Kekejaman Terhadap Hewan-Hewan

Beliau memperingatkan kaum beliau terhadap kekejaman terhadap hewan dan memperingatkan agar memperlakukan hewan- hewan dengan baik. Beliau seringkali menceriterakan contoh mengenai seorang wanita Yahudi yang dihukum oleh Allah Ta’ala karena Continue reading “Kekejaman Terhadap Hewan-Hewan”

Advertisements

Pesimis

Beliau adalah musuh pesimisme atau keputus-asaan. Beliau senantiasa bersabda bahwa barangsiapa menyebarkan rasa pesimis dikalangan anggota-anggota masyarakat, ia bertanggung jawab atas kemunduran bangsa; sebab, pikiran-pikiran pesimis mempunyai kecenderungan mengecutkan hati dan menghentikan laju kemajuan (Muslim, Bagian II, Jilid 2). Beliau memberi peringatan kepada kaum beliau terhadap kesombongan dan kecongkakan pada satu pihak dan terhadap pesimis di pihak lain. Beliau memperingatkan mereka supaya menempuh jalan tengah antara kedua ekstrim itu. Orang-orang Muslim harus bekerja rajin dan tekun dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan memberkati daya upaya mereka dengan hasil yang sebaik-baiknya. Tiap- tiap orang harus berikhtiar untuk maju dan harus berusaha memajukan kesejahteraan dan meningkatkan kemajuan masyarakat, tetapi tiap-tiap orang hendaknya bebas dari perasaan sombong atau tiap-tiap kecenderungan kepada kecongkakan.

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah S.A.W oleh HM Bashirudin Mahmud Ahmad YWD

Jual-Beli Secara Terus Terang

Beliau sangat mendambakan orang-orang Muslim agar jangan mengikuti hati dalam melakukan segala bentuk kelicikan dalam transaksi atau jual-beli. Pada suatu waktu ketika beliau sedang lewat di pasar, beliau melihat setimbun gandum yang sedang dilelang. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam timbunan itu dan didapati bahwa walaupun lapisan luarnya kering, lapisan dalamnya basah. Beliau menanyakan kepada pemiliknya akan sebab-sebabnya. Orang itu Continue reading “Jual-Beli Secara Terus Terang”

Kejujuran

Seperti telah diriwayatkan, Rasulullah s.a.w. sendiri begitu tegar dalam soal kejujuran sehingga beliau terkenal di antara kaum beliau sebagai “Orang Tepercaya” dan “Orang Benar”. Begitu pula beliau sangat berhasrat agar orang-orang Muslim menjunjung tinggi nilai kebenaran seperti beliau sendiri menjunjungnya. Beliau memandang kebenaran sebagai dasar segala keluhuran budi, kebaikan, dan perilaku yang benar. Beliau mengajarkan bahwa seseorang yang Muttaqi adalah orang yang teguh memegang kebenaran sehingga ia terhitung bertakwa oleh Tuhan.
Pada suatu ketika seorang tawanan yang sudah banyak berdosa membunuh orang-orang Muslim dibawa ke hadapan Rasulullah s.a.w.. Umar yang juga hadir percaya bahwa orang ini pantas sekali dihukum mati dan memandang berkali-kali kepada Rasulullah s.a.w. mengharapkan bahwa Rasulullah s.a.w. pada suatu saat akan mengisyaratkan supaya orang itu dihukum mati. Setelah Rasulullah s.a.w. menyuruh pergi orang itu, Umar menyatakan bahwa orang itu harus dihukum mati, karena hanya itulah hukuman yang setimpal. Rasulullah s.a.w. menjawab, “Jika demikian mengapa ia tidak kaubunuh?” Umar menjawab, “Ya Rasulullah! Jika anda memberi isyarat, sekalipun hanya dengan kedipan mata, tentu aku akan melaksanakannya.” Atas itu Rasulullah s.a.w. menambahkan, “Seorang nabi tidak bertindak dengan mendua perasaan. Betapa aku dapat memakai mataku untuk memberi isyarat menjatuhkan hukuman mati kepada orang itu, sementara lidahku sedang dipakai berbicara dengan ramah kepadanya (Hisyam, Jilid 2, hlm. 217). Pada suatu waktu seseorang menghadap Rasulullah s.a.w. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai tiga kejahatan: dusta, kecanduan minum minuman keras, dan zina. Aku telah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kejahatan- kejahatan itu, tetapi tidak berhasil. Dapatkah anda mengatakan apa yang harus kuperbuat?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Jika kamu mau berjanji sungguh-sungguh kepadaku untuk melepaskan satu dari antaranya, aku jamin kamu akan terlepas dari kedua kejahatan lainnya.” Orang itu berjanji dan meminta kepada Rasulullah s.a.w. untuk diberi tahu, dosa yang mana dari ketiga macam dosa itu yang harus ditinggalkan. Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tinggalkanlah dusta.” Beberapa waktu kemudian orang itu kembali dan mengatakan kepada Rasulullah s.a.w. bahwa sesudah mengikuti nasihat beliau, ia sekarang bebas dari ketiga- tiga dosa itu. Rasulullah s.a.w. bertanya kepadanya bagaimana perjuangannya mengatasi kelemahannya, dan orang itu pun berkata, “Pada suatu hari aku ingin minum arak dan hampir-hampir kulakukan, ketika itu aku teringat akan janjiku kepada anda dan menyadari bahwa jika salah seorang dari sahabat-sahabatku menanyakan apakah aku telah minum arak, aku akan terpaksa mengakuinya, karena aku tidak mungkin lagi mengucapkan sesuatu yang dusta. Hal itu berarti bahwa aku akan mendapat nama buruk di tengah sahabat-sahabatku dan mereka akan menjauhiku di kemudian hari. Dengan pikiran demikian kubujuk diriku untuk meninggalkan minum sampai kesempatan lain, dan aku dapat menahan keinginan pada waktu itu. Demikian pula pada waktu aku cenderung berbuat zina, aku berdebat dengan diriku sendiri bahwa mengikuti hati untuk melakukan kejahatan akan menjadikanku kehilangan penghargaan sahabat-sahabatku karena aku tidak mungkin berkata dusta jika ditanya oleh mereka, dan dengan demikian membatalkan janjiku kepada anda atau aku harus mengakui dosaku. Demikian pula aku terus berjuang antara tekad menyempurnakan janjiku kepada anda dan keinginan nafsuku minum minuman keras dan berzina. Ketika beberapa waktu telah lewat, aku mulai terlepas dari mengikuti hawa nafsu dalam dosa itu dan bertekad untuk menjauhkan diri dari berdusta, itu sekarang telah membebaskanku dari kedua kejahatan lainnya juga.”

Sumber: Riwayat Hidup Rasulullah S.A.W oleh HM Bashirudin Mahmud Ahmad YWD Continue reading “Kejujuran”

Kesabaran Dalam Kesusahan

Rasulullah s.a.w. biasa bersabda, “Untuk seorang Muslim, kehidupan ini sarat dengan kebaikan dan tidak ada orang lain kecuali orang beriman merasakan dirinya dalam keadaan ini sebab jika ia berjumpa dengan kesenangan, ia bersyukur kepada Tuhan dan menjadi orang yang menerima lebih banyak rahmat dan berkat dari Dia. Sebaliknya, jika ia menderita kesusahan atau kemalangan, dipikulnya penderitaan dengan sabar dan dengan demikian lagi-lagi ia menjadi orang yang Continue reading “Kesabaran Dalam Kesusahan”