.

Almarhum melanjutkan pendidikan beliau di Qadian sampai menjelang Partition (pemisahan British India menjadi dua Negara, India dan Pakistan pada tahun 1947). Setelah menyelesaikan matrikulasi atau sekitar waktu sebelum Partition, beliau kembali ke desa leluhurnya. Beliau berhasil diterima kuliah tentang Hukum.

Beliau berkata, “Suatu hari saya menerima sebuah surat dari Tn. Sekretaris Pribadi Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang mengatakan, ‘Seorang murid keturunan bangsa Afghan telah mendaftarkan diri untuk Waqaf di Qadian pada tahun 1945, namun saya tidak ingat namanya. Catatan mengenai itu telah hilang karena situasi huru-hara disebabkan pemisahan antara India dan Pakistan. Arsipnya juga tidak ada di Rabwah. Carilah murid tersebut yang diantara para murid yang dulu belajar tahun 1945 dan mewakafkan dirinya.’”

Secara kebetulan sekali surat ini dikirimkan ke Almarhum. Almarhum mengirim surat balasan, “Saya-lah orang itu, Hudhur.” Atas hal itu, Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengiriminya surat lagi, “Segeralah untuk datang ke Rabwah dan melapor. Masuklah untuk studi di Talimul Islam College (TI College) di Lahore dan menyelesaikan gelar BA (Bachelor of Arts).”

Ini adalah masa ketika Hadhrat Khalifatul Masih III ra masih menjadi kepala sekolah TI College.

Pada tahun 1953, ketika beliau sedang mempersiapkan diri untuk ujian, gerakan penentangan yang rusuh terhadap para Ahmadi meletus. Beliau berkata “Saya menulis ujian saya dalam keadaan yang demikian sulit. Namun ketika hasilnya diumumkan, saya sedih sekali karena saya termasuk tidak lulus. Hal yang membuatnya bersedih dan juga bingung di hati saya ialah kalau toh saya akan gagal juga, lantas kenapa dalam mimpi yang saya terima sebelum ujian tersebut Allah Ta’ala memperlihatkan sebuah kertas berisi soal-soal ujian? Hal mana ternyata tepat itulah soal-soal ujian nantinya. Terlebih lagi, Hadhrat Khalifatul Masih II ra juga meyakinkan saya akan lulus dengan izin Allah. Pada hari hari itu, iman saya dalam keadaan genting.

Di koran-koran, hasil ujian diumumkan. Hati saya benar-benar tercabik-cabik penuh penderitaan. Suatu ketika saya sedang duduk dengan rasa sedih ketika Ayah saya menanyakan alasan saya bersedih. Ketika saya memberitahukannya, beliau berkata, ‘Tidak apa apa, engkau bisa ikut ujian lagi. Mungkin engkau tidak bisa mempersiapkan diri dengan baik karena situasi yang terjadi di Punjab.’ Beberapa hari kemudian, Ayah saya berkata, ‘Setiap kali Ayah berdoa untukmu, Ayah mendengar sebuah suara, “Bashir Ahmad termasuk kalangan yang lulus”.’ Ketika saya memperlihatkan kepada beliau kertas hasil ujiannya, beliau terdiam. Setelah beberapa hari, beliau berkata hal lagi yang sama, ‘Tapi, suara yang Ayah telah dengar memberitahukan bahwa engkau termasuk yang lulus.’ Suatu hari kami menerima banyak surat lewat pos. Salah satu surat adalah dari Universitas Punjab. Surat tersebut berisi pernyataan, ‘Telah ada kesalahan kami dalam penetapan hasil ujian sehingga menyebutkan Anda tidak lulus. Namun, setelah penyelidikan mendalam hasil ujian, Anda telah dinyatakan lulus.’

Setelah beberapa hari, saya pergi menemui Hadhrat Khalifatul Masih II ra dan menceritakan semua kejadian tersebut kepada beliau.

Setelah mendengar hal ini, beliau bersabda, ‘Saya telah bilang kepadamu bahwa setelah berdoa untukmu, saya diberitahu engkau akan lulus ujian. Hasil ini membuat semakin jelas bahwa keputusan Allah tidak bisa diganggu gugat.’

Merupakan bahan ejekan dan olok-olok jika firman Allah tidak terpenuhi. Allah telah memberitahukan hal yang sama kepada Hadhrat Khalifatul Masih II ra, begitu juga kepada Ayahanda almarhum. Karena itu, pada akhirnya hal itu pasti terjadi. Setelah ini Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengarahkan Almarhum untuk masuk Jamiah Ahmadiyah hingga menyelesaikan gelar Syahid (الشاهد) karena Hadhrat Khalifatul Masih II ra berniat untuk mengirimkan beliau ke lapangan pertablighan.

Almarhum berkata, “Kelas Jamiah kami mendapatkan kehormatan unik karena beberapa kali Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengunjungi kami dan membimbing kita dalam bagaimana cara-cara menjadi ahli dan terampil dalam berbagai mata pelajaran. Hadhrat Khalifatul Masih II ra juga menarik perhatian kami secara khusus agar setiap Mahasiswa harus memiliki perpustakaannya sendiri dan punya kebiasaan membeli buku-buku.”

Inilah hal yang setiap Mahasiswa di Jamiah Ahmadiyah harus ingat. Sekarang, ada banyak sekolah Jamiah di dunia maka setiap mereka semua harus membuat perpustakan pribadinya sendiri. Beberapa hari yang lalu, ada pertemuan dengan para Murrabi (Muballigh) di London, yang mana saya juga telah memberikan arahan kepada mereka suatu kewajiban bagi mereka untuk membangun perpustakaan mereka sendiri. Mereka seharusnya tidak hanya bergantung pada perpustakaan-perpustakaan Jemaat.

Almarhum menceritakan, “Setelah meraih Gelar Syahid dari Jamiatul Mubasyirin (الجامعة الأحمدية), saya melaporkan diri ke Wakalat Tabshir. Wakilul Tabshir saat itu ialah Tn. Mirza Mubarak Ahmad, yang membawa saya ke Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Beliau berkata, ‘Dia harus dikirim ke Inggris.’”

Almarhum menceritakan, “Sebelum berangkat ke Inggris, Tn. Wakilut Tabshir sekali lagi membawa saya ke Hadhrat Khalifatul Masih II ra (الخليفة الثاني رضي الله عنه), yang membawakan saya poin-poin panduan secara terperinci, berdoa untuk saya, memeluk saya dan mengucapkan selamat tinggal.”

Pada tahun 1959, beliau berangkat ke London tempat beliau memulai pelayanan sebagai Wakil Imam Masjid Fadhl di sana. Almarhum pernah menceritakan, “Pada tahun 1959, sebelum pergi ke London, saya pergi menemui Hadhrat Maulana Jalaludin Shams dan meminta nasihatnya. Tn. Shams juga telah melayani sebagai Imam Masjid Fadhl London untuk waktu yang lama. Tn. Shams berkata, “Ada satu nasihat khusus yang ingin saya sampaikan kepadamu yang telah memberikan manfaat besar dalam Waqaf saya yaitu sebagai berikut.

Suatu ketika saya sedang dalam sebuah misi dakwah sebagai Mubaligh di Suriah. Ada seorang yang sangat kaya raya di sana yang masuk Ahmadiyah melalui saya. Namanya, Tn. Munirul Hushni (منير الحصني). Beliau salah satu perintis Jemaat di Suriah dan melaluinya Jemaat tersebar di Suriah. Ketika beliau berbaiat, semangatnya terhadap Islam Ahmadiyah terus tumbuh dari hari ke hari. Beliau biasa datang ke rumah misi setiap beberapa malam untuk belajar tentang Jemaat. Pada hari-hari tersebut, tidak ada pembatasan atau pelarangan [oleh pemerintah] terhadap Jemaat. Beliau sendiri yang menyiapkan makanan untuk saya dengan semangat dan berkeras pada diri sendiri. Beliau yang memasaknya. Kami makan bersama-sama di malam hari. Suatu ketika saat kami sedang makan malam, saya mengeluhkan beliau tentang makanannya yang terlalu asin. Saya memberitahukan kepada beliau untuk berhati-hati ke depannya.

Pada saat itu Tn. Munirul Hushni menjadi diam. Setelah beberapa menit beliau menjawab, ‘Maulana! Seperti yang Anda ketahui, saya memiliki pelayan-pelayan untuk setiap pekerjaan rumah saya sehari-hari (beliau adalah orang yang sangat kaya). Bahkan, sampai-sampai ketika saya pulang ke rumah, pelayanlah yang membuka tali sepatu saya. Saya tidak pernah membuat teh untuk saya sendiri di rumah saya. Apapun yang saya lakukan untuk Anda dengan datang kemari dan menyiapkan makanan, saya lakukan untuk mendapatkan ridha Tuhan. Jika tidak, saya tidak ada urusannya untuk melakukan pekerjaan di dapur (menyiapkan makanan). Karena itu, jika Anda merasa ada kesalahan dalam pemberian garam atau bumbu-bumbu lainnya, mohon maafkan saya karena menyiapkan makanan bukan pekerjaan saya.’

Setelah Tn. Maulana Jalaludin Shams selesai menceritakan hal ini, beliau berkata kepada saya, ‘Hikmah yang dapat diambil dari peristiwa ini ialah semua orang yang dengan penuh kasih sayang melayani kita karena kita adalah Mubaligh, mereka melakukannya bukan semata-mata untuk kita pribadi, namun demi mencari ridha Allah. Mereka melakukannya karena kecintaan mereka kepada Jemaat. Oleh karena itu, kita harus selalu ingat bahwa ketika orang melayani kita, itu adalah karena kebaikan hati mereka terhadap kita. Maka dari itu, jika mereka terkadang kurang sempurna melakukannya, kita tidak punya hak mempertanyakan dan menegur mereka mengenai hal itu.’”

Ringkasnya, Allah Ta’ala selalu mengaruniai Hadhrat Masih Mau’ud as dengan orang-orang luar biasa yang penuh dengan keimanan, kesetiaan dan keikhlasan. Karunia itu terus berlanjut dari awal hingga hari ini.

Pada tahun 1964, Tn. Chaudhry Rahmat Khan, Imam Masjid Fadhl di London kembali ke Pakistan karena penyakitnya. Karena itu, Almarhum ditunjuk sebagai Imam Masjid Fadhl. Pada tahun 1960, Almarhum memprakarsai selebaran berita Bahasa Inggris yang diterbitkan secara berkala berjudul Muslim Herald yang pada awalnya terdiri dari 10 halaman. Beliau sendiri bertindak sebagai editor dan penulis.

Pada tahun 1962, atas rekomendasi Shahibzadah Mirza Bashir Ahmad ra (صاحبزاده مرزا بشير أحمد), beliau memprakarsai surat kabar Akhbare Ahmadiyya (Berita Ahmadiyah). Koran ini terbit setiap dua minggu sekali.

Almarhum pernah berkata, “Saya pendiri dan editor tetap suratkabar ini dalam waktu yang lama. Saya juga menulis artikel-artikel untuk koran ini dengan karunia taufik dari Allah.”

Almarhum juga seorang yang terpelajar. Beliau juga menerima kehormatan sebagai editor majalah ‘The Review of Religions’ yang didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri.

Dari tahun 1967, Hadhrat Khalifatul Masih III rha mengunjungi Eropa sebanyak delapan kali di masa Khilafatnya. Dari 8 kali kunjungan beliau rha, Almarhum Bashir Ahmad Rafiq menjadi anggota rombongan dari 7 kunjungan diantaranya. Dalam dua lawatan Hadhrat Khalifatul Masih III ra, beliau mendapatkan kehormatan melayani sebagai Sekretaris Pribadi Hudhur. Pada tahun 1970, beliau kembali ke Pakistan dan menjadi Sekretaris Pribadi Hadhrat Khalifatul Masih III ra. Pada tahun 1971, beliau berangkat ke London dan diangkat kembali menjadi Imam Masjid Fadhl.

Pada tahun 1976, beliau menerima kehormatan untuk menemani Hadhrat Khalifatul Masih III rha (الخليفة الثالث رحمه الله) sebagai Sekretaris Pribadi dalam kunjungan beliau rha di Kanada dan Amerika. Pada bulan Mei 1978, Hadhrat Khalifatul Masih III rha mengunjungi London untuk Konferensi International Kasre Salib (Mematahkan Salib كسر الصليب). Agar dapat menyelesaikan proyek tersebut, para anggota Jemaat UK, panitia konferensi dan Majlis Amila UK bekerja siang-malam dan mencontohkan dengan sangat baik kerja tim (Team Work). Semua itu terjadi di bawah administrasi kepemimpinan Almarhum.

Sejak tahun 1964 sampai 1970 dan kemudian dari 1971 sampai 1979, beliau tetap menjadi Imam Masjid Fadhl London. Dari tahun 1961 – 1979, beliau berkhidmat sebagai editor ‘Muslim Herald’. Beliau berkhidmat sebagai Sekretaris Pribadi Hadhrat Khalifatul Masih III ra dari 1970 – 1971. Lantas pada November 1985, beliau ditunjuk menjadi Wakilud Diwan Takrik Jadid dan melayani hingga tahun 1987. Sejak tahun 1982-1985, beliau berkhidmat sebagai Wakilut Tasnif di Rabwah. Beliau menjadi Wakilut Tasnif Rabwah Tambahan dari tahun 1983-1984. Kemudian beliau berkhidmat sebagai Wakilut Tasnif London tambahan sejak tahun 1987-1997.

Beliau berkhidmat sebagai Editor majalah perbandingan agama ‘Review of Religion’ pada 1983-1985. Beliau adalah Kepala Editor ‘Review of Religion’ pada 1988-1995. Beliau salah seorang anggota Sadr Anjuman Ahmadiyyah Pakistan (صدر أنجمن أحمدية باكستان) sejak tahun 1971-1985. Anggota dari Komite Ifta (Dewan Fatwa), sejak 1971-1973, dan anggota Dewan Qadha sejak 1984-1987.

Tambahan dari itu, Almarhum juga memiliki kesibukan di beberapa posisi duniawi. Sebagai contoh, beliau adalah seorang anggota dan Wakil ketua Rotary Club wilayah Wansworth. Beliau juga ditunjuk sebagai presiden Rotary Club. Di tahun 1968, atas perintah Presiden Liberia yaitu Tn. Tubman, beliau diundang sebagai tamu negara. Beliau diperlakukan sebagai pemimpin terhormat di Liberia.

Putra beliau menulis, “Beliau biasa menunaikan sholat Tahajud secara teratur dan biasa berdoa. Beliau biasa berdoa dengan menyebutkan nama-nama orang-orang yang beliau doakan sehingga beliau tidak lupa untuk mendoakan mereka. Beliau membiasakan diri banyak-banyak mengirim shalawat atas Nabi Muhammad saw. Beliau menjelaskan kepada kami pentingnya Candah.”

Saudara beliau, Kolonel Nazir, mengatakan tentang salah satu peristiwa – yang telah saya (Hudhur) sebutkan dengan singkat- , “Ketika Hadhrat Khalifatul Masih II ra memanggil Almarhum [untuk Waqaf], beliau telah diterima di Sekolah Hukum. Pada waktu surat dari Khalifatul Masih II ra sampai ke Ayahanda beliau yang di dalamnya Hudhur II ra mengatakan agar Ayah Almarhum mengirim Almarhum [supaya datang ke Hudhur], Almarhum berkata, ‘Saya akan dapat berkhidmat dengan lebih baik setelah dapat menyelesaikan Gelar Hukum.’

Hadhrat Khalifatul Masih II ra menulis surat sebagai respon tentang hal ini, ‘Kami memerlukan para pengacara agama bukan pengacara dunia. Kehormatan, kekayaan, ketenaran dan ketinggian yang seseorang ingin lihat di dunia, Allah akan mengaruniai semuanya lewat keberkatan Waqf-e-Zindegi dengan mengkhidmati agama.’ Ketika Ayah kami memberikan surat tersebut ke saudara saya, ia langsung mengambil kopernya dan tanpa berkata apa-apa lagi, pergi ke Rabwah.”

Sekarang lihatlah bagaimana Allah Ta’ala memenuhi kata- kata Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Jika beliau menjadi pengacara duniawi, beliau hanya akan mendapatkan pangkat duniawi saja. Namun, Allah Ta’ala menganugerahi beliau pangkat duniawi maupun kesempatan dalam mengkhidmati agama [dikarenakan Waqaf, beliau mendapatkan keduanya].

Saudara Almarhum menulis, “Kehormatan, reputasi baik (ketenaran dalam nama baik) dan apapun yang telah dinubuatkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih II ra, telah Almarhum raih semuanya [dengan keberkatan Waqf]. Almarhum hidup penuh dengan peristiwa-peristiwa, dengan karunia Allah.”

Beliau sangat erat dan loyal dalam ikatannya terhadap Khilafat. Beliau adalah pasien penyakit jantung dalam waktu lama. Beliau juga menjalani operasi dan pada satu titik, beliau pernah mengalami kondisi yang mana para dokter pun sudah tidak berharap. Namun, Allah Ta’ala memberikannya hidup baru dan beliau menjadi lebih baik. Beliau sangat lemah karena kondisi medisnya, namun beliau tidak hanya secara teratur menulis surat kepada saya yang mana beliau ungkapkan ketulusan dan kesetiaannya kepada Khilafat, namun beliau juga berusaha menghadiri semua acara yang beliau tahu saya (Hudhur atba) akan datang di acara itu.

Saya telah melihatnya sendiri dengan bantuan walker (alat bantu berjalan), beliau berusaha untuk menghadiri shalat-shalat Jumat. Semoga Allah merahmati beliau, mengampuni dan meninggikan status beliau. Semoga Allah Ta’ala juga memungkinkan anak anak beliau untuk tetap terhubung dengan Jemaat secara tulus dan keimanan dan semoga mereka mengikuti jejak-jejak teladan beliau. Aamiin.

Yang kedua, sebagaimana yang telah saya sebutkan sebelumnya, saya akan bicara tentang Ibu Dokter Nushrat Jahan Malik, yang merupakan anak perempuan dari Tn. Abdul Malik Khan. Beliau wafat pada 11 Oktober 2016 di London. إنا لله وإنا إليه راجعون Kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali. Beliau tinggal di Rabwah, namun berkewarganegaraan Inggris. Karena itu, beliau datang ke Inggris setiap tahun. Beliau berkunjung ke Inggris sebagian untuk memperbarui keterampilan-keterampilan profesionalnya di berbagai Rumah Sakit dan juga karena beliau telah sakit selama beberapa lama dan mendapat perawatan di sini.

Setelah Jalsah UK, beliau mendapat infeksi (peradangan) di dada yang terus meningkat. Kemudian paru-parunya berhenti bekerja. Namun dengan karunia Allah, beliau sembuh dan pulih kembali dan para dokter juga penuh harapan. Namun, ketakutan itu masih ada bahwa jika infeksinya muncul kembali, beliau akan sulit untuk bertahan hidup. Namun, ketentuan Allah lebih mendominasi dan suatu hari, entah dari mana datangnya, beliau mengalami peradangan tiba-tiba dan dalam hitungan jam, beliau kemudian wafat.

Beliau lahir pada tanggal 11 Oktober 1951 di Karachi. Ayah beliau yaitu Tn Abdul Malik Khan juga adalah seorang pengkhdimat yang sudan lama mengabdi di Jemaat. Beliau putra dari Tn. Khan Zulfiqar Ali Khan. Desa leluhur beliau adalah Najib Abad yang berlokasi di Distrik Bujnor di Uttar Pradesh, India. Kakek Dr. Nushrat Jahan berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as lewat surat pada tahun 1900. Kemudian, pada tahun 1903, beliau mengunjungi Qadian dan mendapat kehormatan bertemu dan berbaiat langsung dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Atas keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Khan Zulfiqar Ali Khan ra membaktikan putra beliau, Tn. Maulana Abdul Malik untuk Jemaat, sebelum kelahirannya. Tn. Maulana Abdul Malik lahir pada tahun 1911 dan ayahnya telah mewakafkannya untuk Jemaat pada waktu anak-anak.

Setelah lulus dari Madrasah Ahmadiyah, Tn. Abdul Malik Khan menyelesaikan pendidikan dan mendapat gelar Molvi Fazil (مولوي فاضل gelar tertinggi dalam bahasa Arab di wilayah India) dari Universitas Punjab pada 1932. Setelah ini, beliau mendapatkan tawaran pekerjaan yang sangat menarik. Namun Ayahanda beliau menulis kepada beliau, “Aku tidak memberikanmu penyediaan pendidikan agar engkau mendapatkan dunia (saja), namun engkau juga harus meraih keimanan juga.” Segera setelah medapatkan surat tersebut dari Ayah beliau, Tn Abdul Malik Khan mengundurkan diri dari pekerjaan beliau, kembali ke Qadian dan ikut serta dalam kelas para Mubaligh. Semangat keikhlasan, ketulusan dan pengabdian juga kita temukan pada Almarhumah Dr. Nushrat Jahan.

Setelah menyelesaikan pendidikan medis beliau di Pakistan dan meraih gelar M.B.B.S (Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery), beliau melanjutkan kuliah untuk spesialisasi di UK. Jika saja beliau mau, beliau bisa saja mendapatkan ratusan ribu Rupee dalam sehari di tempat mana pun yang ingin beliau pilih. Namun, beliau memilih untuk tinggal di kota kecil di Rabwah demi melayani agama dan melayani kemanusiaan. Keahlian beliau juga dibutuhkan di Rumah Sakit di Rabwah saat itu, dan beliau memenuhi kebutuhan tersebut. Kemudian sepanjang hidup beliau, beliau menghaturkan pelayanan yang sedemikian mencapai puncaknya. Banyak orang yang berbagi kepada saya perasaan mereka tentang beliau, yang tidak semuanya dapat digambarkan di sini, namun saya tetap akan menyebutkan beberapa diantaranya.

Almarhumah meninggalkan putri beliau satu-satunya, Ayesha Nuzhat (عائشة نزهت) tinggal di UK bersama suami dan 3 anaknya. Seperti yang saya katakan bahwa Dr. Nushrat Jahan menyelesaikan pendidikan MBBS beliau di Fatima Jinah Medical College, Lahore. Kemudian di Royal College of Obstetricians and Gynogologyst (RCOG) di UK (Inggris), beliau mengambil spesialisasi ginekologi (kandungan). Pada tahun 1985, beliau memulai pelayanan beliau di Rumah Sakit Fadhl Umar, di Rabwah. Dan dari 20 April 1985 sampai sekarang, beliau melakukan pelayanan di Rumah Sakit tersebut. Seperti yang juga saya katakan sebelumnya, beliau menderita penyakit, yaitu penyakit liver. Dan pada tanggal 5 April 2016, beliau mengambil cuti sakit dan datang ke London untuk dirawat. Beliau sempat membaik, dengan karunia Allah, namun setelah Jalsah, beliau menderita infeksi (peradangan) di dada dan kembali jatuh sakit. Setelah itu beliau sempat sembuh, namun kemudian, beliau kembali sakit dan tidak dapat bertahan.

Menantu beliau, Tn. Maqbul Mubasyar (مقبول مبشر) mengatakan, “Almarhumah sepenuhnya bergantung kepada Allah. Beliau sangat menikmati beribadah, menyintai Al-Quran, dan juga ikhlas terhadap Khilafat. Beliau mematuhi Khalifah dengan perhatian yang begitu tinggi. Pelayanan kepada kemanusiaan dan kesejahteraan pasiennya adalah prioritas utama beliau.”

Apa-apa yang sudah diucapkan oleh menantu Almarhumah ini, saya (Hudhur atba) adalah saksi juga. Perkataannya bukanlah dibesar besarkan, namun memang pada kenyataannya, beliau memiliki sifat, karakter dan kualitas-kualitas tersebut.

“Almarhumah biasa berdoa setiap sebelum operasi bedah yang beliau lakukan. Beliau memberikan sedekah setiap hari. Beliau akan meminta doa kepada para tetua di Rabwah untuk pasien-pasien beliau. Beliau sering membayar sendiri atau sahabat dekat beliau yang membayar biaya perawatan bagi pasien-pasien yang miskin. Beliau juga sangat perhatian dan berhati-hati dengan uang Jemaat. Beliau selalu berusaha untuk membelanjakan uang Jemaat sesedikit mungkin. Beliau tidak akan membiarkan satu logam uang receh Jemaat pun yang terbuang sia sia.

Saya (Maqbul Mubasyar) bekerja di Rumah Sakit swasta di Lahore. Jadi, Dr. Nushrat Jahan akan menanyakan kepada saya berapa banyak biaya yang saya keluarkan untuk peralatan-peralatan medis tertentu? Beliau juga akan menanyakan tentang obat-obatan, dimana saya mendapatkan obat-obatan tersebut dan berapa harganya…Lantas, jika dianggap pantas, beliau akan membeli obat obatan atau peralatan yang sama dengan harga yang lebih murah dari tempat-tempat tersebut untuk Rumah Sakit Fadhl Umar.

Beliau mencintai ibu beliau dan melayani mereka dengan baik di masa sakitnya yang lama. Almarhumah merawat Ibunda beliau meskipun beliau sendiri telah lama sakit. Beliau memenuhi tanggungjawab beliau dan melayani Ibunda beliau dengan baik pula. Dengan penuh kesabaran, beliau yang juga sakit melewati hari-hari terakhirnya. Beliau dirawat di Rumah Sakit selama dua bulan lamanya. Pada hari-hari terakhir beliau, beliau ingin mendengarkan Al-Quran. Di rumah beliau juga beliau menasihati anak anak untuk disiplin shalat dan membaca Al-Quran. Setiap kali beliau melihat seorang anak melakukan perbuatan baik, misalnya membaca Quran, beliau akan sangat bahagia dan memberikan mereka hadiah dan doa-doa.

Menantu laki laki beliau, Tn. Mubasyar berkata lagi, “Ketika anak perempuan kami berusia 12 tahun, Dr. Nushrat Jahan (neneknya) mulai memberitahukan anak kami perihal Pardah. Beliau mengisahkan kisah-kisah pendek dan penting mengenai riwayat hidup istri Hadhrat Masih Mau’ud as (Hadhrat Amma Jaan) dan orang-orang yang mulia lainnya. Beliau sendiri sangat menjaga Pardah.” Jadi, jika orang tua orang tua dan orang orang yang lebih tua menasihati anak anak tentang Pardah, maka rasa malu mengenakan hijab akan berakhir dan mereka akan merasa percaya diri.

Dokter Nushrat Jahan Majoka dari Rumah Sakit Fadhl Umar menulis, “Hubungan saya dengan Nyonya Dr. Nushrat Jahan telah berlangsung selama 18 tahun. Saya bergabung di Rumah Sakit Fadhl Umar dalam departemen Ginekologi (Kandungan), segera setelah saya menyelesaikan residensi saya. Beliaulah yang melakukan seluruh training secara professional kepada saya. Beliau adalah guru yang berbakat. Beliau berkata bahwa kami akan mendapat bimbingan dari beliau dalam seluruh aspek kehidupan.

Beliau orang yang kuat dan sangat terampil. Allah Ta’ala telah mengaruniakan beliau kemampuan-kemampuan yang luar biasa. Beliau adalah anak perempuan yang taat dan peduli, juga adalah seorang Ibu yang penuh kasih. Beliau adalah guru yang disiplin, sekaligus juga penghibur, seorang saudara perempuan, dan juga adalah seorang teman. Beliau berkata bahwa selutuh hidupnya ditandai dengan pengorbanan. Pilihan-pilihan beliau sangat berbeda dari orang kebanyakan.

Almarhumah Dokter biasa berkata, ‘Saya memiliki dua anak. Yang pertama adalah anak perempuan saya, yang kedua adalah pekerjaan saya.’

Beliau tetap terus bekerja untuk kemajuan Departemen Ginekologi [penyakit-penyakit kewanitaan]. Beliau selalu siap sedia untuk pasien-pasien beliau, khususnya para pekerja Jemaat dan yang tidak mampu. Beliau sering menanyakan lewat telepon mengenai istri-istri mereka [istri-istri para karyawan Jemaat] yang tengah sakit.

Beliau selalu bersikap sayang dan sangat baik kepada para asisten beliau. Jika tidak ada pekerjaan lagi di Rumah Sakit, beliau akan mengirimi mereka makanan dari rumah. Ketika mereka dalam kondisi sulit, beliau selalu berusaha menolong mereka.”

Setiap orang yang telah menulis surat kepada saya (Hudhur atba) menyebutkan bahwa Almarhumah memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Khilafat. Dan hal ini adalah fakta bahwa ikatan beliau dengan Khilafat luar biasa.

Dr. Nushrat Jahan Majoka berkata, “Sejak tahun lalu, beliau menyertakan saya dalam hal apapun dan dalam hal penting. Beliau juga mengajarkan saya segala macam operasi bedah kandungan ginekologi. Beliau juga biasa berkata, ‘Waktu saya tinggal sedikit.’ Pada waktu tersebut, saya tidak pernah memperhatikan apa maksud sebenarnya yang beliau katakan karena beliau waktu itu masih sangat aktif. Namun sekarang setelah beliau wafat, saya sadar bahwa mungkin beliau telah mengetahui wafatnya sudah dekat karena sakitnya. Beliau telah meninggalkan kami (warga Rabwah, Pakistan). Namun, beliau telah melakukan begitu banyak hal untuk para penduduk Rabwah. Hari ini setiap mata berurai air mata dan setiap hati dilanda kesedihan.”

Saya telah menerima begitu banyak surat tentang beliau yang mengandung fakta-fakta. Ibu Dokter Amatul Hayyi, Dokter yang baru di Ghana menulis, “Pelatihan awal saya bersama Dr. Nushrat Jahan. Bahkan setelah pergi ke Ghana, saya terus berhubungan dengan beliau melalui Whatsapp dan surat elektronik (email), melalui mana beliau membimbing saya. Setiap kali saya punya masalah apapun dalam hal ginekologi, beliau akan membantu saya. Beliau akan selalu menyarankan saya untuk menulis ke Khalifah-e-Waqt untuk didoakan.

Beliau juga berkata bahwa: “Ketika saya dulu bekerja dengan Dokter Nushrat Jahan, saya sadar bahwa beliau juga mengurus hal-hal yang sangat kecil. Sebagai contoh, jika ada lampu ekstra yang nyala (tapi kurang dibutuhkan), beliau akan mematikan lampu tersebut dengan alasan jika tetap dinyalakan, uang Jemaat akan terbuang percuma. Beliau juga akan menasihati mereka yang sudah menikah agar selalu berusaha menyelamatkan pernikahan mereka. Beliau biasa berkata bahwa hubungan darah memang tidak pernah bisa diputuskan, namun hubungan antara suami dan istri adalah hubungan cinta dan kasih sayang. Jika hubungan ini hancur, maka tidak ada yang tersisa.”

Ini adalah poin yang sangat bagus yang beliau katakan, dan setiap pasangan menikah harus terus mengingatnya.

Bu Dokter Amatul Hayyi menambahkan, “Persis sebelum masuk Rumah Sakit di London, Dr. Nushrat Jahan memanggil saya untuk mengatakan kepada saya, ‘Ruangan Ginekologi yang baru telah dibuat di Rabwah. Saya tidak yakin apa bisa melihatnya. Dengan mempertimbangkan hal itu mungkin telah terlambat. Saya telah mengirimkan sebuah permintaan kepada Tn. Nazir Aala untuk meresmikannya.”

Beliau berpendapat itu karena pekerjaan Jemaat tidak boleh berhenti disebabkan anggotanya (yang sakit atau berhalangan).

Tn. Dokter Nuri, yang berwenang atas Institut Jantung Tahir di Rabwah, berkata, “Saya pernah mendapatkan kesempatan bekerja dengan Dr. Nushrat Jahan selama lebih dari 9 tahun di pavilion Zubaida Bani. Dr. Nushrat Jahan memiliki sifat dan karakteristik yang sulit untuk ditemui pada dokter-dokter zaman sekarang. Beliau saleh dan bertakwa, pendoa, memiliki nilai-nilai akhlak yang tinggi, takut kepada Tuhan, banyak berdoa untuk para pasiennya, sangat disiplin berpardah, sangat penuh ilmu pengetahuan tentang Al Quran, dan mengamalkan teladan hidup Nabi Muhammad saw dan Hadhrat Masih Mau’ud as.”

Berkaitan dengan Pardah, Almarhumah juga mengenyam kuliah di UK dan setelah lulus biasa datang ke sini untuk meluaskan ilmunya di berbagai Rumah Sakit, namun beliau selalu menutupi wajah beliau (niqab) dan mengenakan Burqa’ secara total. Sambil mengenakan Pardah beliau memenuhi segala pekerjaan beliau dan tidak membuat sesuatunya menjadi rumit. Jadi bagi para wanita yang membuat-buat alasan tidak dapat bekerja sambil mengenakan Pardah, beliau adalah contoh yang sebaliknya.

Dokter Nuri juga berkata, “Almarhumah seorang yang ahli dalam bidangnya. Beliau mengetahui perkembangan-perkembangan teknologi terbaru. Beliau sadar tren-tren terbaru dalam bidangnya dan mengimplementasikannya dalam pekerjaan beliau. Ketika bekerja, beliau tidak pernah peduli waktu dan tidak pernah menyalahgunakan fasilitas-fasilitas yang disediakan. Beliau akan mengorbankan waktu libur beliau untuk pasien-pasien serius dan akan bekerja penuh terus-menerus selama 12 jam di hari itu.”

“Saya ingat bahwa satu kali untuk sebuah kasus kelahiran yang kritis, beliau terjaga semalaman dan terus bekerja. Beliau selalu membuat para pasien beliau sadar akan segala kemungkinan hasilnya sehingga para pasien beliau mempercayai beliau sepenuhnya. Beliau sangat memegang prinsip dan memberikan perhatian penuh pada aturan-aturan dan regulasi. Beliau akan melaksanakan tanggungjawab tanggungjawab dengan kejujuran yang tinggi.”

Terkadang, orang-orang bahkan mengadu kepada saya (Hudhur atba) bahwa Dr. Nushrat Jahan sangat ketat dan keras. Beliau ketat dan keras dikarenakan aturan dan regulasi yang berlaku. Selain daripada itu, beliau sesungguhnya berhati lembut. Kedermawanan dan simpati adalah sifat sifat dan karakter karakter beliau yang istimewa.

Tn. Dr. Nuri berkata, “Seorang wanita tua yang masuk ke Institut Jantung Tahir mengisahkan sebuah peristiwa, ‘Suatu kali Almarhumah pulang ke rumah setelah bekerja dan melihat saya di Jalan Aqsa dekat Rumah Sakit. Beliau menepikan mobilnya dan berhenti. Beliau meletakkan tangannya di leher saya dan menanyakan apa yang saya rasakan saat itu. Dan kemudian langsung pada saat itu juga di sana, beliau menuliskan resep untuk saya.’”

Kemampuan berbicara padanya sangat mengagumkan juga. Ayahnya juga seorang pembicara publik yang sangat baik. Ibu Fauziah Shamim (فوزية شميم), Ketua Lajnah Imaillah Lahore, mengatakan kepada Dr. Nuri, “Setiap kali kami mengundang Almarhumah untuk berpidato kepada para Imaillah di acara kami, pidato dan kepribadiannya sama-sama memberikan pengaruh efektif pada seluruh yang hadir. Fokus pembicaraan pidato-pidatonya ialah tentang Ahmadiyah, Khilafat dan karunia-karunia Allah. Orang akan dapat melihat gambaran pidato ayahnya, Maulana Abdul Malik Khan, pada pidatonya.

Hubungannya dengan Khilafat penuh pengabdian dan ketulusan. Selama pertemuan, seminar dan bahkan selama lawatan menengok pasien, beliau akan terus mengulangi perkataan Khalifa saat ini. Pengabdian kepada Khilafat bukan lip service (pemanis bibir) belaka. Sebaliknya, tindakannya akan mengungkapkan hal yang sama. beliau adalah panutan dalam arti sebenarnya.”

Dr. Muhammad Ahmad Ashraf mengatakan, “Allah telah menganugerahkan beliau dengan firasat dan bashirat. Terkadang, saat mengobati pasien, beliau akan menunda prosedur dan kemudian keputusannya akan terbukti benar. Beliau seorang organisator yang sangat baik. Beliau memiliki kontrol penuh atas pengelolaan departemennya. Beliau sangat berprinsip dalam pekerjaannya. Beliau akan mengungkapkan sudut pandangnya dengan resolusi maksimal. Kebiasaannya untuk menyelidiki masalah secara mendalam dan akan menggunakannya sebagai pelajaran untuk masa mendatang.

Meskipun teliti pada hal-hal organisasi, beliau sangat baik dan penuh kasih untuk stafnya. Beliau akan bergabung dengan mereka dalam kebahagiaan dan kesedihan mereka. Lingkaran simpati dan kebaikan nya itu tidak hanya terbatas pada kerabat, tetangga, staf, dan pasien, tapi itu diperluas untuk para pasien dan staf kerabat mereka juga. Kami melihat semua orang mendapatkan manfaat dari kebaikan hatinya. Beliau akan membantu orang yang membutuhkan dengan dermawan. Demi menghormati harga diri mereka, beliau akan membantu mereka tanpa ada orang yang mengetahui tentang hal itu.

Dia akan selalu mengatur data arsip dengan penuh perhatian. Menurut pengetahuan saya, pada saat ini, catatan arsip Departemen Ginekologi dibawah pimpinannya paling rapi dan terjaga.”

Tn. Fudhail Iyadh, Murrabi Silsila, menulis, “Almarhumah orang yang sangat baik. Pada tahun 1989 ketika saya bertugas di Jamiah Ahmadiyah Rabwah, dan pindah ke Rabwah dengan istri dan putri saya. Bu Dokter pernah merawat istri saya. Beliau sangat baik dan penuh kasih selama perawatan. Secara khusus, beliau sangat baik untuk istri dan anak-anak saya. Empat anak saya, tiga perempuan dan satu laki-laki, semuanya lahir di Fadhl Umar Hospital di bawah asuhan Dokter Nushrat. Kami selalu mendapatinya khawatir tentang kesehatan istri saya dan anak-anak.

Ketika empat anak perempuan telah lahir di rumah kami (sepertinya seharusnya mengatakan 4 putri dan satu putra) putri ketiga kami yang berumur empat tahun pergi ke rumah Almarhumah Bu Dokter dan berkata, ‘Berikan aku saudara laki-laki juga!’ Lalu, Bu Dokter menjawab, ‘Berdoalah kepada Allah supaya Dia memberimu saudara laki-laki.’

Selanjutnya, ketika istri saya hamil lagi, Bu Dokter mendoakan untuknya dan menulis surat kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV (rhm) untuk minta didoakan dan mengatakan kepada semua kenalan untuk berdoa bagi kami juga. Akhirnya, Allah memberkati kami dengan bayi laki-laki. Ketika bayi itu lahir, beliau sendiri datang ke rumah kami, mengambil putri saya lalu ke rumah sakit, menunjukkan bayinya sembari berkata, ‘Allah Ta’ala telah menganugerahi kamu saudara laki-laki.’ Dan kemudian beliau membawa turun istri saya kembali di rumah dengan mobilnya.”

Banyak pasien non-Ahmadi datang kepadanya juga. Beliau sendiri mengatakan, “Seorang Maulvi Sahib (Bapak Kyai/Ajengan) non Ahmadi dari kota Chiniot membawa istrinya untuk pengobatan. Mereka menikah selama beberapa tahun tapi tidak punya anak. Tetapi, setelah perawatannya, Allah Ta’ala menurunkan karunianya dan istrinya mulai mengandung. Maulwi ini telah percaya penuh kepadaku sehingga sekarang saya mendapatkan kesempatan berTabligh kepadanya tanpa rasa takut atau keragu-raguan.’”

Tn. Tahir Nadim, Muballigh kita yang bertugas di bidang bahasa Arab [Arabic Desk di London] mengatakan, “Almarhumah Dokter Nushrat lebih mengandalkan doa bukan pada obat-obatan. Ketika saya datang ke London, istri saya masih di Rabwah. Istri saya dijadwalkan untuk operasi karena ada beberapa komplikasi. Ibu Dokter mengabari saya, ‘Ketika komplikasi terjadi, saya menangis dalam doa-doa saya kepada Allah, “Ya Allah, ini adalah istri dari seorang Waqif-e-Zindegi, yang suaminya sedang mengkhidmati Jemaat, kasihanilah dia.”’ Segera setelah itu, dengan karunia Allah, pendarahan berhenti dan operasi tidak lagi diperlukan.”

Tn. Tahir Nadim mengatakan tentang keramahan almarhumah terhadap para tamu, “Suatu hari saya melihatnya bersama putrinya memanggang roti dengan mentega (ala Pakistan) di Darudh Dhiyaafah (Guest House), rumah nomor 53. Para kru program bahasa Arab ‘al-Hiwar al-Mubasyar’ (dialog langsung) juga tinggal di Guest House tersebut. beliau mengatakan pada saya, “Saya membuat roti untuk semua orang Arab yang ada di sini yang tengah mengkhidmati agama untuk program ‘al-Hiwar al-Mubasyar’ sehingga saya juga dapat bergabung dalam Jihad ini dan dapat memperoleh beberapa pahala.’”

Tn. Mubasyar Ahmad Ayaz, Prinsipal Jamiah Ahmadiyah Rabwah, berbicara mengenai bagaimana Almarhumah disiplin dalam mengenakan Pardah, “Dokter kami yang terhormat ini mengenakan Burqa dan bisa dijadikan teladan dalam hal ini. Beliau terlihat fit dan aktif bekerja seperti tentara muda. (Almarhumah contoh terbaik dari perempuan berPardah sekaligus aktif melaksanakan pekerjaannya. Wanita-wanita yang mengeluh tentang mengenakan Pardah harus melihatnya untuk inspirasi.) Dr. Nushrat Jahan akan bekerja selama berjam-jam di sepanjang hari dengan rajin tanpa pernah mengungkapkan kelelahan.”

Dr. Sultan Ahmad Mubasyar (سلطان أحمد مبشر) mengatakan, “Almarhumah dulu tinggal di salah satu rumah kompleks Sadr Anjuman Ahmadiyah, di mana kami tinggal juga di rumah lainnya di komplek itu. Pada hari-hari itu suasana Rabwah sangat ramah dan tidak terlalu sibuk dalam pekerjaan. Kami saling mengunjungi satu sama lain. (Dokter Sultan adalah putra Maulana Dost Muhammad Shahid [seorang waqif zindegi, Muballigh, penulis, muarrikh/sejarawan dan pustakawan] yang bersahabat dengan Maulana Abdul Malik Khan, ayah almarhumah. Karena Maulana Abdul Malik Khan Sahib tidak punya anak laki-laki, maka Maulana Dost Muhammad Shahid Sahib telah meminta anak laki-lakinya itu untuk menanyakan tiap waktu apa keperluan keluarga Maulana Abdul Malik Khan Sahib yang jika ada maka ia yang membelikannya di pasar. Jadi kedua keluarga itu biasa berkunjung tanpa sungkan. Ia juga satu pekerjaan dengan almarhumah dan biasa menanyakan keperluan almarhumah.)

Dr. Sultan berkata, “Saya bekerja sebagai rekan di rumah sakit Fadhl Umar juga. Jika saya menyelesaikan suatu pekerjaan apa pun untuknya, tidak peduli seberapa kecil itu, beliau akan sangat bersyukur sehingga ia akan memberikan hadiah kepada saya, istri saya dan anak-anak saya.”

Beliau pergi ke Inggris setiap tahun untuk mempelajari cara-cara terbaru pengobatan dan penggunaan peralatan terbaru, guna menyinkronkan departemennya, ginekologi dengan teknik terbaru. (Dan beliau akan membayar untuk biaya perjalanan sendiri secara pribadi dan tidak akan dibebankan ke Jamaat.) Juga beliau juga akan memesan mesin-mesin baru dengan bantuan keluarganya. Beliau bekerja sangat keras untuk pembangunan sebuah ruang operasi baru di Junaij Zubaidah Bani. (tapi ia tidak bisa menggunakannya. Semoga Allah memungkinkan dokter lain untuk menggunakannya dengan benar.)

Singkatnya, departemen Ginekologi dalam Rumah Sakit Fadhl Umar dulunya hanya terdiri dari satu ruangan. Hari ini, terdiri dari banyak ruang, yang merupakan bukti hidup Dr. Nushrat Jahan ini tak kenal lelah kerja keras, tekad, dan komitmen dan gairah.

Staf perawat yang bekerja bersama almarhumah, Ibu Jamilah, mengatakan, “Saya sangat sedih dengan kewafatannya. Beliau adalah seorang dokter yang sangat bagus dan berbakat serta berakhlak luhur. Beliau memperlakukan kami dengan lembut seperti anak-anaknya sendiri. Beliau membantu pasien yangm miskin sampai-sampai soal biaya rumah sakit, dan memberikan obat dari beliau sendiri.”

Perawat lain, Ibu Musarat mengatakan, “Beliau adalah seorang guru yang penuh kasih dan seorang dokter berbakat. Saya bekerja di bawah beliau lebih dari 21 tahun. Beliau sangat penyayang, sangat sensitif (peka), dan selalu siap untuk mengulurkan tangan bantuan. Beliau adalah seorang penasehat baik untuk orang dewasa dan menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak. Beliau sangat mencintai para pasien dan selalu memberikan pelajaran moral yang tinggi dan sikap yang baik kepada semua staf dan pasien. Beliau selalu siap untuk mematuhi perintah-perintah Khalifah-e-Waqt dengan penuh perhatian.”

Salah satu pasiennya mengatakan, “Suatu kali beliau merawat saya. Mengetahui bahwa saya adalah istri seorang Waqif-e-Zindegi (Muballigh), beliau sangat perhatian baik pada saya. USG seharusnya dilakukan. beliau meminta asistennya membawa saya untuk USG saya tapi ada antrian panjang dengan tidak ada tempat untuk duduk. Seorang wanita miskin duduk di kursi saya. Asisten Almarhumah mencoba untuk mendapatkan kursi yang diduduki orang itu dan memberikannya kepada saya karena dokter itu menyuruhnya membantu saya. Dia mungkin berpikir bahwa karena saya dengan dokter itu, saya harus bisa duduk di kursi. Tapi saat itu, Bu dokter membawa dengan tangannya sendiri kursi lain dan memberikannya kepada saya serta membiarkan wanita miskin itu tetap duduk di kursinya.” (Beliau melakukan demikian supaya pasien yang miskin tidak terlukai perasaannya dengan membiarkannya duduk di kursi yang telah ia duduki. Hal demikian karena semua pasien sama kedudukannya. Namun, keadaan sakit pasien ini menuntut agar diajukan kursi untuknya duduk. Almarhumah dokter mendatangkan kursi dengan tangannya sendiri dan membuat sang pasien duduk di situ)

Dokter lain mengatakan, “Almarhumah memiliki semangat besar untuk Jamaat sebagaimana beliau juga punya perasaan penghormatan dan pengagungan terhadap Khalifah. Beliau akan menyarankan rekan-rekan dokter dan anggota staf juga untuk mengembangkan hubungan pribadi dengan Khalifatul Masih dan menulis surat sebanyak yang mereka bisa. Setiap kali beliau akan menulis surat kepada Khalifah, beliau akan meminta doa bagi kami juga.”

Dokter ini lebih lanjut menulis dalam suratnya kepada saya (Hudhur), “Setiap kali almarhumah menerima surat dari Khalifah, beliau akan membacakannya kepada kami. Kebahagiaan yang terlihat di mata dan wajahnya luar biasa. Dengan demikian, itu menambah iman kami.”

“Dengan mencurahkan hidupnya bagi Jemaat (Waqf-e-Zindegi), Almarhumah mengorbankan kenyamanan keuangan dan duniawinya. Bukan hanya itu, beliau bahkan memberikan kami, para dokter dengan contoh kehidupannya sendiri, memotivasi kami untuk melakukan Waqf dan melayani Jemaat dalam kapasitas yang berbeda. Dengan bekerja bersamanya, kami merasa terinspirasi dalam iman kami setiap hari, dan gairah Waqf menyala di hati kami.”

Tn. Abid Khan, sekretaris pers Jemaat, menulis mengenai pengabdian dan ketaatan Almarhumah untuk Khilafat, “Almarhumah pernah berkata saya, ‘Bahkan jika saya mendengar sesuatu kata-kata ‘by the way’ [ngomong-ngomong, secara sambil lalu] dari Hudhur, bukan yang secara jelas sebagai sebuah perintah, maka saya menghitungnya sebagai sebuah perintah dan berusaha mengamalkannya.” (Ini adalah tingkat tinggi ketaatannya untuk Khilafat yang ia pertahankan dengan kesetiaan dan ketaatan.)

Tn. Abid telah menulis begitu banyak cerita tentang Almarhumah, yang sulit untuk dibaca semuanya di sini pada kesempatan ini.

Seorang wanita yang rumahnya di belakang rumah sakit mengatakan, “Suatu hari saya pergi ke kantor Lajnah dari rumah saya di belakangnya. Almarhumah melihat saya dan bertanya, ‘Mau kemana?’ Saya mengatakan akan pergi untuk suatu pekerjaan Jemaat ke kantor Lajnah Imaillah. Almarhumah mengatakan kepada sopir untuk mengantar saya lebih dulu ke sana karena saya pergi untuk pekerjaan Jemaat. beliau kemudian berkata, ‘Saya menggunakan mobil Jemaat hanya untuk pekerjaan Jemaat saja.’”

Putrinya, Ayesha Nuzhat (عائشة نزهت) mengatakan, “Ibu saya adalah seorang ibu teladan dan sangat penyayang. Beliau akan selalu berdoa untuk kami. Setiap kali saya mengalami beberapa kesulitan, saya akan menelepon ibu saya, dan saya akan menjadi riang gembira. Dan kemudian dengan karunia Allah, semuanya akan menjadi baik juga. Kemudian beliau akan meminta saya untuk bersyukur atas hal itu.

Meskipun begitu banyak tanggung jawab, beliau memainkan peran penting dalam pendidikan saya. Beliau seorang wanita kuat yang mengasuh saya baik sebagai ibu dan ayah sekaligus. Kadang-kadang, ketika beliau menyadari tidak dapat memberikan cukup waktu untuk saya, ia sendiri akan cepat mengatakan, ‘Pekerjaan yang saya habiskan dalam melayani kemanusiaan (خدمة الإنسانية khidmatul insaniyyah) jauh lebih penting. Semoga Allah Sendiri mengurus kebutuhan putri saya.’

Beliau akan selalu mengatakan, ‘Kakek kamu [ayah almarhumah] mengatakan kepada saya dua hal, salah satunya ialah ketergantungan (bertawakkal) pada Allah, dan yang lain adalah ikatan dengan Khilafat. Saya menyarankan kamu hal yang sama. Selalu mengandalkan Allah dan menjaga hubungan yang kuat dengan Khilafat, dan ikatkan anak-anak kamu dengan Khilafat juga.’

Beliau biasa sangat ta’zhim terhadap Khalifah tanpa batas. Ketika beliau jatuh sakit yang terakhir dan hendak diletakkan alat bantu nafas oleh para dokter, beliau menjalankan shalat lalu membaca Al-Quran dari ponsel saya. Setelah itu, beliau meminta kertas dan pena menulis, ‘Terus mengirim surat kepada Khalifah untuk didoakan.’ Saya mendapati ibu saya tulus dan penuh dengan semangat untuk mengkhidmati Jemaat. Di rumah Sakit Fadhl Umar, ibu saya memulai pengkhidmatannya di sebuah bangunan terpisah dari Departemen Ginekologi berisi ruang konsultasi tentang penyakit kewanitaan dengan sofa di salah satu sisi ruangan, meja sederhana dan kursi di sisi lain. Paviliun kini telah menjadi sebuah unit yang sukses dengan usaha dan kerja keras Almarhum beserta stafnya. beliau akan pergi ke Lahore dan Faisalabad untuk membeli peralatan kedokteran. Saya (putri Almarhumah) menemaninya beberapa kali juga. Beliau akan mencari tahu harga penawaran dari toko-toko yang berbeda dan akan berusaha yang terbaik untuk menghemat uang Jemaat.

Suatu kali, putri saya Aliah mengunjungi Rabwah selama dua minggu, beliau mengatur pekerjaan untuknya pada departemennya. beliau mengatakan padanya untuk membantu dalam mengetik karena kecepatannya mengetik di komputer. Dengan begitu, ia melayani Jamaat dan meraih kebahagiaan. Ia menyintai pekerjaannya sehingga biasa menampakkan senyumannya tatkala menceritakan mengenai Rumah Sakit Fadhl-Umar di hari-hari terakhir sakitnya. Bahkan, selama tidak sadarkan diri, beliau akan mengigau tentang nama-nama ruang operasi Rumah Sakit dan perusahaan peralatan yang bahkan perawat Inggris akan terkejut dan akan menanyakan saya tentang hal itu.

Beliau memiliki ketawakkalan (ketergantungan) sempurna terhadap Allah. Selama periode sakit parah beliau tidak bisa berbicara. Ketika dokter memasang katup berbicara, kalimat pertama yang ibu saya katakan itu, ‘Putriku, serahkan segala urusan pada Allah.’ Dan ketika saya akan mulai menangis, beliau memberitahu saya dengan isyarat matanya untuk kembali kepada Allah.”

Semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan kepada putrinya satu-satunya; dan Semoga Allah membantunya untuk menunaikan pekerjaan sesuai saran-saran yang ibunya telah berikan kepadanya. Semoga Allah membuat harapan-harapan ibunya kepadanya terpenuhi. Semoga Allah selalu menjaga putrinya dan anak-anaknya dalam perlindungan-Nya.

Semoga Allah mengangkat status almarhumah juga. Dan semoga Allah memberikan Rumah Sakit Fadhl Umar lebih banyak dokter yang melayani dengan semangat, dan menunaikan pekerjaannya dengan ikhlas dan berpegang teguh pada Nizham Jamaat dengan setia dan taat kepada Khilafat. Semoga Allah menambahkan para dokter yang sudah berkhidmat dalam pekerjaan ini dengan sifat-sifat positif tersebut. Setelah shalat Jumat, saya akan mengimami shalat Jenazah gaib untuk dua orang yang telah meninggal ini.

Penerjemah​: Dildaar Ahmad Dartono

dari sumber referensi: http://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab) dan Ratu Gumelar http://www.alIslam.org (bahasa Inggris)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s