Peraturan-Peraturan Rasulullah Tentang Peperangan

Tetapi, ajaran Islam tidak hanya terbatas pada hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Ajaran Islam mencakup juga peraturan-peraturan dan teladan yang diperagakan oleh Rasulullah s.a.w., atau apa yang diajarkan oleh beliau dalam keadaan-keadaan yang pasti merupakan bagian yang penting dalam ajaran Islam. Di sini kami tambahkan beberapa hadits mengenai masalah perang dan damai.
1. Kaum Muslimin sama sekali dilarang mencacati mayat (Muslim). 

2. Kaum Muslimin dilarang tipu-menipu (Muslim). 

3. Anak-anak tidak boleh dibunuh, begitu pula wanita (Muslim). 

4. Pendeta-pendeta dan pejabat-pejabat tugas keagamaan serta pemimpin- 
pemimpin keagamaan tidak boleh dicampurtangani (Tahawi). 

5. Orang-orang tua dan lemah serta wanita-wanita dan anak-anak tidak boleh 
dibunuh. Kemungkinan damai senantiasa harus diperhatikan (Abu Daud). 


6. Jika kaum Muslimin masuk di daerah musuh, mereka tidak boleh berbuat sewenang-wenang terhadap khalayak penduduk. Mereka tidak boleh 
mengizinkan perlakuan tidak baik terhadap rakyat jelata (Muslim). 

7. Bala tentara Muslim tidak diperkenankan berkemah di suatu tempat yang bisa menyebabkan timbulnya rasa gelisah pada khalayak umum. Apabila bala tentara itu bergerak, hendaknya berhati-hati agar jangan membendung jalan, begitu pula jangan menyebabkan adanya keresahan pada pemakai- 
pemakai jalan lainnya.
8. Mencacati muka orang tidak diperkenankan (Bukhari dan Muslim)
9. Kerusakan dan kerugian yang ditimpakan kepada musuh harus ditekan sampai sekecil-kecilnya (Abu Daud).
10. Jika tawanan-tawanan perang ada dalam penjagaan, keluarga-keluarga dekat harus ditempatkan bersama-sama (Abu Daud). 

11. Tawanan-tawanan hendaknya hidup nyaman, kaum Muslimin harus lebih memperhatikan kenyamanan tawanan-tawanan mereka dari pada kenyamanan mereka sendiri (Tirmidhi). 

12. Duta-duta atau delegasi-delegasi dari negeri-negeri lain harus dihormati. Kesalahan-kesalahan atau kekurangan tata krama mereka harus ditenggang (Abu Daud, Kitab AI-Jihad). 

13. Jika orang-orang Muslim berdosa memperlakukan dengan cara buruk seorang tawanan perang, penebusannya ialah harus membebaskan tawanan itu tanpa memungut uang tebusan. 

14. Jika seorang Muslim menjamin hidup seorang tawanan perang, maka tawanan itu harus diberi makan dan pakaian yang sama seperti orang Muslim itu sendiri (Bukhari). 
Rasulullah s.a.w. begitu mementingkan peraturan-peraturan itu 

untuk ditaati oleh angkatan perang yang sedang bertempur sehingga beliau menyatakan bahwa barangsiapa yang tidak mengindahkan peraturan itu, ia bukan berperang untuk Tuhan, melainkan untuk kepentingan sendiri (Abu Daud).
Abu Bakar r.a., Khalifah Pertama Islam, menambah peraturan- peraturan Rasulullah s.a.w. tersebut dengan beberapa peraturan dari pihak beliau sendiri. Salah satu dari peraturan-peraturan yang ditambahkan itu juga merupakan bagian dari ajaran Islam:
(i) Bangunan-bangunan umum dan pohon-pohon buah (dan tanaman-tanaman pangan) tidak boleh dibinasakan (Mu’atta).
Dari hadits-hadits Rasulullah s.a.w. dan perintah-perintah Khalifah Pertama Islam itu jelas bahwa Islam telah menetapkan langkah- langkah yang bertujuan untuk mencegah atau menghentikan peperangan atau mengurangi dampak buruk perang. Seperti telah kami katakan sebelum ini, prinsip-prinsip yang diajarkan Islam bukan saja merupakan peraturan-peraturan yang suci; prinsip-prinsip itu telah dilukiskan dalam sunnah Rasulullah s.a.w. sendiri dan Khalifah-Khalifah Islam dari zaman permulaan. Seperti diketahui oleh seluruh dunia, Rasulullah s.a.w. bukan hanya mengajarkan prinsip-prinsip ini; beliau sendiri mengamalkan prinsip-prinsip ini dan menganjurkan supaya mentaati prinsip-prinsip ini. Memperhatikan zaman kita sendiri, kita terpaksa mengatakan bahwa tidak ada ajaran lain agaknya yang sanggup memecahkan persoalan perang dan damai. Ajaran Nabi Musa a.s. jauh dari konsepsi kita mengenai keadilan dan kejujuran. Pula, tidak mungkin dewasa ini kita dapat bertindak atas dasar ajaran itu. Ajaran Nabi Isa AI-Masih a.s. tidak dapat dipraktekkan dan selamanya tidak akan pernah dapat dipraktekkan. Tidak pernah ada dalam sejarah umat Kristen mereka berusaha mempraktekkan ajaran itu. Hanya ajaran Islam yang dapat dipraktekkan, suatu ajaran yang telah dan selalu diajarkan serta diamalkan oleh tokoh- tokohnya, dan dengan mengamalkannya dapat mewujudkan serta memelihara perdamaian di dunia.
Di zaman kita ini, Gandhi rupa-rupanya mengajarkan bahwa sekalipun bila kita dipaksa berperang, kita tidak boleh berperang. Kita tidak boleh berkelahi. Tetapi ajaran ini belum pernah dipraktekkan di masa mana pun dalam sejarah dunia; belum pernah diuji atau dicoba. Oleh karena itu, tidak mungkin dapat kita katakan bahwa bagaimana nilainya pelajaran ini dalam urusan peperangan dan perdamaian* . Gandhi telah berusia cukup panjang menyaksikan Kongres India mencapai kemerdekaan politik. Walaupun demikian Pemerintah Kongres belum juga membubarkan angkatan perangnya maupun angkatan- angkatan bersenjata lainnya dari India. Pemerintah hanya merencanakan urusan Indianisasi-nya. Direncanakannya juga untuk mengangkat kembali opsir-opsir India yang membentuk diri menjadi Angkatan
* Kitab ini ditulis ketika India baru memperoleh kemerdekaan. Memang pada waktu itu belum timbul suatu situasi untuk menguji ajaran Gandhi. Tetapi sesudah itu dunia telah berkali-kali menyaksikan bahwa India tidak pernah segan-segan memulai peperangan agresi bila terdapat kesempatan untuk berbuat (Red).
Bersenjata Nasional India (dan yang dipecat oleh para pembesar Inggris) di masa penjarahan Jepang ke Burma dan India pada tahap-tahap terakhir Perang Dunia yang lalu. Gandhi sendiri, dalam beberapa peristiwa, telah memperdengarkan suaranya membela kejahatan-kejahatan dan kekerasan, dan meminta dengan keras untuk membebaskan mereka yang melakukan kejahatan-kejahatan demikian. Hal itu sedikitnya memperlihatkan bahwa pelajaran Gandhi tidak dapat dipraktekkan dan, bahwa Gandhi serta semua pengikutnya juga mengetahui hal itu. Tidak ada contoh amal telah dikemukakan untuk membuktikan kepada dunia, bagaimana politik non-violence (anti kekerasan) dapat diterapkan jika perkelahian bersenjata timbul antara bangsa dengan bangsa, dan negara dengan negara, atau bagaimana politik non-violence dapat mencegah atau menghentikan perang. Mengajarkan suatu cara menghentikan peperangan, tetapi tak pernah mampu mengemukakan gambaran mengenai pengamalan cara itu, menunjukkan bahwa cara itu tak dapat dipraktekkan. Oleh karena itu, agaknya pengalaman dan kebijaksanaan manusia mengacu hanya kepada satu cara pencegahan atau penghentian perang; dan cara itu telah diajarkan dan diamalkan oleh Rasulullah s.a.w.

Sumber: Riwayat Hidup Rasullah S.A.W oleh HM Bashirudin Mahmud Ahmad YWD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s